oleh

Perjalanan Menuju Australian Open 2014

HUsni Hasanudin (Komisaris PT Media Rafflesia Bengkulu/kupasbengkulu.com)
Husni Hasannudin (Komisaris PT. Bengkulu Rafflesia Media/kupasbengkulu.com)

kupasbengkulu.com- Mengapa saya menulis? Karena ada yang perlu diungkapkan. Mengapa saya menulis? Karena imajinasi seluas alam semesta. Mengapa saya menulis? Karena saya tidak punya sayap, sedangkan imajinasi dapat menerbangkan saya jauh ke balik awan. Mengapa saya menulis? Karena bla…bla… Terutama bercerita tentang perjalanan baru-baru ini ke Melbourne, salah satu kota di Negeri Kangguru atau dikenal dengan Australia, dan berkesempatan pula menonton aksi pemain tenis kelas dunia di Australian Open 2014.

Papa, terkabul juga keinginan untuk berkunjung ke tempat Yefi yang belajar untuk meraih gelar doktor (S3) di Melbourne (Dalam hatiku berkata, kalo gak ada Australia Open belum tentu saya mau, hehehee). “Ya Ma Alhamdulillah ada peluang dan kesempatan, dan ini kita jadikan untuk menambah wawasan dan pengalaman.”

Teringat ketika saya kuliah di Fakultas Publisistik Universitas Padjajaran Bandung, kata salah satu dosen Bapak Onong Uchyana, MA, bahwa pengalaman yang banyak dan ditambah pengetahuan yang luas diperlukan bagi penulis atau para jurnalis atau seorang wartawan, yang harus memiliki Frame of Reference and Field of Experience.

husni hasanudin australia

Sore itu, saya dengan My Wife bahasa gaulnya MW sudah berada di Terminal 2 F Bandara Soekarno -Hatta. Disana terlihat banyak penumpang yang berlalu lalang hendak berpergian. Tampak rombongan yang berseragam, mereka sepertinya jemaah yang akan melaksanakan umroh ke tanah suci Mekkah. Ada juga rombongan yang sekumpulan orang, sepertinya para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang akan diberangkatkan ke luar negeri. Melihat rombongan TKI ini hati kecilku sangat prihatin, dari pakaian yang lusuh dan fisik yang kurus-kurus, aduh, kasihan ya para TKI ini bagaimana akan bekerja dengan bila ditilik dari fisik saja demikian.

Tepatnya pukul 18.45 WIB, saya dengan MW dan penumpang lainnya memasuki pesawat Qantas yang akan menerbangkan kami menuju Sydney. Kami berdua menduduki seat 38 J dan K, MW setelah duduk mengajak berdoa semoga perjalanan tidak menemui halangan, saya berdoa sesuai dengan keyakinan dan doaku meniru doa yang diucapkan para nabi- nabi, yakni membaca “Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil”.

Doa ini diucapkan Nabi Ibrahim as tatkala dia dilemparkan ke dalam api, sehingga api tiba-tiba menjadi dingin dan tidak menghancurkan Nabi Ibrahim AS. Begitu juga ketika Nabi Muhammad SAW saat perang Uhud, Allah pun menolong Nya karena doa ini diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, begitu juga Nabi Musa ketika melihat lautan di depan matanya dan musuh mengejar di belakangnya lantas berucap Hasbunallah wa ni’mal wakil kemudian lautan menjadi surut.

Dalam heningnya perjalanan malam, teringat prosedur perjalanan ke Australia ini, persiapan berupa paspor ditambah mengurus visa ke Kedutaan Australia dan undangan dari Yefriza yang sedang belajar di sana. Tepat pukul 00.00.WIB, ada pengumuman bagi para penumpang yang akan menyesuaikan dengan waktu Australia sekarang pukul 04.00.WIB, berarti ada perbedaan waktu 4 jam.

Sekitar pukul 08.00 WIB, pesawat mendarat di Bandara Kingsford Smith Internasional Airport Sydney, setelah mengambil bagasi lantas kami diangkut dengan bis menuju terminal domestik, untuk melanjutkan penerbangan dengan pesawat Qantas lainnya. Lebih kurang ditempuh waktu dua setengah jam perjalanan, sebelum pesawat landing di Bandara Tulamarine Airport Melbourne.

Foto Pak Husni

Alhamdulillah dengan karunia dan rahmat Allah, kami sudan sampai ke tujuan. Turun dari pesawat kami bergegas menuju ke tempat pengambilan bagasi, dan wow ! ternyata disana sudah menanti adik kami Yefriza Razie (Yefi). Kemudian kami cipika-cipiki dan langsung naik angkutan umum sejenis bis penumpang, tapi dengan roda seperti kereta api menuju tempat tinggalnya Yefi. Inilah kak kediaman selama hampir 4 tahun menempuh pendidikan mengambil gelar S 3, agak sempit.

“Dak apo- apo Yef, selagi di dalamnya ada rasa cinta, iman dan kasih sayang akan terasa yang perasaan sempit menjadi luas, hehehe”. Setelah istirahat sejenak dan mandi kemudian menunggu salat zuhur dan jamak ashar, kami langsung menuju ke tempat pertandingan dengan berlari-lari kecil menuju train listrik. Ternyata transportasi umum di Melbourne berupa train listrik ini. Kata Yefi, kita tidak perlu repot mengeluarkan uang cukup dengan card sejenis kartu pulsa.

Mau ke mana-mana, cukup menggunakan card dengan menempelkannya di pintu train, dan langsung terbuka. Waduh Yef, enak benar disini sangat praktis terlebih bagi kita pendatang baru tak perlu repot. Sistem tempel card ini bagus juga bila diterapkan di Indonesia, tak perlu buka dompet apa lagi memikirkan uang pengembaliannya. Sesampai di Rod Laver Arena, dan setelah beli tiket (Waduh mahal sekali, 114.90 $AUD- sekitar Rp 1,5 juta hehehe), kami menonton beberapa pertandingan yang menarik.

Hari pertama pertandingan, menonton Roger Federer yang ditantang pemain yang rankingnya jauh dibawah Federer. Namun dalam pertandingan sangat ambisi untuk menang dan memang dalam permainan sangat mencemaskan kami yang menonton, tak rela bila pemain unggulan dikalahkan oleh pemain tak diunggulkan, sehingga hampir semua penonton memberi support dengan mengucap “Lets Go Roger Lets Go”.

australia lagi

Hari kedua di Melbourne, kami kembali fokus ke lapangan tenis, juga menyaksikan pemain unggulan Nadal dari Spanyol ditantang pemain dari Jepang Nishikori, pun permainan yang enak ditonton walaupun akhirnya Nadal dapat memenangkan permainan dengan 5 set. Hari-hari berikutnya, kami mengunjungi tempat-tempat yang ada di Merlbourne, diantaranya Monash Univercity, Gedung Parliament, dan Victoria Market (pasar tradional), Mall Melbourne Centre, Yarra River dan taman makam pahlawan.

Nampaknya, mereka sangat menghargai para pahlawan, terlihat bangunan yang sangat megah menyerupai piramid bangunannya sangat kokoh. Ada yang menarik di tugu juga tertera tulisan pahlawan dari Borneo (Pahlawan Indonesia kah? ). Selama hampir satu minggu di Melbourne ternyata cuaca sangat ekstrim, cuaca panas sampai suhu 46 derajat celcius. Keesokan harinya bisa dingin mencapai 15 derajat celcius, kami merasakannya selama disini.

Dengan Qantas, perasaan menyenangkan menuju tanah air Republik Indonesia, dalam lamunan selama di pesawat ada rasa puas dapat berkunjung ke tempat adik yang sedang menyelesaikan pendidikan di Monash Univercity, menonton pertandingan tenis dunia (My Hobby, hehehe), sekaligus dapat melihat negeri orang, kalau dibanding-banding masih enak di negeri sendiri. Sebab apa? kalau panas waduh minta ampun, bila cuaca dingin sangat dingin.

Akhirnya pesawat kami mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, setelah kurang dua setengah jam dari Melbourne ke Sydney dan delapan jam dari Sydney ke Indonesia. Alhamdullah Pa kita udah nyampe dan terima kasih yo pa (Agak kaget rasonyo baru kali ini dengar ucapan terima kasih dari my wife hehehe). Kapan kito ke Amerika Pa, soalnyo ayuk Wati istrinyo Pak Fauzan nawari kalo nak ke Amerika cukup cari ongkosnyo bae untuk penginapan dio jamin, lanjut MW, ( Waduhh dalam hati, “dienjuk kaki nak mintak paha, la diajak ke Australia nawar minta diajak ke Amerika).(**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed