oleh

Pasar Minggu Riwayatmu Kini…

Suasana di dalam Pasar Minggu, sepi dan tak terawat.
Suasana di dalam Pasar Minggu, sepi dan tak terawat.

Suasana di sini sepi, dingin dan lembab. Beberapa pintu besi toko juga terlihat terkunci, berdebu dan menjadi sarang nyaman laba-laba kecil, hal ini seakan mengisyaratkan toko-toko tersebut telah lama tidak buka oleh pemilik.

Dari kejauhan terdengar percakapan beberapa orang, ya memang masih ada yang membuka tokonya tapi sudah tak banyak. Hampir 50 persen angkat kaki pindah ke pasar yang lebih ramai pembeli.

Jika ada satu orang yang lewat, maka para pedagang yang tersisa ini langsung keluar dan menyapa seramah mungkin agar tertarik membeli dagangannya. Satu saja yang lewat sangat berarti bagi mereka karena tidak jarang seharian sama sekali tidak ada yang melintas.

“mbak cari apa ? ayo masuk dulu.. lihat lihat saja dulu barangkali ada yang minat..” kalimat ini pasti terucap setiap melihat ada orang yang melewati lorong toko meski masih jauh.

Menurut Roni salah satu pedagang yang telah berjualan sejak tahun 1998 di Pasar Minggu ini, kondisi ini telah terbiasa mereka rasakan sejak adanya pasar tradisional modern dan mal di dekat pasar itu.

“Ya beginilah yang kami rasakan, sepi sekali. Kalau saya masih lumayan bisa masuk tiga ratus sehari, teman teman di sini kadang laku sepotong juga sudah bersyukur” ujarnya.

Pasar minggu dulu menjadi pasar favorit masyarakat Kota Bengkulu dan sekitarnya, lantai atas menjual pakaian siap pakai, sepatu dan tas. Sedangkan lantai bawah terdapat penjual kain, gorden, dan beberapa tokoh keperluan rumah tangga, pernak pernik hingga kosmetik.

Roni menambahkan saat ini ia dan pedagang lain terutama para pedagang dilantai atas sangat mengharapkan perhatian pemerintah, karena jika dibiarkan pasar minggu bisa menjadi  sejarah.

” Kita ini jadi sepi begini ya pertama karena kehadiran pasar yang dekat sini yang lebih bersih, kemudian tidak ada lahan parkir, sangat sempit sekali itu juga untuk motor, semua lahan parkir dipakai untuk buka lapak jadikan tambah susah orang mau ke sini” katanya.

Para pedagang yang tersisa mengaku terpaksa bertahan disini karena biaya sewa di pasar lain lebih tinggi, karena itu mereka tetap berjualan meski sepi sambil tetap berharap pemerintah mau peduli.

” Kita harapkan pemerintah mau peduli dengan keadaan kita, tertibkanlah lahan parkir itu, baguskan lagi ini pasar minggu bertingkat ini, biar tidak kotor dan kusam. Dulu kalau menjelang lebaran pas puasa begini kami pasti panen, tapi sekarang lihat saja hening begini” tutur Roni.

Sementara itu pertengahan tahun lalu pemerintah kota bengkulu pernah berjanji akan merevitalisasi pasar minggu bertingkat ini, namun hingga ini belum ada realisasinya.

Penulis: Evi Valendri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed