oleh

Tidak Punya Lahan Sawah, Petani Kebun Upahan Pikul Padi

Angkut padiBengkulu Selatan, kupasbengkulu.com – Petani kebun yang tidak mempunyai lahan sawah yang tinggal di desa Tambangan, Padang Pandan dan Desa Kembang Ayun Kecamatan Manna Bengkulu Selatan, saat musim panen padi tiba terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari harus memeras tenaga memikul karung padi.

Pirin (40) warga desa Tambangan Manna, kepada kupasbengkulu.com mengaku pekerjaan ini sudah lama dilakoninya. Apalagi dirinya sendiri tidak sama sekali mempunyai lahan sawah. Terpaksa untuk mendapatkan beras dirinya harus membanting tulang dan memeras keringat sebagai seorang pengangkut hasil panen padi warga setempat dengan cara di jujung atau di pikul menggunakan kepala.

“Saya upahan mikul padi ini dari anak saya yang pertama baru berumur satu tahun, sekarang anak saya itu sudah masuk SMP. Terkadang saya hanya minta beras saja oleh yang punya padi, terkadang juga di kasih uang,” cerita Pirin.

Dilain pihak rekan seprofesinya yakni Hendro (37) warga desa yang sama, juga sudah melakoni hal serupa puluhan tahun lamanya. Dikatakan Hendro, bahwa mereka mendapat ongkos angkut per-karung blang satu yang berisi 120 kg padi. Dari sawah yang paling ujung pada hamparan atau ataran sawah Seleku, dengan jarak tempuh 2,5 kilometer berjalan kaki, dirinya mendapat upah angut dengan cara dipikul menggunakan kepala tersebut sebesar Rp 50 ribu sampai ke titik ojek motor.

“Padi berat 120 kg itu tidak sekali angkut, akan tetapi kami bagi dua menjadi dua karung dengan dua kali angkut. Tidak mampu kalau sekali angkut, lama perjalanan saja itu memakan waktu lebih kurang satu jam, karena kami juga perlu istirahat dijalan,” kata Hendro.

Diakui Hendro, sehari dirinya palling kuat bisa mengangkut tiga karung besar padi tersebut.
“Kalau saya sendiri kemampuan jujung padi itu(ojek kepala –red) seharinya hanya dapat tiga karung besar yang sudah di bagi 6 kali angkut. Teman yang yang lain ada yang mampu hingga 4-5 karung,” ujarnya.

Menueurut cerita mereka, petani di ataran sawah Seleku ini sudah lama mendambaakan jalan Sentra Produksi (JSP) namun hingga kini belum juga di bangun pemerintah.

“Sudah ratusan tahun petani disini angkut hasil panennya dengan ojek kepala, bahkan dari nenek moyang dulu. Petani dan tukang angkutnya diisini berasal dari Desa Tambangan, desa Padang Pandan, dan Desa Kembang Ayun. Sudah turun temurun pekerjaan ini kami lakoni, hingga sekarang inipun setiap datang musim panen padi sawah pekerjaan ini masih tetap kami lakukan,” demikian Hendro.(tom)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

14 − 11 =

News Feed