oleh

Niat Mati Dua Hari

-Tak Berkategori

13015605_996320253750488_3005907614103202469_n

Cerita: Ujang Martin AP
Ujul begitu panggilannya. Sosok pria yang hidup di sebuah desa terpencil jauh dari keramaian pusat desa. Ujul dikenal santun dan semengah oleh para tetangganya tampak hidup sederhana bersama bini yang dinikahinya sepuluh tahun silam.

Selama sepuluh tahun menikah, Ujul dan bininya hingga kini belum dikarunia anak. Mungkin inilah yang menjadi sumber kegalauan Ujul bersama bininya. Bertahun-tahun mereka harus bersabar, bahkan telah berobat kemana-mana, belum juga menuai hasil.

Sore itu mendung berulang menutupi desa mereka. tampak Ujul bersama bininya berbincang di teras rumahnya. Sembari merangkul bahu sang bini. Mereka tampak asyik membicarakan soal kehidupan rumah tangga mereka ke depan, temasuk soal anak.

“Bu………….”, tegur Ujul. “Saya Pak”.

“Sudah sepuluh tahun kita belum mendapat keturunan. Jika kita punya anak, bapak berniat mau mati dua hari,” ungkap Ujul.

Mendengar itu, binii Ujul sempat terperangah, kaget bukan kepalang. “Apa maksud bapak? Sudahlah Pak, jangan aneh-aneh ih. Yang penting kita bersabar dan terus berdoa pada Sang Pencipta aja,” kata Sang bini sembari meremas jemari lakinya dengan erat.

Niat Ujul itu rupanya membuat mata isterinya berkaca-kaca. “Bapak jangan mati, aku takut pak,” rengeknya manja.

Bahagia dan Niat
Selang beberapa minggu usai mereka mengobrol diberanda, bininyapun benar-benar bunting. Kabar gembira bukan kepalang itu hingga terdengar ketelinga sanak famili, handai toulan dan jiran tetangga. Merekapun bersuka cinta dengan anugrah yang dinanti-nantikan itu.

“Alhamdulillah tuk kalian. Setelah sekian lama berharap, akhirnya doa kalian dikabulkan Tuhan. selamat ya selamat ya,” ucap tetangga kepada keluarga yang lagi bahagia itu.

Di sisi lain, kabar suka cita itu tidak membuat Ujul riang dan senang. Teringat Ujul akan niat dan sekaligus janjinya untuk mati selama dua hari, apabila mendapat keturunan.

“Bapak akan menjalankan niat yang telah bapak ucapkan sebelumnya, untuk mati selama dua hari,” tegas Ujul kepada istrinya sembari menghela nafas panjangnya. “Pak, niat yang seperti itu tidak usah dibayar, apa kata tetangga nantinya,” larang istrinya yang tampak mulai cemas.

Niat Ujul tetap bersikukuh apa yang telah niatkan. Dengan tekat dan keyakinan, Ujul akan mempertanggungjawabkan apa yang telah di ucapkan. Ujulpun menemui kepala desa, Imam Masjid dan seluruh masyarakat desa, dimana Ujul dan istrinya tinggal, untuk mohon pamit sekaligus minta maaf.

Dihadapan masyarakat, apa yang menjadi penyebab keinginannya diceritakan. Lontaran cerita yang terasa aneh dan tak masuk akal itu, sontak semua masyarakat heran. “Mana mungkin Ujul bisa mati selama dua hari,” bisik warga.

“Apa kami tidak salah dengar wahai Ujul, dengan apa yang telah kamu ucapkan,” tanya
Kepala Desa sembari binggung. “Tidak Pak Kepala Desa. Aku minta kepada seluruh masyarakat untuk membantu saya mememuhi janji saya ini,” pinta Ujul.

“Kalau ini memang permintaanmu, kami akan menjalankannya wahai Ujul,” Kata Kepala Desa.

“Wahai sanak famili dan tetanggaku. Jika aku telah di kubur kelak selama dua hari, tolong dibuka kuburanku. Apabila aku tidak bernyawa, maka kalian boleh langsung menutup kuburku”. Isak tangis sanak saudarpun pecah.

Ritual Kematian
Keesokan harinya, Ujul dan semua masyarakat mulai bersiap-siap untuk melaksanakan ritual kematian Ujul. Dimulai dari memandikan badan dan melaksanakan ritual lainnya.

“Apakah tidak sebaiknya kamu urungkan saja niatmu ini wahai Ujul,” nasihat Imam Masjid.

“Niat ini tidak bisa aku urungkan wahai Imam. Janji tetaplah janji yang harus dibayar”. Imam dan beberapa orang tetangganya sempat diam sejenak. “Apa yang kalian tunggu. Cepatlah kafani aku,” pinta Ujul memecah lamunan yang hadir. Saat Ujul dibaringkan untuk dikafani membuat merinding keluarga dan tetangganya.

Ujul langsung dimasukkan ke dalam keranda, untuk dibawa ke kuburkan. Dalam perjalanan, seluruh masyarakat yang mengiringi Ujul ada yang menangis, ada yang hanya diam dan ada pula yang mengucap zikir kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lubang sudah mengangah, menanti Ujul masukkan ke dalam liang lahat. Saat tanah mulai diuruk, isak tangispun kembali pecah. Isteri Ujul terus histeris, hingga akhinya di bujuk untuk pulang kerumah dan pasrah, saat melihat timbunan tanah terakhir menutupi makam.

Pengalaman Indah
Malam harinya, Ujul yang berada di dalam gelap dan sempitnya kuburan merasa haus bukan kepalang. Badannya terasa dingin, karena kelembaban tanah kuburan. Seketika itu juga Ujul terlelap tidur. Dalam tidurnya, Ujul ditemui oleh seorang laki-laki besar
yang tidak kenalnya. “Siapa kamu? tanya Ujul merinding.

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang belum pernah kamu lihat dan akan
memberikan pelajaran, yang nantinya akan berguna bagimu”.

Laki-laki itupun menuntun tangan Ujul, mengajaknya berjalan diwilayah padang luas.
Di dalam perjalanan Ujul melihat seorang laki-laki yang kepalanya dipatok oleh ayam yang sangat besar, hingga kepala orang itu berdarah dan pecah. Ujulpun penasaran dan bertanya kepada laki-laki tersebut. “Kenapa kepala orang itu di patok oleh ayam besar itu”.

“Orang itu sewaktu di dunia telah mencuri ayam tetangganya,” jawab sosok besar tinggi itu.Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Ditengah perjalanan Ujul melihat orang yang perutnya besar, seakan-akan perutnya akan pecah. “Kenapa dengan perut orang itu?”

“Sewaktu hidup di dunia, orang itu sering memakan hak anak yatim, dan memakan uang masjid”.

Merekapun kembali berjalan, tiba-tiba Ujulpun melihat seorang yang lidahnya panjang, kemudian terpotong. Dari potongan tersebut keluar darah seperti air mancur, sedangkan lidahnya tetap memanjang. Ketika lidahnya panjang akan terpotong, begitu seterusnya. “Kenapa lagi dengan lidah orang itu?”

“Orang itu sewaktu di dunia sering menggunjing, mencaci, ingkar janji dan memfitnah”.

Melihat kejadian yang mengerikan itu, mengingatkan Ujul tentang kesalahan-kesalahannya yang lalu. Merekapun tetap berjalan dengan tenang, di perjalan tersebut Ujulpun kembali melihat seorang perempuan yang kemaluannya ditusuk hingga tembus ke ubun-ubun. “Kenapa dengan wanita itu?”.

“Dia adalah wanita yang mengumbar hawa nafsu”.

Setelah sekian kalinya, Ujul kembali melihat orang yang badannya disayat-sayat menggunakan pedang tajam. Hingga setiap sayatan keluar darah segar diiringi dengan jeritannya. “Kenapa pula dengan orang yang disayat itu”.

“Orang itu sewaktu hidup di dunia telah menghina agama, dan mengolok-olok orang yang mengerjakan perintah agamanya”.

Kemudian merekapun kembali meneruskan perjalanan. Dalam perjalanan tersebut Ujul
kembali melihat rumah ibadah yang sungguh besar serta megah, tetapi rumah ibadah itu tidak mempunyai pintu.

Saat Ujul melangkahkan kakinya mendekati rumah ibadah itu, tiba-tiba saja terdengar suara cangkul seperti orang yang menggali lubang. Disaat itu juga Ujul terbangun dari tidurnya. Ternyata suara itu adalah suara masyarakat desanya yang menggali kuburnya, karena sesuai dengan janji dirinya bangun setelah dikubur selama dua hari.

Tubuh Ujulpun tampak lemas. Masyarakatpun mengangkat tubuh Ujul kepermukaan dan langsung dibawa ke rumah. “Alhamdulillah Ya Allah,” ucap istrinya mendapati suaminya yang masih hidup. Semenjak dari kejadian itu, Ujul selalu taat kepada agamanya. Pengalamannya di dalam kuburpun diceritakan kepada masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *