oleh

Tabot Bengkulu dalam Kontroversial Sejarah (1)

-Tak Berkategori-64 views
Profil Tabot Syech Burhanudin (Imam Sanggolo.
Profil Tabot Syech Burhanudin (Imam Sanggolo).

Kilas Tabut
Tabut atau dalam logat bengkulu dikenal dengan nama Tabot, merupakan upacara tradisional masyarakat Bengkulu, untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan Tabot di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) Menikah dengan wanita Bengkulu dan keturunannya sudah beranakpinak, yang kini melaksanakan perayaan saat 1 hingga 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahunnya.

Musiar Danis (Mantan Pejabat di Dinas Pariwisata Provinwi Bengkulu) menulis, Perayaan ini telah diselenggarakan secara tetap oleh masyarakat kota Bengkulu sejak abad 14. Masyarakat kota Bengkulu percaya, apabila perayaan ini tidak mereka selenggarakan, maka akan terjadi musibah atau bencana. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila perayaan Tabot ini penuh dengan kegiatan kegiatan yang bersifat ritual dan kolosal

Tabot berasal dari kata At Tabut yang secara harfiah memiliki arti kotak atau peti. At Tabut sudah ada sejak zaman Nabi Musa dan Harun, pada waktu itu At Tabut dibawa turun ke bumi oleh malaikat. Menurut kepercayaan Bani Israel, At Tabut ini adalah sebuah peti atau kotak tempat menyimpan jenazah pemimpin mereka.

Kabar tersiar menyebutkan, awalnya inti upacara Tabot untuk mengenang upaya pemimpin Syi’ah dan kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamnya di Padang Karbala. Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harafiah berarti “kotak kayu” atau “peti”.

Dalam al-Quran kata Tabot dikenal sebagai sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israil pada masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang.

Benny Benardie,  penulis dan Jurnalis

Komentar

Komentar ditutup.