oleh

Ziarah dan Wisata Sejarah Ke Makam Pangeran Sentot Alibasyah

gerbang masuk menuju makam Sentot Alibasyah, Kota Bengkulu
gerbang masuk menuju makam Sentot Alibasyah, Kota Bengkulu

kupasbengkulu.com –  Berziarah ke makam pejuang kemerdekaan mengingatkan pada sejarah kelam masa lalu bangsa Indonesia saat masih terjajah. Pejuang yang gugur dalam merebut kemerdekaan, baik di medan perang maupun saat masa pengasingan. Nama mereka tetap harum dikenang sepanjang masa.

Pangeran Sentot Alibasyah. Ia adalah seorang panglima perang muda yang memimpin pasukannya di medan perang menghadapi kolonial Belanda. Kemudian wafat saat masa pengasingan di Bengkulu.

(Baca juga: Sejarah Suku Serawai)

Seperti diceritakan oleh Agus Salim, juru kunci (kuncen) makam Sentot Alibasyah, bahwa pangeran yang satu ini memiliki kecerdasan dan ketangkasan luar biasa. Pada usia 17 tahun ia sudah diangkat menjadi panglima perang Diponegoro.

Pada masa itu strategi dan manuver pasukan perang yang dipimpinnya sangat mengagumkan. Pasukan Belanda pun tercengang dan mengakui akan kehebatan pangeran yang satu ini.

Karena merasa kewalahan, akhirnya Belanda melancarkan siasat licik untuk menangkap panglima muda itu. Belanda membuat perangkap untuk menangkapnya dengan memanfaatkan saudaranya yang bernama Haryo Prawirodiningrat yang saat itu menjabat sebagai Bupati di Yogyakarta. Belanda mengajaknya berunding dan pangeran menyetujui.

peziarah di Makam Sentot Alibasyah
peziarah di Makam Sentot Alibasyah

Pada tanggal 24 Oktober 1829, saat upacara militer di keraton, Pangeran Sentot Alibasya ditangkap oleh kolonial Belanda. Kemudian dibawa ke Sumatera Barat dan dipaksa melawan pasukan Paderi yang saat itu dipimpin oleh Imam Bonjol.

Saat menjadi tawanan, dengan kecerdasannya ia berhasil menghubungi salah satu anak buah Imam Bonjol untuk bergabung dengan pasukan Paderi. Pangeran Sentot Alibasyah dan pasukan Paderi mengadakan kerjasama untuk mengusir pasukan kolonial Belanda dari pulau sumatera.

Namun siasat ini diketahui oleh Belanda. Akhirnya Pangeran Sentot Alibasya dibawa kembali ke Batavia untuk diadili. Pimpinan kolonial Belanda memutuskan untuk membuangnya sebagai tawanan pengasingan di Bengkulu pada tahun 1833. Akhirnya Panglima muda kebanggaan Diponogoro ini meninggal di pengasingan pada tahun 1855. Jasadnya dimakamkam oleh masyarakat Bengkulu di kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

Letak makam tidak jauh dari pusat Kota Bengkulu, hanya berjarak kurang lebih 200 meter tepat di sebelah utara cagar budaya Masjid Jamik di Jl Soeprapto Kota Bengkulu.

Bagi pengunjung yang ingin berziarah dipersilakan menghubungi Agus Salim, Juru Kunci Makam sentot Alibasyah yang beralamatkan tidak jauh dari lokasi pemakaman di Kelurahan Bajak Kota Bengkulu.

“Makam sentot Alibasyah ini sering dikunjungi orang yang ingin berziarah, baik dari dalam maupun luar kota Bengkulu. tidak jarang kunjungan dari Jawa, Sumatera. Pernah juga ada yang dari Sulawesi,” ujar Agus. (cr2)

Rekomendasi