oleh

Meninggalkan Kampung Halaman (1953-1960) (Bagian II)

Sebuah Biografi Ichwan Yunus

Illustrasi Buku : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi
Illustrasi Buku : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi

King Of The Class

Di sekolahnya, semakin lama Ichwan semakin menunjukkan prestasi belajarnya. Dibanding dengan kawan-kawan sekelasnya, ia tergolong siswa yang paling akrab dengan gurunya. Kedekatannya dengan guru-gurunya ini bukan karena Ichwan memiliki ilmu pendekatan, AGS (Asal Guru Senang) misalnya. Tidak sama sekali, tetapi murni karena kepribadiannya yang sangat menyenangkan. Disamping karena kecerdasannya yang di atas rata-rata kelasnya.
Selain cerdas Ichwan juga dikenal dengan ketekunannya. Untuk yang disebutkan terakhir. -mungkin sekaligus juga sebagai kelebihan Ichwan dibanding  dengan kawan-kawanya yang lain.  Ia tidak hanya tekun mengulangi pelajaran yang sudah diterimanya di kelas, tapi juga serius menelaah mata pelajaran yang akan diterimanya basok. Setiap menerima pelajaran biasanya Ichwan hanya mencocok-cocokan dengan apa yang ia ketahui. Hampir semua buku yang dimiliki  dan ia pinjam dilahap habis. Bukan sekedar dibaca, tapi berusaha difahami dan dikuasainya. Ini  terbukti setiap buku yang dibacanya penuh dengan garis   bawah, contrengan, dan tanda-tanda yang lain.

Penguasaanya yang baik terhadap hampir semua mata pelajaran dan keberaniannya mengemukakan  pendapat, mengkritik dan membantah hal-hal yang menurut pengetahuanya adalah salah dan oleh karenanya perlu diluruskan.  Hal ini membuat guru harus berhati-hati menerangkan pelajaran di kelas. Suatu peristiwa pernah terjadi ketika ia duduk di kelas II SMEA, dimana seorang guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, secara kebetulan apa yang dijelaskan guru sudah pernah dibaca dan sebagian dihafal serta dipahaminya.

Ichwan lantas intrupsi dan dengan lantang tanpa ragu ia mengatakan apa yang diterangkan guru tersebut salah.  Pelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan hasil bacaannya dari sebuah buku. Karuan saja sang guru merasa malu, geram dan merasa penasaran apakah yang dikemukakan Ichwan itu benar atau tidak, sembari meminta Ichwan untuk membuktikan apa yang ia ucapkan.

Sebagai bentuk pertanggungjawabannya, Ichwan lantas berusaha membuktikan bahwa pendapatnyalah yang benar dan apa yang disampaikan guru tersebut adalah salah. Kemudian ia menyodorkan sebuah buku yang sudah dibaca dan dipahaminya. Tidak ada pilihan Iain bagi guru tersebut kecuali mengakui kesalahannya dan mengakui bahwa apa yang dikemukakan muridnya itu benar.

Tetapi sebagai seorang guru, masih saja  menyisakan perasaan yang kurang senang dengan sikap Ichwan. Paling tidak Ichwan dianggap sebagai siswa yang kurang bisa menjaga etika dan/atau sopan santun terhadap guru. Untuk itulah maka guru tersebut merasa perlu melaporkan kejadian itu kepada atasannya. Ichwan Ialu dipanggil dan diberi kesempatan untuk menjelaskan kronologis kejadiannya. Setelah dibeberkan oleh Ichwan,  barulah kepala sekolah memberi nasehat kepadanya, bahwa apa yang dilakukan Ichwan itu sudah benar, tapi  tempatnya saja yang tidak tepat. ”Lain kali kalau ingin membantah atau meluruskan gurunya jangan didepan  kelas, seorang guru harus menjaga kewibawaannya di depan murid-muridnya.“ demikian nasehat kepala sekolah yang ditirukan Ichwan.

Ichwan tidak keberatan untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf kapada gurunya itu. Ichwan merasa lega ternyata gurunya secepat itu memaafkannya, dan setelah kejadian itu hubungannya terhadap guru tersebut bukannya  bertambah ranggang, melainkan semakin akrab.
Masih karena penguasaannya yang baik terhadap semua mata pclajaran, ia pun selalu menjadi primadona (pusat perhatian) dalam setiap diskusi di kelas dan di kelompok-kelompok belajar.  Terutama disaat-saat kebuntun dalam menjawab persoalan yang muncul dan berkembang dalam diskusi. Pendapat Ichwan sangat ditunggu-tunggu.   Biasanya jika Ichwan sudah berbicara, pasti persoalannya akan tuntas, yang lainnya hanya terperangah dan • banyak pula yang hanya mantuk-mantuk.

Walaupun segudang prestasi telah diraihnya, di mata,kawan-kawannya Ichwan tetap saja sebagai pribadi yang menyenangkan. Tidak sedikitpun ada rasa angkuh atau sombong yang diperlihatkan Ichwan dengan kawan-kawannya. Ia selalu membuka diri terhadap kawan-kawan sekelasnya, terlebih teman satu indekos dengannya untuk berdiskusi dan membimbingnya dengan penuh perhatian. Betapapun akrabnya Ichwan dengan kawan-kawannya,  tapi dia tidak pernah terpengaruh jika waktunya belajar, Dia harus belajar. Di saat kawan-kawannya lelap tertidur ia masih saja bercinta dengan buku pelajarannya. Waktu rutin belajar Ichwan adalah mulai jam 19.00 sampai 22.00 pada malam hari, dan sehabis subuh sampai jam 06.00 pagi hari.

Di sela-sela kesibukan belajarnya, terutama pada sore hari sampai menjelang maghrib Ichwan tidak bisa meninggalkan kegemarannya berolah raga yang sudah menjadi  kebiasaan semenjak di kampung halamannya dan di Bengkulu. Kalau di Bengkulu ia hanya menekuni olahraga sepak bola dan volly ball, maka setelah di Palembang ia juga menggemari basket ball. Tidak tanggung-tanggung jenis  olahraga permainan yang satu ini, juga membawa ia pada  prestasi tersendiri.

Sebagaimana dua jenis olahraga yang memang sejak lama ditekuninya. Memilild postur tubuh yang kecil dan pendek, tetapi sangat lincah, gesit, cerdik  dan pandai membuat ia menjadi pusat perhatian para penonton dan suporter, sekaligus sebagai spirit bagi teman-teman satu timnya dalam setiap even pertandingan.

Terasa aneh memang, seorang remaja yang mempunyai postur tubuh pendek dan kecil menyukai olahraga volly ball dan basket ball, bahkan ia termasuk bintang di timnya. Tapi inilah kenyataannya, dan Ichwan telah membuktikan bahwa ia mempunyai bakat yang tergolong gemilang dalam bidang ini. Hal ini membuat  dalam setiap even pertandingan ia tidak pernah absen, selalu diminta untuk memperkuat tim.

Ichwan bertutur bahwa kepiawaiannya berolah raga volly ball dan basket ball ini, termasuk juga olah raga yang lain adalah karena: pertama, menyukai atau menggemari olahraga tersebut. Kedua, rasa percaya diri yang tinggi, Orang bisa, kita pun harus bisa. Jauhkan rasa minder apa lagi rendah diri. Ketiga, pandai menangkap peluang. Untuk yang terakhir ini kaitannya dengan volly ball, Ichwan menyadari postur tubuhnya yang pendek maka ia tidak mungkin memaksakan dirinya sebagai tukang smash atau tukang blok, yang mungkin berpeluang baginya adalah sebagai stipper dan Ichwan memanfaatkan peluang ini.

Begitu pula dengan Basket Ball, bagi Ichwan tidak semua pemain basket itu harus tinggi, yang terpenting adalah daya tahan tubuh (stamina) yang baik, lincah/gesit dan mempunyai tembakan yang jitu. Kesemuanya itu dapat diperoleh melalui latihan yang keras dan disiplin yang tinggi, disamping bakat tentunya.

Tidak terasa tiga tahun berlalu, tahapan-tahapan studinya diselesaikan dangan baik.   Tibalah saatnya ia menyelesaikan ujian terakhir untuk mendapatkan ijazah SMEA-nya. Ichwan menghadapinya dengan tenang dan santai. Tidak ada persiapan khusus baginya. Saat bermain, berolahraga, belajar dan tidur ia jalani sebagajmana biasa.
Hal ini dapat dimaklumi karena disamping memiliki kecerdasan dan ketekunan belajar selama ini, ia juga memiliki ingatan. yang kuat tentang apa saja yang sudah ia pelajari. Berbeda dengan kawan-kawannya yang biasanya menghadapi ujian dengan persiapan ekstra, mengurangi waktu bermain dan berolahraga, mengurangi tidur dan sebagainya, berhari-hari harus mengurung diri untuk belajar.
Sebagaimana telah diprediksi oleh guru dan kawan-kawannya, akhirnya Ichwan keluar sebagai pemenang pertarungan tesebut. Dari sekian banyak peserta ujian akhir tersebut, ia berhasil lulus dengan mendapatkan 3 nilai tertinggi dibandingkan dengan kawan-kawannya.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul   : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed