oleh

Meninggalkan Kampung Halaman (1953-1960) (Bagian II)

Biografi Ichwan Yunus

Drs. H. Ichwan Yunus CPA MM.
Drs. H. Ichwan Yunus CPA MM.

Terjebak dalam Rutinitas

Karena jauh sebelum ujian SD Ichwan sudah pernah mengemukakan niatnya untuk melanjutkan studi kepada orang tuanya.  Kedua  orang tuanya sendiri ketika itu tidak menyuruh dan tidak pula melarang, dengan catatan jika nanti ia melanjutkan studinya, maka ia harus siap prihatin karena keterbatasan kemampuan orang tuanya. Maka setelah saat itu tiba tidak kesulitan bagi Ichwan untuk mendapatkan restu dari orang tua dan saudara-saudaranya. Setelah semua persiapan rampung, maka berangkatlah Ichwan bersama beberapa orang temannya untuk kedua kalinya ke Bengkulu. Jika kepergian pertama Ichwan bersama-sama dengan temannya ke Bengkulu hanya untuk beberapa saat, maka kali ini ia pergi untuk waktu yang lama, entah kapan akan kembali lagi.

Setibanya di Bengkulu, Ichwan langsung menuju rumah familinya yang bernama Nurbaini yang menikah dengan Hanafi.  Keduanya berasal dari Mukomuko. Hubungan kekeluargaan Ichwan dengan Nurbaini dari segi nasab tergolong sangat dekat.   Nurbaini adalah adik kandung ibunya Ichwan, dalam bahasa Indonesia disebut tante, atau bibi menurut bahasa Bengkulu. Nurbaini sendiri hanyalah ibu rumah tangga yang mengikuti suaminya yang bekerja sebagai perawat kesehatan di Bengkulu.

Setelah beberapa hari istirahat sambil belajar beradaptasi dengan suasana kehidupan yang sama sekali asing baginya, barulah Ichwan mendatangi sekolahan tempat ia akan menuntut ilmu. Tidak ada kesulitan bagi Ichwan dalam memilih sekolahan, karena Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) adalah satu-satunya sekolah yang ia tuju setelah mendapatkan informasi dari guru, sanak famili dan handai tolan.  Selain itu Sariani, kakak perempuannya yang sudah terlebih dulu belajar di SGB Bengkulu yang mengetahui keberadaan sekolahan tersebut. Sungguh pun demikian, bukan berarti pilihan SMEP bagi Ichwan karena diarahkan, apalagi disuruh orang di luar dirinya.  Pilihan itu murni dari dirinya sendiri. Tentu saja banyak perbedaan antara suasana kehidupan di Bengkulu dibanding suasana kehidupan di desa. Walaupun Bengkulu ketika itu masih tergolong tertinggal, belum ada gedung-gedung pemerintahan, belum ada jalan protokol dua jalur, lampu jalan yang gemerlapan, jalan Suprapto sebagai paru-paru kota, apa lagi mall sebagai pusat perbelanjaan modern seperti sekarang ini.  Namun perbedaan jelas sangat jauh dibandingkan dengan kampung halaman Ichwan.

Di Bengkulu, Ichwan untuk pertama kalinya menyaksikan Benteng Pertahanan yang kokoh nan megah, dan nisan-nisan kuburan yang aneh peninggalan Inggris. Dan banyak lagi pemandangan-pemandangan lain yang betul-betul asing bagi Ichwan. Namun itu semua tidaklah membuatnya kagum lantas terlena atau membuat lchwan terasa kesulitan adalah kebiasaan hidup sehari-hari di tempat tinggalnya yang baru.

Ichwan tidak lagi akrab dengan beruk dan kambingnya, dia tidak lagi berpikir untuk memasang bubu tatkala mendung pertanda hujan akan tiba. Dia tidak lagi bermain sepak bola yang terbuat dari getah karet alam buatan sendiri. Ichwan sekarang adalah seorang remaja kecil yang merantau jauh dari kampung halaman,  jauh dari tatapan orang tua. Dipundaknya terpikul beban dan tanggung jawab yang berat demi sebuah cita-cita untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

Pada awal-awal memasuki kehidupan baru sebagai pelajar sekaligus sebagai pembantu rumah tangga di rumah bibinya sendiri, dijalani Ichwan dengan suka cita. Setiap hari Ichwan menjalankan aktivitasnya mulai dari harus bangun subuh dan segera menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti membantu memasak, mencuci,membersihkan dan merapikan rumah.
Setelah semuanya selesai barulah ia mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah dengan berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah kediamannya. Sepulang sekolah bukannya mengganti pakaian, makan siang, kemudian bermain seperti anak-anak yang lain.  Namun ia sudah dihadapkan pada bermacam pekerjaan rumah tangga, sesekali Ichwan juga harus mencuci pakaiannya sendiri. Pekerjaan yang cukup berat untuk anak seusia dia adalah mengangkut air bersih untuk keperluan rumah tangga pada setiap pagi dan sore hari dari sumur ke rumah.  Untuk mendapatkan air bersih, ia harus  menempuh jarak lebih kurang 200 meter melalui jalan setapak yang cukup curam. Lain halnya dengan Ichwan, karena sudah terlatih disiplin dan kerja keras dan didorong oleh keinginan yang kuat untuk tidak mengecewakan majikannya, maka ia jalani seolah tanpa merasakan beratnya pekerjaan.

Memasuki bulan ketiga di Bengkulu. Ichwan Yunus muda mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar tempat ia tinggal.  Ia memiliki banyak teman dan akrab dengan teman-teman sekolah.  Saat itu naluri kekanak-kanakannya mulai bangkit. Ia pun tidak bisa menahan keinginannya untuk bermain dan aktif berolah raga. Kegemaran berolahraga ini sudah terbentuk sejak kecil di kampung halamannya, kendati pun dengan berbagai keterbatasan, mulai dari alat atau media olah raga sampai pada tehnik bermainnya. Hampir semua olah raga yang biasa dimainkan saat itu digemari oleh Ichwan. Namun yang paling ia gemari adalah sepak bola, volly ball. Setiap sore Ichwan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berolah raga bersama kawan-kawan sepermainannya.

Demikian, memasuki bulan ke enam sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Bengkulu, Ichwan semakin larut dalam rutinitas pekerjaan rumah tangga, sekolah dan bermain sambil berolah raga. Ingatan terhadap orang tua, keluarga, teman-teman sepermainan di kampung halamannya semakin hilang, digantikan oleh kesibukan menjalankan rutinitas kesehariannya.

Sebagai remaja kecil yang masih dalam masa pertumbuhan, tanpa ditunjang dengan gizi yang cukup, rupanya lama kelamaan Ichwan mulai kewalahan menjalani ketiga rutinitas di atas. Tanpa ia sadari salah satu tugas pokoknya mulai terabaikan, yaitu sekolah. Disela-sela pekerjaan rumah tangganya, terutama siang sampai sore hari sepulang sekolah, ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatannya untuk bermain dan berolahraga bersama dengan teman-temannya. Praktis pada malam hari yang seharusnya dipergunakan untuk belajar atau mengulangi pelajaran di sekolah tidak bisa berbuat apa-apa. Hal ini disebabkan rasa lelah dan letih dan tidak kuasa menahan kantuk.

Sekalipun lchwan tidak pernah mengeluh, lama kelamaan ia mulai merasakan terbebani oleh pekerjaan yang  harus diselesaikannya setiap hari. Bukan karena beratnya pekerjaan, tetapi lebih pada beban psichologis karena terjebak pada rutinitas dan keharusan menyelesaikan pekerjaan. Dibanding pekerjaan yang dilakukannya ketika ia masih berada di sisi orang tuanya. Betapa pun beratnya pekerjaan yang dilakukannya ia tidak merasa terbebani oleh keharusan menyelesaikannya. Ia selalu mengerjakannya dengan sukarela dan juga tidak terlalu dibebani oleh rutinitas. Sekarang betul-betul berbeda, jangankan tidak menjalankan hal-hal yang sudah menjadi rutinitasnya. Terlambat sedikit atau kurang sempurnanya pekerjaan saja, sudah dibebani rasa bersalah yang luar biasa.

Memang keluarga tempat ia tinggal secara langsung tidak pernah memperlakukan lchwan dengan tidak baik, seperti menyuruh dengan paksa, intimidasi atau bentuk-bentuk penekanan yang lain. Namun karena lchwan menyadari betul bahwa sekarang ini ia cuma menumpang hidup di rumah orang sekalipun masih keluarga dekatnya maka wajar saja kalau ia harus berhati-hati jangan sampai mengecewakan orang yang punya rumah tempat ia menggantungkan hidup.  Apalagi jika ia mengingat kampung halamannya nan jauh di sana, kepada siapa lagi tempat ia mengadu. Perasaan takut bersalah inilah yang selalu membayangi kehidupan lchwan pada paroh tahun pertama keberadaannya di Bengkulu.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis   : Khairuddin Wahid
Judul      : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit : LPM Exsis
Cetakan  : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed