oleh

Menjadi Bidan Bukanlah Tempat Cari Uang Tapi Uang yang Menghampiri

-Tak Berkategori-4 views
Bidan Desa
Dua Bidan Desa yang bertugas di desa yang sangat terpencil di Kabupaten Kaur

Kaur, kupasbengkulu.com – Terkadang banyak yang salah menyangka jika menjadi seorang bidan itu menyenangkan. Pasalnya, mereka berfikir bidan mudah untuk mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras hanya membuka tempat praktik sendiri, dan uang bisa datang sendirinya tanpa harus dikejar.

Karena banyak yang datang untuk berobat. Dengan demikian banyak orang tua menyarankan anak mereka untuk melanjutkan kuliahnya di kebidanan dengan tujuan supaya lulus kuliah nantinya tidak sulit mendapatkan uang dan mencari pekerjaan.

Tapi, hal itu berbeda dengan prinsif dasar dua Bidan Desa yang bertugas di desa yang sangat terpencil di Kabupaten Kaur di Transimigrasi Tanjung Agung, yakni Agustin Pebriyanti (23) dan Intan Mardiyanti (23) yang belum mempunyai keluarga ini alias masih gadis.

Mereka beranggapan, bahwa prinsip tersebut tidaklah benar semua, dan mungkin ada beberapa yang memang seperti itu, namun untuk menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang memilih menjadi seorang bidan.

“Menurut kami menjadi seorang bidan adalah profesi yang mulia, dan bukan uang sebagai tujuan utama melainkan kami ikhlas mengabdi dan menyalurkan ilmu yang kami peroleh untuk kepentingan masyarakat. Dan bidan itu tidak semudah yang ada dibayangan banyak orang, apalagi di daerah terpencil seperti ini, yang jauh dari keramaian masyarakat dan hiruk pikuk pasar. Serta keterbatasan alat-alat tekhnologi seperti diluar sana. Namun, sebagai abdi negara dengan sebuah profesi yang menjadi tujuan utama, kami senang bekerja disini dan menjadi seorang bidan desa yang siap selalu melayani masyarakat saat butuh pertolongan kami,” ungkap Yanti sapaan Akrab Agustin Pebriyanti, yang dibarengi anggukan sahabatnya Intan Mardiyanti.

Tidak jarang keduanya dipanggil untuk mengobati pasien yang jauh dari tempat paraktiknya di Tran Tanjung Agung atau di desa tetangga yang berjarak kurang lebih 8 kilometer dengan medan jalan yang berbahaya, berlobang dan berlumpur serta rusak parah, yang biasa mereka tempuh dengan berjalan kaki selama tiga (3) jam perjalanan.

“Sering juga berjalan kaki, tidak ada ojek motor karena hujan dan jalanan becek serta berlumpur. Kita tetap berjalan kaki meskipun diguyur hujan dengan jalanan yang licin, karena memang jalanan masih tanah liat dan belum ada pengerasan sama sekali. Perjalanan kurang lebih8 kilometer ini kita empuh dengan berjalan kaki selama tiga jam, yang selama berjalan memang sering berhenti, karena capek juga naik turun bukit. Tapi kami tetap semangat untuk kesembuhan pasien,” jelasnya.

Keduanya tidak mengeluh meskipun terkadang sampai kemalaman dijalan, dan juga harus menjalani kehidupan didesa terpencil dengan sarana dan prasarana belum begitu lengkap, karena didaerah ini listrik belum ada sehingga mereka menggunakan penerangan dengan tenaga surya, sedangkan warga masih menggunakan alat tradisional lainnya yakni lampu dengan minyak tanah, karena lampu pembagian tenaga surya dari pemerintah sudah rusak.

“Kami bangga ada ditengah-tengah masyarakat yang sejak pertama menerima kehadiran dan keberadaan kami disini, jadi kami tidak ada masalah dengan masyarakat untuk tinggal disini. Bahkan mereka sangat senang karena untuk berobat tidak perlu jauh kepusat Kota Bintuhan yang jaraknya sangat jauh. Dengan demikian kita senang dalam menjalankan pelayanan kesehatan,” tutupnya.(mty)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eighteen − 2 =