oleh

Menimbang Investasi Kesehatan Bangsa di Antara Para Capres

-Tak Berkategori
Zulkfikri Rambe
Zulkfikri Rambe

Oleh: Zulkifri Rambe*

Lama-lama tak tahan melihat “demokrasi” yang sedang berlangsung, kampanye capres belum sebulan ternyata sangat membosankan. Bukan masalah dukung mendukung, bukan masalah siapa yang kusuka, bukan siapa yang paling pas di hati. Melainkan keraguan, apakah benar kedua pasangan capres cawapres benar-benar pemimpin yang layak kita pilih.

Masalah pilihan bisa saja kita “ngikut” suami/istri, bisa juga lihat wajah atau gayanya, bisa juga manut orang tua bahkan pacar, ada juga yang nunggu fatwa pemimpin agama.

Semuanya bisa menghasilkan fanatisme buta, padahal beberapa bulan lalu mungkin kita orang paling cuek dengan nasib bangsa. Saat ini tiap orang punya kesempatan menjadi jurkam instan capres walaupun sekedar sharing berbagai tulisan yang gak jelas kebenarannya.

Media telah menjadi tuntunan kita dalam berpolitik bahkan susah dibedakan mana kebenaran, fitnah, kampanye hitam atau justru analisis yang tajam dan adil. Seakan anak bangsa ini tidak boleh melakukan penilaian obyektif.

Kampanye pilpres di negeri ini masih sebatas “superfisial” mencari sensasi dan berharap dukungan untuk sebuah kemenangan. Kemenangan dalam arti sempit masih menjadi prioritas bangsa ini, belum untuk sebuah kemenangan yang hakiki dalam bernegara yaitu memiliki pemimpin yang amanah, memberikan suri tauladan yang baik, bersikap adil dan berani bertanggung jawab atas segala permasalahan bangsa.

Siapa Presiden Pilihan Dokter Indonesia ?
Saya yakin dokter Indonesia tidak mungkin dapat memisahkan antara pilihan pribadi ataupun demi kepentingan profesi. Kalau toh harus memilih satu diantaranya tentu adalah pilihan sulit karena selain punya kepentingan pribadi, semestinya dokter adalah salah satu profesi yang memiliki potensi untuk berpikir & bertindak kritis demi sebuah perbaikan. Dari sekedar berpendapat, reformasi bahkan revolusi dibidang kesehatan dapat dilakukan bila dokter bersatu menjadi sebuah kekuatan.

Tidak ada gunanya para dokter menguras energi “hanya” untuk mendukung capresnya walau belum ada janji apalagi bukti bahwa kedua pasangan tersebut memang bersaing dengan mengusung “sektor kesehatan” dengan BENAR bukan sekedar menjadikan kesehatan sebagai ladang eksploitasi politis & ekonomi nantinya.

Bagaimanapun juga sebagai pribadi maupun profesional dokter juga sangat terkait dengan program kesehatan yang memang pasti akan dijalankan presiden terpilih.

Bagaimana kesehatan nantinya dijalankan sampai bagaimana tenaga kesehatan mendapatkan penghidupan yang layak tentunya akan menjadi topik yang menarik dan semestinya kita pertanyakan.

Apakah cukup kesehatan diperhatikan melalui berbagai program kesehatan gratis ? Mungkinkah menaikkan pendapatan tenaga kesehatan dengan keterbatasan anggaran kesehatan ?

Saya masih berpikir semua calon belum menyentuh akar masalah kesehatan. Tidak ada kesehatan murah apalagi gratis, kecuali hanya untuk pencitraan sesaat.

Begitupula menaikkan gaji tenaga kesehatan bukan hal yang mudah karena pasti terkait dengan berbagai aturan dan kebijakan sistem penggajian dan ketersediaan anggaran. Bagaimana mereka para kandidat benar-benar tertarik dengan masalah kesehatan ?

Kembalinya dokter Indonesia menjadi pionir perbaikan sistem kesehatan Indonesia, profesi dokter tidak boleh berlepas diri dengan menganggap mereka para politikus sudah sangat paham, memperhatikan dan punya komitmen jelas terhadap masalah kesehatan.

Dokter harus memberikan politik tawar tingkat tinggi terhadap perubahan yang lebih baik di bidang kesehatan dan semestinya IDI dan PDGI memiliki peluang yang besar sebagai satu-satunya organisasi profesi yang memiliki kekuatan anggota cukup besar dan profesional.

Dagelan Nasional
Saya cemburu luar biasa ketika menyaksikan Dialog Kadin dengan Capres Cawapres bahkan ada pasangan dengan mudahnya langsung berani menandatangani kesepahaman dengan organisasi korporasi yang di bidang kesehatan sedang melakukan manuver berbahaya terhadap kedaulatan bangsa bernama “Health Industry” yang membuka peluang investasi dan dokter asing “bermain” di negeri kita hingga suatu saat sektor riil kesehatan sebagaimana sektor lain dikuasai kapitalis asing.

Bukan hal yang aneh ketika para kandidat begitu mudahnya memahami kebutuhan para pelaku ekonomi “besar” selain karena mereka sendiri (kandidat) suka berinvestasi alias pengusaha dan bukan rahasia lagi para pengusaha termasuk pengusaha hitam selalu membantu “proses demokrasi” dan berpotensi menjadi bayang-bayang hitam yang membebani presiden terpilih nantinya.

Beda sekali dengan profesi dokter, seakan-akan tidak punya nilai tawar terhadap kandidat presiden. Ketika dokter diperlukan, modus pengabdian selalu menjadi alasan menjerat para dokter.

Para pemimpin organisasi profesi ini seakan hanya mencari posisi aman agar siapapun presidennya mereka tetap dapat “terlibat” dalam pengambilan keputusan.

Alasan strategi diplomasi pernah disampaikan kepada saya padahal apa artinya kesehatan tanpa peran dokter. Apakah politisi ini siap jika para dokter meninggalkan dukungan riilnya terhadap kebijakan kesehatan, bukan hal yang aneh lagi setelah 20 Mei 2013 dokter Indonesia turun ke jalan bila idealisme profesinya tidak diperhatikan.

Kalau alasan para pemimpin organisasi profesi ini adalah netralitas tentunya sangat aneh karena bukan dukungan terhadap salah satu capres yang akan kita berikan tapi nilai tawar tinggi bagi sebuah profesionalisme di bidang kesehatan yang dibutuhkan rakyat dan merupakan modal ketahanan nasional.

Bagi oportunis “takut tidak dapat kursi” lebih rasional daripada keberanian mempertahankan idealisme.

Mencontoh sikap Kadin, atas nama investasi bagi pembangunan bangsa apapun mereka lakukan padahal sebenarnya mereka lebih menyelamatkan korporasinya.

Kadin telah siap pada tahap strategi operasional ketika berhadapan dengan penguasa. Kemudahan-kemudahan, prioritas bahkan kadang simulasi bisnis yang cenderung KKN mereka minta tanpa rasa takut karena mereka punya nilai tawar.

Bagi sebagian besar dokter melakukan perjuangan demi profesionalisme telah menjadi hal yang tabu sekaligus menunjukkan begitu lemahnya profesi ini berhadapan dengan penguasa.

Bagaimana Kesehatan dan Profesi Dokter Kembali Dilirik Penguasa ?
Adalah tantangan kita bersama mewujudkan hal tersebut. Kalau memang para kandidat pemimpin tertinggi bangsa merasa tidak perlu mencari masukan apalagi berdiskusi dengan tenaga kesehatan terutama dokter jangan salahkan mereka karena sesungguhnya yang mereka butuhkan sekedar dukungan suara agar terpilih.

Kalaupun nantinya kita secara pribadi sudah memilih semoga bukan sekedar karena fanatisme tanpa dasar, juga bukan karena janji-janji kampanye.

Kalaupun selama hiruk pikuk pilpres kita saling mencari perbedaan demi pilihan kita, saatnya nanti kita harus bersatu untuk menagih janji-janji mereka.

Siapapun terpilih sebagai pemenang, profesi dokter harus bersiap mendukung perubahan sistem kesehatan yang lebih baik. Kalau presiden terpilih ingkar janji dan tidak paham dengan mindset kesehatan maka kita harus siap berhadapan dengan penguasa.

Bukan tidak mungkin nantinya presiden terpilih akan mengundang DIB untuk berdiskusi walaupun sebenarnya DIB lebih berharap mereka yang terpilih benar-benar menjalankan sistem kesehatan yang berkeadilan sesuai yang mereka janjikan saat kampanye.

Moga-moga negeri ini tidak sedang memainkan lakon dagelan. Sekali lagi tulisan ini bukan dalam rangka mendukung atau menolak capres tertentu tapi lebih mengingatkan bahwa para kandidat pilpres hingga saat ini belum memiliki komitmen jelas dalam bidang kesehatan, belum melihat kesehatan secara utuh sehingga terkesan sektor kesehatan hanya menjadi beban sekaligus pencitraan politis.

Dokter dan penggiat kesehatan harus bekerja keras tanpa putus asa membuka hati mereka hingga sadar kesehatan adalah investasi bagi kemajuan bangsa. Bangkit dan bersatulah dokter Indonesia.

Optimisme harus selalu didampingi semangat untuk terus istiqomah.

*Penulis adalah dokter di Bengkulu