oleh

OJK Bengkulu Jadikan ‘Tabot’ Panutan Budaya Kerja

Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu meluncurkan istilah budaya kerja 'Tatanan Budaya OJK Terbaik' atau yang disingkat dengan 'TABOT'.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu meluncurkan istilah budaya kerja ‘Tatanan Budaya OJK Terbaik’ atau yang disingkat dengan ‘TABOT’.

kupasbengkulu.com – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu meluncurkan istilah budaya kerja ‘Tatanan Budaya OJK Terbaik’ atau yang disingkat dengan ‘TABOT’.

Sebagaimana diketahui, Tabot merupakan budaya Bengkulu yang paling terkenal, yang selalu diselenggarakan setiap memasuki bulan Muharam, sebagai peringatan atas meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW pada pertempuran di Padang Karbala ratusan tahun silam. Untuk mengenang hal itu masyarakat Bengkulu menggelar ritual yang diselenggarakan selama 10 hari, dimulai dari malam satu Muharam.

Kepala OJK Perwakilan Bengkulu, Fauzi Nugroho, mengungkapkan selama kurang lebih satu tahun di Provinsi Bengkulu, dirinya melihat begitu banyak budaya lokal yang bisa dikembangkan sehingga berinisiatif untuk mengkreasikan menjadi budaya kerja untuk para pegawai OJK.

“Barangkali ini satu-satunya di Indonesia yang menggunakan istilah lokal untuk dipakai dalam penyebutan budaya kerja. Di satu sisi kita ingin budaya OJK terlaksana dengan baik, di sisi lain kita juga ikut memperkenalkan kebudayaan Tabot kepada seluruh masyarakat se Indonesia,” ujar Fauzi, Selasa (07/04/2015).

Di dalam budaya kerja ‘Tabot’ tersebut ada beberapa standar yang diterapkan, yang juga menggunakan istilah lokal seperti Cerano, Serunai, Raflesia, Jari-Jari, dan masih banyak lagi. Fauzi menyebutkan apabila standar kerja impresif, integritas, profesionalisme, sinergi, inklusif, dan visioner, dijabarkan ke dalam kearifan lokal, dampaknya tidak hanya pada para pegawai OJK, tapi juga di luar OJK.

“Kita menggunakan istilah-istilah lokal yang semuanya memiliki arti. Seperti Jari-Jari, singkatan dari jaga penampilan diri, Serunai artinya seruan pegawai, dan masih banyak lagi,” lanjutnya.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah, yang juga hadir dalam acara tersebut menyambut baik gagasan OJK ini. Menurutnya selama ini tidak terfikir untuk membuat budaya kerja dengan singkatan istilah lokal Bengkulu dan ini termasuk salah satu ajang promosi.

“Promosi itu biayanya mahal, dengan gagasan ini orang yang melihat jadi bertanya-tanya apa sebenarnya Tabot itu. Kalau kita sama-sama peduli budaya, nama OJK terangkat, budaya Bengkulu pun demikian. Kita sangat mengapresiasi ide ini,” tutupnya. (val)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

20 − ten =

News Feed