oleh

Netizen Sindir Kasus Yuyun “Ikon Kemiskinan Bengkulu”

Tulisan netizen yang menyindir kasus Yuyun sebagai "Ikon Kemiskinan Bengkulu"
Tulisan netizen yang menyindir kasus Yuyun sebagai “Ikon Kemiskinan Bengkulu”

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Pemberitaan terkait pembunuhan Yuyun (14) warga Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) Kabupaten Rejang Lebong, yang terjadi pada bulan April lalu menjadi hangat diperbincangkan masyarakat tanah air. Bagaimana tidak, pembunuhan yang tak biasa ini dilatarbelakangi 14 pemuda yang tengah mabuk akibat mengkonsumsi minuman tuak. Selain pemberitaan di media massa, media sosial pun terus membicarakan pembunuhan anak yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini.

Salah seorang netizen pemilik akun Facebook Budi Setiawan bahkan berani menyebut “Yuyun Ikon Kemiskinan Bengkulu”. Tak hanya itu, dalam tulisan panjangnya dia pun menyindir Pemerintah Provinsi Bengkulu yang tak dapat memberikan perubahan berarti bagi kemajuan daerah.

“Selama lima tahun terakhir tidak ada perubahan signifikan APBD Provinsi Bengkulu. Malahan gubernur yang lalu ditangkap karena korupsi. Sebesar 75 persen APBD Bengkulu dipasok dari pusat karena Pendapatan Asli Daerah cuma bergerak di kisaran 400 hingga 500 miliar saja. Jadi sangat wajar jika provinsi ini tercekik oleh kemiskinan,” tulisnya.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik 2015 menunjukkan bahwa Bengkulu adalah provinsi termiskin di Sumatera, menyusul di bawahnya Provinsi Aceh. Sekitar 17,16 persen penduduk Bengkulu miskin  di atas rata-rata nasional yang 11,13 persen. Dari 1.533 desa dan kelurahan di Bengkulu, 48 persennya atau 670 desa terisolir dan masuk dalam kategori desa tertinggal. Tak hanya soal Yuyun, lebih jauh dia  juga membeberkan kasus sangketa lahan batu kali yang terjadi di daerah tersebut.

“Oktober tahun lalu,  warga Desa Kasie Kasubun dan desa-desa yang berdekatan memblokir jalan utama kecamatan PUT memprotes keberadaan CV Lembak Mobile yang disebut illegal mengambil batu kali di Sungai Siye. CV itu juga dituding sebagai penyebab rusaknya jalan penting tersebut. Mirisnya, sengketa itu berakhir setelah perusahaan tersebut membagi-bagikan uang damai antara 3 sampai 5 juta per desa—ulangi per desa.. bukan perorang,” sebutnya.

Dalam akhir tulisannya itu, dia menyinggung kepala daerah, seperti Gubernur, Bupati Rejang Lebong, Camat, hingga Kepala Desa, yang terkesan tidak begitu merespon kasus ini.

” Anehnya, sampai saat ini tidak ada satu kata terucap dari Gubernur Bengkulu, Bupati Rejang Lebong, Camat Padang Ulak Tanding, atau Kepala Desa Kasie Kasubun untuk melarang peredaran tuak itu. Padahal mereka tahu, Yuyun tewas mengenaskan adalah hasil siraman tuak yang makin melaknatkan kemiskinan di wilayahnya,” lanjut dia.

Bahkan hingga berita ini dinaikan, kicauan yang diposting sekitar pukul 16.23 WIB, Selasa (03/05/2016), tersebut sudah menuai lebih dari 1.400 komentar dan  2.504 yang membagikan. Hal ini ditanggapi netizen lainnya dengan beragam komentar, baik positif maupun negatif.

 “Coba hal ini terjadi oleh anak perempuan anda?,” tulis pemilik akun Facebook Agus Mito. .

Lain lagi komentar yang dituliskan pemilik akun Facebook Rendriansyah. Dalam keterangannya sebagai warga yang tinggal di Bengkulu berpendapat jika tulisan tersebut berlebihan.

“Bagi saya tulisan di atas terlalu berlebihan mengjudje Bengkulu, dan tidak semuanya seperti itu,  gubernur siapa yg d blang sblmnya ditangkap karna kasus korupsi itu, setau q gk ada deh..cba priksa lagi dan jangan terlalu jatuhkan provinsi bengkulu karena segelintir oknum yg tidak bertanggung jawab seperti kejadian ini, semua ini karna pergaulan mereka dan tingkah laku mereka, bukan karna kemiskinan suatu daerah, karena tidak semua daerah bengkulu sperti ini, makasih” celotehnya. (bro)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed