Beranda INSPIRASI Mengungkap Langkah Prabowo-Amin Rais Saat Kerusuhan Mei

Mengungkap Langkah Prabowo-Amin Rais Saat Kerusuhan Mei

0

Prabowo Subianto

kupasbengkulu.com – Saat pusaran kisruh 1998 keduanya saling berhubungan. Reformasi memang tak bisa dilepaskan dari sosok Amien Rais. Saat itu Amien adalah tokoh Muhammadiyah, sementara Prabowo menjabat Panglima Kostrad dengan pangkat letnan jenderal.

Saat reformasi bergulir, Amien Rais mencapai puncak popularitasnya. Dia kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional. Sementara 1998 menjadi akhir karir Prabowo Subianto. Dia diberhentikan dari dinas militer.

Di sisi lain, Prabowo pun dijauhi keluarga Cendana. Menantu Soeharto ini dianggap tak loyal dengan mendukung reformasi dan sering bertemu tokoh-tokoh penentang Soeharto seperti Amien Rais.

1. Aksi Bela Sungkawa Mahasiswa
Empat mahasiswa Trisakti tewas tertembak tanggal 12 Mei 1998. Ini menjadi titik awal kebangkitan Reformasi 1998.

Keesokan harinya, diadakan mimbar keprihatinan di kampus tersebut. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Ali Sadikin, Hariman Siregar dan tokoh-tokoh penentang Soeharto lain. Kedatangan mereka disambut para mahasiswa.

Saat itulah Amien Rais diwawancarai wartawan luar negeri. Tokoh Muhammadiyah ini menyampaikan rakyat Indonesia meminta Soeharto mengundurkan diri.

Tewasnya para martir ini juga membuat kerusuhan di Jakarta meluas. Massa yang tak diketahui dari mana bergerak membakar dan menjarah pertokoan. Mereka menghentikan kendaraan dan membakarnya. Jakarta mencekam kala itu. Asap hitam tebal membumbung ke langit.

2. Pertemuan 14 Mei di Kostrad
Sekitar 50 aktivis menggelar pertemuan di Markas Kostrad 14 Mei 1998. Amien Rais, Adnan Buyung Nasution, Ali Sadikin, Faisal Basri, Bambang Widjojanto dan Arifin Panigoro beberapa di antaranya. Mereka kemudian membentuk Majelis Amanat Rakyat (MAR).

MAR menyerukan Soeharto untuk mengundurkan diri. Amien Rais meminta Soeharto lengser sesuai konstitusi demi kepentingan bangsa dan agar proses reformasi bisa berjalan.

Pertemuan Prabowo dengan sejumlah aktivis ini kemudian disimpulkan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sebagai pertemuan untuk makar. TGPF menilai pertemuan ini juga berkaitan dengan kerusuhan di Jakarta.

Anak buah Prabowo, Fadli Zon, membantah tudingan TPGF itu. Dia menilai pertemuan sama sekali tak berkaitan dengan makar dan kerusuhan di Jakarta. Fadli menilai laporan itu hanya akal-akalan untuk menjadikan Prabowo kambing hitam.

“Saya hadir dalam pertemuan tersebut. Tuduhan merancang kerusuhan jelas fitnah besar. Pertemuan itu hanya silaturahmi dan diskusi tanpa rencana. Dilakukan malam hari 14 Mei setelah Magrib, digagas Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Rendra, Bambang Widjojanto dan lain-lain. Prabowo menyampaikan informasi mutakhir situasi. Para tokoh yang hadir membantah hasil laporan TPGF. Bagaimana merancang kerusuhan, padahal huru hara sudah terjadi,” kata.

3. Lewat Prabowo, Amin Rais Minta Soeharto Mundur

Tanggal 18 Mei 1998, Amien Rais kembali bertemu dengan Prabowo. Mereka membahas perkembangan situasi saat itu. Kerusuhan meluas, aksi mahasiswa dan masyarakat meminta Soeharto mundur semakin besar.

Saat itu Prabowo adalah menantu Soeharto. Amien Rais berkata pada Prabowo bahwa Soeharto harus mundur demi kebaikan bersama.

“Saya rasa keadaan sudah tidak tertahan lagi. Saya rasa kamu harus meyakinkan Soeharto untuk mundur,” kata Amien.

Tak cuma Amien Rais, Prabowo pun menemui tokoh-tokoh yang saat itu dianggap berseberangan dengan Soeharto. Misalnya ke kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Pada saat itu, Prabowo menjelaskan soal kerusuhan di Jakarta. Dia memberi jaminan jika kerusuhan bisa segera dipadamkan.

4. Prabowo Dimusuhi Keluarga Cendana

Manuver Prabowo bertemu para tokoh penentang Soeharto seperti Amien Rais, Adnan Buyung Nasution dan Gus Dur, dipermasalahkan Keluarga Cendana. Mereka merasa Prabowo berkhianat karena dianggap mendukung gerakan reformasi yang memaksa Soeharto lengser.

Prabowo juga menemui Habibie, meminta wakil presiden ini bersiap untuk menggantikan Soeharto jika lengser.

Soeharto rupanya mencium aktivitas Prabowo. Dia kecewa dengan sikap menantunya itu. Dalam sebuah pertemuan dengan para petinggi militer, Soeharto sama sekali tak menghiraukan kehadiran Prabowo. Prabowo pun sadar dia mulai tak disukai Soeharto.

Puncaknya Prabowo diusir putri-putri Soeharto. Dia dianggap sebagai pengkhianat. Hubungan mereka memburuk sejak itu.

Prabowo sendiri mengaku tak pernah ingin menjatuhkan Soeharto. Dia mengaku apa yang dilakukannya hanya bertujuan untuk meredam kerusuhan di Jakarta.

5. Aksi Monas

Berbagai permintaan untuk mundur dianggap sepi oleh Soeharto. Janjinya untuk me-reshuffle kabinet dan mempercepat Pemilu, dianggap hanya akal-akalan untuk mengulur waktu.

Menanggapi hal itu, Amien Rais berniat menggelar long march ke Monas untuk memperingati hari kebangkitan nasional 20 Mei 1998. Jumlah peserta pada kala itu diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.

Pemerintah berusaha menggagalkan aksi itu. Tanggal 18 Mei, tentara sudah bersiap di sekitar Monas dengan panser dan kawat berduri.

Panglima ABRI Jenderal Wiranto ikut mengimbau agar longmarch itu tak jadi dilakukan. Wiranto menyampaikan kerusuhan masih bisa terjadi, tak perlu aksi-aksi yang berpotensi kembali menyulut kerusuhan.

“Bagi pihak yang ingin menghasut, mendorong rakyat untuk bertindak anarkis, saya serukan agar memikirkan dan menghentikan kegiatan ini,” kata Wiranto.

Melihat situasi tak memungkinkan, Amien Rais membatalkan aksi long march ke Monas. Dia kemudian menggelar aksi di Gedung DPR/MPR yang sudah dikuasai mahasiswa.

Sumber: merdeka.com