oleh

Tingkatkan Harmonisasi di Tahun Kuda Kayu

Dalam penanggalan Cina, tahun ini adalah tahun Kuda Kayu, yang melambangkang kerja keras dan ketangguhan.
Dalam penanggalan Cina, tahun ini adalah tahun Kuda Kayu, yang melambangkang kerja keras dan ketangguhan.

kupasbengkulu.com – Pada puncak perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina 2565/2014 lalu, Klenteng Cheng Cui Chose atau Klenteng Air Suci di Kelurahan Lingkar Barat Kota Bengkulu, ramai dikunjugi masyarakat keturunan Tionghoa untuk beribadah. Mereka juga membawa sejumlah makanan manis berupa kue keranjang, kue mangkok dan buah-buahan.

Masyarakat keturunan Tionghoa meyakini 12 hitungan shio, yang karakteristik dan rumusan alamnya dibuat oleh para leluhur. Dalam penanggalan Cina, tahun ini adalah tahun Kuda Kayu. Menurut Pengurus Klenteng Air Suci, Edi Kasim, Kuda Kayu melambangkang kerja keras dan ketangguhan. Diharapkan pada tahun ini harmonisasi antara suku, agama, ras dan golongan di Indonesia kian meningkat.

“Setiap tahun baru kami selalu mengharapkan sesuatu yang lebih baik. Untuk tahun kuda kayu ini harapan kami masih sama dari tahun sebelumnya, semoga kedepan semuanya berjalan dengan baik, lancar dan negara kita aman dan rukun. Kekompakan umat beragama semakin erat,” ungkap Edi, Jumat (7/2/2014).

Perayaan Imlek didominasi warna merah dan keemasan, sebagai lambang kecerian dan keberuntungan. Awalnya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina untuk menyambut musim semi. Para petani tersebut bersembahyang kepada para dewa, sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun selanjutnya mendapat rezeki melimpah. Selain menjamu leluhur, Imlek juga sebagai sarana silaturahmi.

Dalam silaturahmi tersebut biasanya warga keturunan Tionghoa memberikan angpau pada anak-anak, remaja dan lanjut usia. Angpau adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek atau perayaan lainnya. Angpau melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik.

Warna merah angpau melambangkan keberuntungan dan mengusir energi negatif. Jumlah uang yang ada dalam sebuah amplop angpau bervariasi. Untuk perhelatan yang bersifat suka cita biasanya dalam angka genap, sedangkan untuk kematian jumlahnya ganjil.

Saakan telah menjadi tradisi saat Imlek anak-anak mengumpulkan angpau. Afensia misalnya, anak berusia 5 tahun tersebut mengaku telah mendapat 14 angpau pemberian kerabatnya. “Senang dapat angpau, nanti uangnya akan dibelikan mainan,” tuturnya. (beb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed