oleh

Meninggalkan Kampung Halaman (1953-1960) (Bagian II)

Biografi Ichwan Yunus

Drs. H. Ichwan Yunus, CPA, MM.
Drs. H. Ichwan Yunus, CPA, MM.

Belajar dari Kegagalan
Ichwan tidak begitu menyadari kalau telah terjadi ketidakseimbangan porsi perhatian terhadap ketiga rutinitas seperti tersebut di atas. Ketidakseimbangan atau ketidakadilan itu terjadi justru pada tugas utamanya yaitu sekolah. Perhatiannya terhadap sekolah semakin menipis, bukan hanya dari aspek keseriusan dalam belajar di kelas atau mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah, tapi Ichwan pun sudah mulai sering terlambat, bahkan sering juga tidak masuk sekolah sama sekali. Di mata guru dan teman-temannya, sebenarnya Ichwan adalah pribadi yang menyenangkan. Ia seorang sosok periang, familiar, humoris dan perhatian. Tidak heran kalau menurunnya semangat belajar Ichwan yang berdampak pada buruknya prestasi belajar di kelas, tidak luput dari pengamatan guru-gurunya.

Sering ia dipanggil kemudian diberi nasehat dan motivasi oleh gurunya. Begitupula dengan teman-teman sekelasnya ikut pula merasakan prihatin dan menunjukkan empatinya terhadap apa yang dialami Ichwan ketika itu. Tetapi Ichwan tetap saja tidak berdaya untuk keluar dari permasalahan ini. Sampai pada akhirnya ia tersentak seolah tak pcrcaya ketika mengetahui ia ketinggalan kelas, barulah Ichwan menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar.

Peristiwa kegagalan ini sempat menggoyahkan tekad dan semangat Ichwan untuk tetap melanjutkan sekolahnya. Ia betul-betul menyesali kesalahannya yang selama ini tidak terlalu menganggap panting akan keberhasilan studinya. Kini ia bingung antara meneruskan sekolahnya dengan resiko tetap di kelas satu dan alangkah malunya ia dengan kawan-kawannya yang sudah hengkang ke kelas dua, atau berhenti sekolah sama sekali.

Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk pulang ke kampung halaman. Kegundahan itu tidak terlalu lama, Tiba-tiba ia tersentak seolah baru tersadarkan dari mimpi buruknya, ia segera mengingat tujuan awal ia melangkahkan kakinya meninggalkan kampung halamannya.  Bahkan dari jauh hari sebelum menempuh ujian SR ia sudah meminta izin kepada ayahnya untuk melanjutkan sekolahnya ke Bengkulu.

Semangatnya kini pulih kembali dan membulatkan tekadnya untuk tetap melanjutkan sekolah. Tekad Ichwan semakin bulat setelah mendapat masukan, nasehat dan motivasi dari kakaknya Sariani, yang ketika itu sekolah di SGB dengan kata-kata singkat padat: “Wan, kali ini kamu boleh gagal, tapi berikutnya tidak boleh.” Kalimat ini benar-benar terhunjam dalam hati sanubari Ichwan sehingga muncullah motto baru dalam hidupnya: Sekali gagal oke, dua kali no !.

Ichwan tidak pernah mencari kambing hitam sebab kegagalannya, menurutnya yang paling bersalah dalam hal ini adalah dirinya sendiri. Walaupun diakui oleh Ichwan bahwa rutinitas pekerjaan rumah tangga tempat ia tinggal dan perasaan takut bersalah yang berlebihan ke pada majikannya adalah salah satu penyebab ia melalaikan sekolah.  Bukan berarti ia menyalahkan orang lain, dialah yang salah, karena telah melalaikan sekolah yang seharusnya menjadi perhatian utamanya.

Kegagalan naik kelas bagi Ichwan benar-benar dijadikan cambuk sebagai pemicu ia berlari, dan berlari. Ichwan yang duduk di bangku kelas satu selama setahun yang lalu, berbeda dengan Ichwan yang duduk di kelas satu sekarang. Setiap ada kelas ia selalu menonjol karena kemampuannya di atas rata-rata, begitu pula jika ada ulangan, baik harian maupun semester ia selalu the best. Keadaan ini membuat hubungan Ichwan dengan guru-gurunya semakin dekat, dan bahkan dalam hal-hal tertentu menjadikannya sebagai mitra. Tidak terasa waktu berlalu, Ichwan akhirnya menyelesaikan kelas I-nya dengan gemilang.

Spontan mungkin orang akan beranggapan dan mengatakan wajar saja Ichwan paling menonjol di kelasnya, karena ia mengulan kelas, setia mata pelajaran sudah pernah dipelajarinya. Ichwan tidak membantah anggapan ini, mungkin ada benarnya juga. Akan tetapi anggapan itu segera sirna ketika Ichwan tetap mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan prestasinya di kelas II dan III sampai ujian akhir, hanya tujuh siswa yang dinyatakan lulus, dan Ichwan tetap the best.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis   : Khairuddin Wahid
Judul      : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit : LPM Exsis
Cetakan  : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed