oleh

Saat Batu Akik Kaur Langka

-Tak Berkategori-2 views
Wakil Bupati Kaur Yulis Suti Sutri mencoba satu liontin akik
Wakil Bupati Kaur Yulis Suti Sutri mencoba satu liontin akik

Kaur, kupasbengkulu.com – Kabupaten Kaur merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Bengkulu sebagai penghasil batu akik, di Desa Ulak Bandung, Kecamatan Muara Sahung tepatnya di Dusun Luang Batu Api terdapat pencari dan pengumpul batu akik yang setiap hari warga setempat mencari batu akik untuk dikumpulkan dan dijual.

Di sini pencari batu akik setiap hari menyisiri sungai untuk mengais bebatuan dan mencari serpihan-serpihan batu yang kemudian diangkut kerumah mereka untuk dikumpulkan kemudian dijual dengan pembeli dengan harganya yang lumayan murah.

Salah satu pencari batu akik Ervan menuturkan jika batu akik di daerahnya sudah diburu sejak tahun 2012 lalu, namun pada saat itu hanya beberapa saja yang datang untuk membeli, dan pencarian batu akik oleh warga pun tidak marak seperti saat ini. Karena pada saat itu harga batunya juga sangat murah, dan belum banyak pembeli. Tapi sekarang lebih parah lagi dengan meningkatnya harga batu dari pembeli pencarian semakin ramai dan batu akik pun semakin langka dan susah untuk dicari.

Sehingga tidak jarang warga diluar Kecamatan berdatangan kedesa tersebut hanya sekedar memburu batu akik yang berharga saat ini, namun sayang banyak warga lain yang datang untuk mencari batu akik didaerah ini menggunakan alat yang lebih canggih dari warga lokal yaitu dengan menggunakan mesin serta banyak lahan warga yang digali tanpa pamit sehingga menimbulkan kerusakan termasuk kerusakan ditepi-tepi sungai akibat galian mesin pemecah batu.

“Saat ini untuk mencari batu akik itu sudah susah, karena banyak warga pendatang yang mencari batu akik dengan menggunakan alat mesin. Dan kami yang hanya menggunakan alat tradisional seperti linggis dan palu ini hanya kebagian dari sisa-sisa mereka. Dan untuk menggali batu akik juga pemilik lahan disini sudah menyewakan lahan mereka, misanya lima meter lahan sewanya sampai Rp 300 ribu  atau dengan sistem bagi hasil yakni Rp 10 ribu per kilo, dan harga ini tergantung jenis batu yang didapat,” tutur Ervan.

Akibatnya warga setempat kehilangan kesempatan dalam mengais rezeki yang selama ini sudah menjadi mata pencaharian mereka. Karena selain lahan untuk mencari batu akik berkuarang juga pemilik lahan sudah menyewakan lahan mereka jika akan digali untuk pencarian batu akik, dengan adanya penyewaan lahan oleh pemiliknya ini warga tidak punya uang ntuk menyewanya, dan terpaksa mencari batu akik dipinggiran sungai yakni dari sisa-sisa penggalian dari mesin tersebut.

Selain Ervan warga lain yang seperti Imam (50) bersama isterinya juga sebagai pencari batu tidak lagi mencari dengan menggali, karena lahan biasanya tempat mereka menggali sudah disewakan dan biasanya yang menggali adalah warga yang menggunakan alat, sedangkan mereka tidak kuat untuk menggali lahan tersebut, karena dengan alat tradisonal penggaliannya terbatas. Dan saat ini mereka hanya mencari batu akik dipinggiran sungai dan mencari bekas atau sisa-sisa dari penggalian yang menggunakan alat. Dari situlah mereka mengumpulkan serpihan batu akik, kemudian dibawa ke dangau (rumah) untuk dijual.

“Dari serpihan penggalian yang menggunakan alat itulah kami mendapatkan batu-batu ini, yang biasanya batu-batu ini mereka biarkan saja, karena batu yang mereka cari itu yang berharga seperti red raflesia, lavender, kecubung dan lainnya. Jadi jika serpihan dan sisa yang kecil-kecil mereka tidak mengambilnya. Untuk penggalian dengan menyewa lahan kita tidak mampu, dan tidak yakin akan mendapatkan batu yang banyak, karena hanya menggali dengan menggunakn alat biasa seperti linggis dan palu,” ungkap Imam.

Untuk penjualan batu-batu sisa penggalian ini lanjut Imam biasanya hanya mereka jual Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu perkilonya. Sedangkan jika beruntung dan mendapatkan batu yang bagus mereka bisa menjualnya hingga ratusan ribu perkilo.

“Biasanya untuk bahan ini kami menjualnya perkilo Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, namun jika dapat batu yang berharga itu sampai ratusan ribu, tapi itu jarang sekali kami dapatkan. Karena disini bahan baku ini sangatlah murah harganya, karena kita tidak menjual bahan jadi, seperti diluaran sana yang satu buah mata cincin dijual dengan harga tinggi hingga ratusan bahkan jutaan rupiah,” ujar Imam sembari tersenyum. (mty)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

19 + 20 =