oleh

Perempuan Ini jadi Buruh untuk Kebutuhan Anak Sekolah

buruh apdi
Suraida salah seorang buruh panen padi

kupasbengkulu.com – Suraida salah seorang buruh panen padi di area persawahan Kecamatan Taba Penanjung, turut berbahagia panen kali ini. Baginya tak penting jika musim ini padi banyak yang tak bernas, karena bisa menjadi buruh panen adalah rezeki musiman yang dirinya tunggu.

“Saya tidak begitu tahu padi musim ini bagus atau tidak, kabar dari pemilik sawah memang padi kurang bernas karena kurang pupuk. Tapi, sebagai buruh panen bisa dapat rezeki di sini sudah bersyukur,” kata Suraida, sembari menyabit padi, kepada kupasbengkulu.com.

Hamparan padi yang menguning keemasan terbentang luas di area persawahan persis di tepi sungai Rindu Hati ini. Suraida mengaku, jika profesi buruh yang digelutinya dialkoni sejak lima tahun lalu. Tidak hanya untuk area pesrawahan di sini, terkadang dirinya mesti pergi ke area persawahan yang jauh.

”Terkadang ada orang yang memanggil ke rumah minta di panen atau kalau tidak ada saya yang mencari sendiri,” jelas Suraida.

Ia menjelaskan, jasa panen yang diperoleh dirinya bukan berupa uang, melainkan padi dengan sistem bagi hasil. Dengan sistem pembagian enam bagi satu. Artinya, dari enam karung padi maka satu karung, untuk buruh dan lima untuk pemilik padi. Pembagian padi usai panen digelar.

Suara gemerisik daun padi yang tertiup angin, adalah nyanyian alam yang menemani Suraida memotong batang per batang padi. Sesekali tersengar suara jembatan gantung tua, yang menjadi akses utama menuju areal persawahan berderit karena dilewati oleh petani lain.

Perempuan yang mengenakan batik usang ini mengatakan, bahwa di areal persawahan yang luasnya lebih dari 100 Hektare (Ha) ini ada lebih dari 10 orang buruh panen.

“Karena tak punya sawah sendiri, kami harus bekerja keras untuk bisa menikmati pulennya beras padi baru, sisanya bisa kami jual untuk keperluan anak sekolah. Hidup ini memang untuk berjuang dek, terutama untuk anak,” tutupnya sambil mengangkat padi yang telah disabit ke pinggir dangau.

Penulis : Evi Valendri, Bengkulu Tengah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

six + 9 =

News Feed