oleh

Sebelum Meninggal, Calon Pendeta Tinggalkan Pesan Ini…

Mardin
Foto Mardin semasa hidup

kupasbengkulu.com – Suasana duka meliputi keluarga besar Sekolah Tinggi Teologia Arastamar (STTAB) Kota Bengkulu, sejak Senin (28/07/2014) lalu. Puluhan mahasiswa tampak gelisah berdiri di halaman gereja GEKISIA, menanti kehadiran rombongan yang membawa jenazah, Mardin Saogo (21), korban tenggelam di Muara Jenggalu, Obyek wisata Pantai Panjang, yang ditemukan sudah tak bernyawa.

Calon Pendeta, kelahiran Tumale, Mentawai, 14 Februari 1993 ini, ditemukan oleh tim gabungan, tak jauh dari lokasi kejadian sekitar pukul 00.31 WIB, Rabu (30/07/2014), dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), M.Yunus untuk divisum.

Tak ada keluarga yang mendampingi selain kerabat dari STTAB dan pengurus gereja GEKISIA. Pasalnya, pihak keluarga Mardin, diketahui masih dalam perjalanan menuju Kota Bengkulu, yang diperkirakan akan tiba hari Jumat, (01/08/2014).

Diketahui juga, Ibu dan saudaranya menetap di daerah kecil bernama Tumale, Kepulauan Mentawai, yang masih minim sarana transportasi dan komunikasi. Sementara Mardin, sudah dua tahun lebih tinggal di asrama STTAB.

”Sejak hari Senin (28/7) kami sudah mengontak keluarga Mardi, kalau jenazah Mardin ditemukan dalam satu hari, mungkin keluarga masih bisa ditunggu untuk pemakaman. Namun, berhubung jenazah ditemukan sudah dua hari dan melihat kondisinya jenazah harus segera dimakamkan, keluarga mengizinkan untuk langsung dikebumikan,” kata Gembala Jemaat GEKISIA Kota Bengkulu, Pdt. Maruli Panggabean, Rabu (30/7/2014).

Sebelum dikebumikan, pihak gereja mengadakan kebaktian penghiburan yang merupakan pelepasan jenazah. Kebaktian penghiburan, jelas Pdt.Maruli, merupakan suatu bentuk perwujudan syukur, bukan hanya dalam suka melainkan juga duka, saling menghibur dan menguatkan kerabat yang merasa sangat terpukul dan kehilangan sosok Mardin. Setelah itu, jenazah Mardin langsung dikebumikan, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pemerintah Daerah (Pemda), Kota Bengkulu, di Air Sebakul.

Semua yang hadir dalam acara pemakaman tersebut tampak sangat kehilangan, terlebih kerabat satu angkatan dengan Mardin, yang tak henti-hentinya meneteskan air mata dan beberapa dari mereka sampai tak sadarkan diri.

prosesi pemakanan Mardin
Prosesi pemakaman Mardin

Semasa hidupnya, Mardin dikenal sebagai sosok periang, suka bercanda, dan sangat bersemangat. Meskipun dirinya, dinilai sedikit ceroboh dalam bertindak. Diceritakan Tari, kakak tingkat Mardin, di STTAB, sebelum peristiwa itu terjadi Mardin memang sudah memperlihatkan perilaku kurang wajar.

”Dia sempat bertanya ke teman kami, Sisca. Kalau saya (Mardin,red) meninggal kamu sedih nggak?. Bahkan, ke saya sendiri dia bilang, tolonglah cucikan baju saya (Mardin,red) sekali ini saja. Terus sama teman kami, Yohana dia juga bilang, Yohana kalau kamu pulang liburan nanti bawa oleh-oleh ya. Itu pun kalau masih bisa ketemu aku. Jadi, sepertinya itu memang firasat yang dirasakannya,” cerita Tari.

Tari mengatakan, saat itu Mardin pergi berenang bersama beberapa temannya, yakni Wahyu, Johan, Pianus, dan Aan. Beberapa dari antara mereka merupakan mahasiswa baru, sehingga Mardin ingin memperkenalkan lokasi itu kepada mereka.

”Sebelumnya siang itu (Senin, 28/7,red), Mardin sudah pergi ke Muara Jenggalu terus kembali lagi ke asrama. Sorenya dia pergi lagi bersama yang lain ke sana. Memang hari itu dia sudah bolak-balik dari sana. Almarhum, sebetulnya sudah diperingatkan jangan ke sana, tapi dia orangnya agak keras kepala dan suka berpetualang makanya dia tetap ke sana,” kenang Tari.

Hal senada disampaikan salah seorang dosen STTAB, Supriadi Oeth. Menurutnya, saat ini Mardin baru pulang liburan dan tampak Mardin menunjukkan reaksi kebahagiaan yang berbeda dari biasanya.

”Antara wajar dan tidak ya, wajar mungkin kalau dia senang habis pulang berlibur. Tapi, yang saya lihat Mardin menjadi pribadi yang lebih terbuka, pokoknya mendadak dia lebih banyak bercerita,” imbuh Supriadi.

Sementara sambil menunggu pihak keluarga, mahasiswa STTAB dan jemaat gereja GEKISIA tetap melanjutkan ibadah penghiburan.

Penulis : Valentina Alfarani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed