oleh

Si Pengamen Bengkulu, Dedy Tobokito Jadi Musisi Ternama

 

kupasbengkulu.com- Mungkin bagi sebagian kalangan muda di Kota Bengkulu, nama Dedy Tobokito salah satu musisi Indonesia ini masih terasa asing. Tapi adanya embel-embel Tobokito, pastinya pria ini berasal dari Kota Bengkulu.

“Dedy Tobokito nama yang diberikan guru saya waktu saya belajar di Geronimo Indonesia. Sebelum itu orang Bengkulu memanggil saya dengan nama Dedy Black, mungkin karena kulit saya yang hitam. Tapi tak apalah, yang penting hitam-hitam kereta api,” ujar Dedy berkelakar.

Dahulunya, sekitar tahun 1987-1988, pria ini akrab disapa Dedy Black, terlihat sering mengamen di Jalan Soeprapto hingga kawasan Pintu Batu, Kota Bengkulu.

“Tapi setiap saya pulang ke Bengkulu, saya masih menyempatkan diri untuk makan di kawasan itu,” ungkapnya.

Kemudian pada tahun 1989, saya pernah menjuarai Festival Lagu Anak Jalanan yang diselenggarakan salah satu Ormas di Kota Bengkulu, dan mengantarkan dirinya bergabung dengan salah satu grup band D’Bros pimpinan Aziz Khan.

“Jadi vocalis band bukan hal yang enak, karena selain jadi vocalis saya juga harus membantu memikul boks sound system. Suatu penderitaan, tapi itulah perjalanan hidup yang tak pernah saya lupakan,” tutur Pria lulusan STM Negeri Padang Harapan ini.

Pengalaman tentang bermusik mulai banyak diperoleh, ketika dirinya hijrah ke Jakarta tahun 1992, dan sempat belajar musik di Theater Taman Ismail Marzuki.

“Untuk biaya hidup saya turun lagi ke jalan mengamen di bus kota. Bahkan saya sempat diusir dari kontrakan karena tidak ada biaya lagi. Memang peruntungan saat itu tidak berpihak ke saya, apalagi tahun 1994 ayah saya meninggal dan saya harus pulang ke Bengkulu,” tuturnya lagi.

Peruntungan mulai diraih, ketika di tahun 1995 dirinya mengikuti festival Pop Singer yang diadakan oleh sanggar Komedi dengan juri yang didatangkan dari Jakarta, yaitu, dr. H. Anton Issoedibyo dan Debby Nasution. “Dan Alhamdulillah saya menjadi juara umum pada malam itu”.

Selanjutnya, dirinya dibawa oleh Anton Issoedibyo ke Jakarta dan bergabung dengan Geronimo.

“Akhirnya Mas Anton menjadi guru saya, banyak diajarkan tentang vocal dan musik selama di Geronimo. Saat itu pula saya mulai mengisi acara di TVRI, Indosiar dan ANTV,” bebernya.

Dirinya sempat kembali ke Bengkulu pada tahun 2000 dan membuat sekolah vocal Geronimo. Pernah belajar di sekolah vocal itu, diantaranya, Febri KDI, Sosro, Verra dan banyak talenta vocal Bengkulu lainnya.

Karir Internasional, mulai dijajaki, pada akhir tahun 2002, yang membuat dirinya harus kembali ke Jakarta, untuk persiapan festival musik di Qatar tahun 2003. 2 bulan dari sana, dirinya kembali berangkat ke Vietnam, mengikuti acara budaya Indonesia Food Festival.

“Pulang dari Vietnam saya bergabung dengan Purwacaraka Music School, disana saya menjadi Instruktur vocal walau hanya berjalan 1 tahun. Tahun 2004 Memilih pindah ke Yamaha Music Indonesia dan menjadi Instruktur Vocal dan Keyboard sampai sekarang,” ujarnya.

Selama di Yamaha Music, dirinya banyak perform di luar negeri, yang membawanya menjadi music director konser Diana Karazon yang dihadiri oleh Princess Basma di Amman Jordania pada tahun 2005.

“Diana Karazon adalah salah satu penyanyi top di jazirah Arab berkebangsaan Jordania. Setelah dari Jordania masih ada beberapa negara Arab yang saya datangi, antara lain Bahrain,UEA-Abu Dhabi,” ungkapnya.

Karir berlanjut di tahun 2008, di Pakistan konser di 3 kota, Islamabad, Lahore dan Karachi. Di kota tersebut, sambutan buat dirinya dan group Geronimo luar biasa, sampai akhirnya di Karachi dirinya menerima penghargaan dari Menteri Kebudayaan Pakistan. Perjalanan bersama Geronimo berlanjut ke Thailand dan mendapat penghargaan dari Rektor Mai Fah Lung University.

“Setelah dari Ciang Rai kami berangkat ke Ciang Mai untuk tampil di acara ulang tahun Raja Thailand. Tahun 2009 saya ke Canada dan tampil di acara budaya Indonesia,” tambahnya.

Pengalaman yang menegangkan, pada tahun 2009 saat ke Islamabad-Pakistan. Situasi politik yang panas dan bom dimana-mana, membuat dirinya dan teman-teman mendapat pengawalan khusus mulai dari bandara.

Tahun 2010 dirinya bergabung dengan Fenomena Band mengantikan vocalis pertama mereka Dani Mandagi. Dan sempat merilis Album ke 4, dengan lagu jagoan Monyet Panjang Buntutnya dan merilis ulang lagu Tiada yang lain dari Album pertama Fenomena.

“Dengan Fenomena saya Alhamdulillah sering tampil di acara Inbox dan Playlist SCTV juga acara RBT TPI yang sekarang MNC TV. Saya juga perform di Hongkong dan di Provider Shine Gold hongkong ada 4 lagu ciptaan saya di jual RBT nya,” imbuhnya.

Keluar dari Fenomena Band, memutuskan dirinya membuat group duo band bersama Joe Richard (pembawa acara status selebritis dan pemain sinetron). Bersama 703 Richard atau Joe Richard, nama group nya D’703 dengan single “Salah tingkah” yang lagu dan arransemen musik ditulisnya sendiri. Akhir-akhir ini, tidak sering nongol di TV karena kesibukan masing-masing.

“Itu lah sedikit pengalaman saya dari awal memulai karir sampai sekarang. Walaupun tak ada yang bisa dibanggakan. Tapi Alhamdulillah saya mensyukuri apa yang telah diberikan Allah SWT kepada saya, hingga saya bisa seperti ini,” tutupnya.(coy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed