oleh

Prostitusi Dolly Akhirnya Tamat, Ini Sejarah Gang Dolly

salah seorang PSK di Dolly yang berusaha menghalau petugas, Sumber foto: kompas.com
salah seorang PSK di Dolly yang berusaha menghalau petugas, Sumber foto: kompas.com

kupasbengkulu.com – Prostitusi Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur, akhirnya resmi ditutup pada Rabu (18/6/2014) malam.

Adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini penggagas pembubaran prostitusi yang diduga terbesar di kawasan Asia Tenggara itu.

Sejarah panjang kawasan lokalisasi prostitusi Dolly di Surabaya  membuat penasaran banyak orang kawasan ini sangat terkenal dan telah ada sejak masa kolonial Belanda.

Dolly berada di Kelurahan Putat Jata, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Beragam kisah tentang Dolly pun muncul. perintisnya bernama Dolly van der Mart, noni Belanda. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Dolly lebih dikenal dengan nama Dolly Khavit.

Lokalisasi Dolly awalnya pemakaman Tionghoa. Sekitar tahun 1960, dibongkar dan dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1967, seorang mantan pekerja seks komersial (PSK) bernama Dolly Khavit yang menikah dengan pelaut Belanda membuka sebuah wisma di kawasan itu.

Di dalam buku berjudul Dolly, Kisah Pilu yang Terlewatkan karya penulis Cornelius Prastya R K dan Adir Darma terbitan Pustaka Pena, Yogyakarta, 2011, disebutkan tentang sosok Dolly Khavit yang tomboi.

Dolly Khavit mengawali bisnisnya karena kesepian dan merasa sakit hati akibat ditinggal suaminya yang seorang pelaut. Dolly dikenal sebagai sosok cantik yang cukup tersohor kala itu.

Meski cantik, Dolly merupakan wanita yang berlagak seperti lelaki. Disebutkan ia bertransformasi menjadi laki-laki dan menikahi sejumlah perempuan yang kemudian dipekerjakan di rumah bordil yang dikelolanya.

Awalnya hanya untuk melayani tentara Belanda, tetapi laki-laki hidung belang yang datang makin hari makin meluas. Ini sebab, konon pelayanan para anak buah “Papi Dolly” sangat memuaskan.

Bahkan, “Papi Dolly” kemudian tidak hanya memiliki satu wisma, tetapi memiliki empat wisma di kawasan itu. Hal itu juga disebutkan dalam buku berjudul Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Komplek Pelacuran Dolly yang ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dan diterbitkan oleh Grafiti Pers, April 1982.

Bisnis “Papi Dolly” awalnya sempat dilanjutkan oleh seorang anak hasil hubungan Dolly dengan pelaut Belanda. Namun, usaha itu tidak dilanjutkan setelah anak “Papi Dolly” tersebut meninggal dunia.

Keturunan Dolly disebutkan masih ada yang tinggal di Surabaya, tetapi tidak lagi melanjutkan bisnis itu.

Kini kawasan tersebut resmi ditutup oleh pemerintah Kota Surabaya sebuah langkah tegas yang patut diapresiasi dan ditiru banyak para kepala daerah yang kadang masih malu-malu dan tak berani untuk menututp sebuah areal lokalisasi.

Prostitusi teroganisasi sangat sulit untuk dihentikan ketimbang prostitusi yang tak terorganisasi. Menututp prostitusi sebuah langkah tepat namun akan lebih tepat pula bila pentutupan tersebut dilakukan dengan memberikan bekal modal serta usaha bagi para PSK dan mucikari.

Apabila hal tersebut telah dilakukan oleh pemerintah namun yang bersangkutan masih melakukan tindakan tersebut maka beban dosa dan kesalahan moral tak lagi dapat dilimpahkan pada pemegang kebijakan.

Dikutip dan diketik ulang dari : kompas.com

Rekomendasi