oleh

Nikmati Hangatnya Lemang Tapai, Siapa Tahu dapat Jodoh

Lemang Tapai lagi

kupasbengkulu.com – Di tengah “serbuan” makanan siap saji, masih ada masyarakat yang masih melestarikan makanan tradisional lemang dan tapai seperti di Desa Ulak Lebar, atau yang dikenal dengan nama Masat, Kecamatan Pino, Kabupaten Bengkulu Selatan. Uniknya, penikmat makanan tradisional ini kebanyakan berasal dari bujang dan gadis desa setempat atau desa tetangga.

Dari dahulu, lemang tapai sangat digemari warga di Bengkulu Selatan itu, bahkan di Masat Kecamatan Pino itu ajang kawula muda berandunan (memadu kasih, red) selain untuk menikmati lemang tapai, juga tempat mencari santingan (pacar, red) dan tidak sedikit yang mendapat jodoh di daerah kecamatan yang terkenal dengan lemang dan tapai ini.

Dengan banyaknya yang mendapat jodoh karena lemang tapai ini, di Kecamatan Pino sekarang ada persimpangan yang tak jauh dari Pekan Masat itu dinamakan simpang Jodoh. Persimpangan ini merupakan pertigaan Jalan Raya dari Kota Manna menuju Kota Pagaralam dan menuju Desa Sebilo.

Warga Kecamatan Pino, Ahpindar (38) menuturkan kepada kupasbengkulu.com mengenai simpang jodoh itu. Dahulunya hingga sekarang simpang tersebut merupakan tempat pertemuan bujang gadis dari berbagai daerah. Bukan dari Kota Manna saja termasuk dari Kota Pagaralam dan Tanjung Sakti.

“Tempat pertemuan bujang gadis, sebelum melemang tapai di Pasar Masat,” terangnya.

Setelah bertemu dengan pasangannya di persimpangan Desa Sebilo itu, lanjut dia,  barulah pasangan bujang gadis tersebut pergi menikmati lemang tapai yang berada di lokasi Pasar Kamis Masat ini.

”Sudah banyak yang mendapat jodoh gara-gara lemang tapai ini, dan pertemuannya pasti di simpang itu,” ujar Ahpindar.

Ditambahkan Ahpindar, sekarang ini tidak saja bujang gadis, bahkan orang dewasa dan bersama keluarga dan rombongan pun setiap malam Kamis, Pasar masat ini ramai sekali dikunjungi orang dari berbagai daerah.

“Itu terlihat dari berjejernya mobil dan motor di beberapa warung yang berjualan lemang tapai itu,” kata dia.

Pernyataan Aphindar ini senada dengan Fajrul, warga Kota Manna yang sengaja jauh dari tempatnya hanya untuk menikmati lemang dan tapai.

“Saya sengaja jauh-jauh dari Kota Manna, bersama teman-teman hanya untuk menikmati lemang dan tapai. Biasanya banyak ‘kembang desa’ yang keluar, siapa tahu dapat jodoh,” seloroh Fajrul saat dibincangi kupasbengkulu.com.

Lemang Tapai Tomi

Zaman dahulu lemang tapai ini  hanya dimasak saat mau ada hajatan pernikahan saja, dan dihidangkan untuk menjamu sanak saudara dan tetangga desa (adiak sanak tumbuk dusun). Tapi hal seperti ini sekarang jarang sekali dijumpai lagi karena mulai terkikis dengan zaman serba berkecanggihan.

“Sudah 40 tahun kita berjualan lemang tapai disini, kami tidak masak dan berjualan lemang tapai selain menyambut hari Pekan Kamis (Pasar Kamis,red)). Tapi kalau ada pesanan, kami buatkan dan kami masak,” kata Nek Ima (70) penjual lemang tapai.

Lanjut dia, saat ini dirinya hanya membantu anaknya yang meneruskan usahanya tersebut. Hal ini disebabkan usianya yang sudah menua, agar usahanya tetap berkelanjutan, ilmu memasak lemang dan tapai diwariskan kepada generasi penerusnya.(tom)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

20 − 16 =

News Feed