oleh

Penghancuran dan Perduli Sisa Kolonial

buya
Resonansi: Benny Hakim Benardie

Berangkat dari pertanyaan yang mengelitik fikiran, kenapa ada pejabat di Provinsi Bengkulu suka, ingin, gemar bahkan tak perduli dengan sisa-sisa peninggalan Kolonial Belanda, Inggris yang pernah bercokol di Negeri Bengkulu ini?

Mungkin jawabannya karena dendam, tak berguna atau memuat kisah pembantaian anak negeri. Klasik atau mungkin klise memang kalau itu jawabannya. Tentunya lain lagi dengan pertanyaan, bagaimana  dengan harta karun, harta  peninggalan Sang Kolonial yang di dapat dari petunjuk dukun atau peta-peta peningalan kuno, atau bahkan dari dugaan “logis’ yang ada? Katanya masih ada di bawah tempat peninggalan itu!

Pertanyaan ini tidak pernah ada yang menanyakan. Mungkin. Itu hal yang tidak penting dan sudah lampau. Bisa saja itu. Yang jelas, semua merupakan aksioma.

Era 80-an, mulai di/terbakarnya Kampung Cina (Kampung Tionghoa), hingga bioskop bangunan Kolonial Inggris yang dinamakan ROYAL CINEMA,  hancur ditahun 1982. Tempat bemain Tonil para elite Belanda dahulu rata dan digantikan dengan Pasar Brokoto saat ini.

Di era yang sama, dirubahnya sisi pintu pintu Kuburan Bulek atau Thomas Parr, termasuk tak diketahui lagi plat ataupun ornamen yang ada di dalam Tugu Inggris tersebut. Bukan itu saja, nyaris rusak saat era Gubernur Agusrin M Najamuddin yang mencoba membuat jalan terowongan bawah tanah, melingkari tugu bersejarah itu. Akhirnya proyek itu gagal. Tapi radius situs bersejarah itu tersentuh, anak tangganya yang dulu ada enam, kini hilang satu.

Hanya Kota   
Pemimpin terus bergulir. Gedung Bola yang disebut oleh masyarakat  Gedung Nasional atau terakhir disebut masyarakat generasi baru dengan sebutan Kantor CPM, kini luluhlantak dirubah menjadi taman.

Landraad atau pengadilan saat era kolonial Inggris, kini bukan lagi milik Provinsi Bengkulu, namun milik Depkumham RI. Meskipun sempat digugat dan kalah, hingga kini peninggalan bersejarah itu enggan di usahakan kembali, tentunya dengan lobi semisalnya tukar guling.

Ini baru bicara peninggalan yang ada di kota Bengkulu, belum lagi yang ada di kabupaten Provinsi Bengkulu. Kantor Pos pertama di Bengkulu, bangunan bersejarah peninggalan Inggris, kini juga diabaikan.  Belum lagi bangunan rumah sisa kolonial yang dibiarkan lama rusak dan hancur di sekitaran eks Lapas Malabero.

Ditahun 2016 ini, terbakarnya eks Lapas Malabero yang di ubah fungsinya menjadi Rutan, akibat kerusuhan para penghuni Rutan. Padahal di tahun 30-an, ini merupakan penjara terngeri, dengan orang-orang rantainya. Penghuninya merupakan orang buangan, penjahat dari daerah lain diluar Bengkulu.

Ini sekelumit kecil dari yang ada di Kota Bengkulu, terlepas apa yang bersejarah itu masih di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Pupus harapan anak negeripun, takkan membuat bergeming pengurus Negeri Bengkulu ini. Letih bercampur gerampun juga percuma.

Lihatlah, Tugu Kemerdekaan yang ada di Simpang Bubungan Tiga, sebelah Bank Indonesia dihancurkan, padahal  buatan generasi anak negeri terdahulu, sebelum Provinsi Bengkulu ini ada, hancur di Tahun 1992, walaupun ditengah tugu itu kini masih utuh.

Belum lagi Tugu Lupis Azimuth kota, dihancurkan Tahun 1985, dengan alasan pelebaran jalan. Persis di dekat tugu itu, terdapat  rumah eks residen terakhir, Residen Abdullah, anak negeri menyebutnya Rumah Residen,  kini beralih fungsi menjadi mini market. Mungkinkah tidak punya nilai history yang dapat dimanfaatkan?

Tak Berguna
Mungkin semua yang bersejarah itu tidak berguna, dan tidak ada artinya sisi peninggalan sejarah dan budaya. Meskipun konon  bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan para generasi penerus, sebagai landasan membangun kedepannya.

Jadi, kini masyarakat yang ada di provinsi  atau di luar provinsi Bengkulu, jangan banyak berharap ingin tahu banyak rumah atau gedung tuo sisa Kolonial Inggris dan Belanda yang pernah ada.

Gedung  daerah yang kini dipakai Gubernur Bengkulu bernama asli  MOUNT FELIX  itu, ditengahnya merupakan rumah tua Gubernur Jenderal Inggris, persis di beranda gedung saat ini.

Situs Fort York yang sempat ditemukan di daerah bukit Pasar Bengkulupun kini tak diurus, diatas rumah penduduk dan sekolah dasat. Belum lagi bila melihat areal Keburan Belanda kata masyarakat Bengkulu, Kuburan Inggris yang kini wilayahnya mulai mengecil dan tak terawat.

Seorang teman sempat bertanya pada penulis, “Terus mau apa dan harus bagaimana?” Sumringah adalah jawaban yang harus di ekspresikan.

Penulis dan Jurnalis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed