oleh

Mau Lihat ‘Kacamata’ Terbesar, Datang ke Lebong!

IMG_3203
BERWISATA : Inilah lobang kacamata di Kabupaten Lebong.

Siapa yang tidak kenal dengan Kabupaten Lebong, Bengkulu? Saya yakin walau belum pernah berkunjung ke daerah itu, paling tidak sudah pernah mendengarnya. Sebelumnya kita harus menyadari bahwa traveling dan adventure ternyata begitu menyenangkan, mungkin Kabupaten Lebong dapat menyandang predikat dengan ‘kacamata’terbesarnya. Apa itu? Obyek wisata gua atau lobang kacamata. Bagi pelancong yang suka berlibur dengan menikmati karunia Tuhan melalui ciptaan-Nya, lobang kacamata adalah pilihan tempat wisata yang memang layak dikunjungi. Karena daerah yang berhawa dingin itu memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan obyek wisata di Provinsi Bengkulu khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Seperti apa obyek wisata, gua kacamata? Berikut laporan.

kupasbengkulu.com, Kabupaten Lebong.

”Alangke baiknya orang Belanda zaman itu. Nenek moyang kita keluar dari gua kaca mata selalu diberikan pakaian baru,” kata-kata itulah yang masih terekam sebagian warga Kabupaten Lebong di gua kacamata.

Secara geografis kabupaten ini tidak terlalu besar dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Bengkulu. Namun, kabupaten ini sempat menjadi kota terbesar kedua se Provinsi Bengkulu, sebagai pusat ekonomi penting awal abad ke-20.

Keramaian terpusat di pasar Muara Aman dengan penampilan bangunan pertokoan yang mulai modern. Tak beda dengan pasar Panorama di Kota Bengkulu. Di Kabupaten Lebong ini, pasar sudah didominasi bangunan toko berpintu rolling. Pasar itu juga menjadi tempat tumbuh Pedagang Kaki Lima (PKL) serta kios penjual makanan dan minuman saat siang dan malam hari. Mereka menambah perbendaharaan keramaian di tepi jalan.

”Ramai juga ya, di Pasar ini (Pasar Muara Aman,red) saat malam hari. Disini cuacanya  dingin sampai sampai menusuk ke bagian sum-sum tulang,” kata salah seorang pelancong asal Kota Bengkulu, Syah.

Dari pasar ini tampak sebuah bukit besar yang menjulang cukup tinggi. Ya, warga Lebong menyebutnya lobang kacamata. Lobang kaca mata terletak di Desa Lebong Tambang Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Lebong. Dari pintu masuk lobang kacamata terlihat sepasang lubang raksasa, sekilas mirip kacamata. Dengan dinding batu berwarna keabu-abuan bercampur dengan warna kekuningan dipadu warna lumut. Sungguh menajubkan!.

Untuk menuju ke lobang raksasa itu, jika Kota Muara Aman sekitar 1,5 km. Sementara jika dari Kota Bengkulu berjarak sekitar 70 km. Perjalanan dapat ditempuh, menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dengan memakan waktu sekitar 2,5 jam hingga 3 jam perjalanan. Dengan rute Kota Bengkulu – kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) – Kabupaten Bengkulu Utara. Jalan alternatif kedua, melalui Kota Bengkulu – Kabupaten Bengkulu Tengah – Kabupaten Kepahiang – Kabupaten Rejang Lebong, dengan memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan darat.

Menurut cerita lobang ini terbentuk saat masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1905–1913. Lobang buatan itu diketahui dijadikan lokasi pertambangan emas. Lobang kacamata berada di ketinggian 4,5 meter dari kaki bukit batu.

”Kini lobang kacamata dijadikan sebagai tempat wisata. Kalau pun ada warga yang mencari emas hampir tidak ada hasil,” kata Nurcholis Sastro, warga Kabupaten Lebong yang menjadi tour guide.

Didalamnya, berupa bebatuan dengan bentuk bercabang-cabang. Beberapa bagian terdapat lobang yang cukup luas. Bahkan ada ruangan selebar kurang lebih 4 meter dengan atap setinggi 2–3 meter. Selain itu, ada juga beberapa cabang lobang arahnya vertikal ke bawah. Menurut masyarakat kedalamannya mencapai 50 meter.

Pada masa kejayaan perusahaan tambang Belanda, bisa meraup emas sekitar 10 kg/hari. Pada tahun 1942 kegiatan penambangan oleh Belanda berhenti. Belanda pergi terusir oleh Jepang. Selanjutnya, penambangan dilakukan masyarakat. Hingga akhir dekade sekitar 1950-an, usaha penambangan masih terus berlangsung dengan hasil tambang kisaran 2–10 gram biji emas/hari.

”Kadar emas disana (gua kaca mata,red) memang banyak. Bayangkan saja, kadar emas waktu zaman dulu menempel di baju para pekerja tambang. Makanya, setiap pekerja yang keluar dari gua itu bajunya selalu diganti dengan baju baru. Itu dilakukan untuk mengambil kadar emas yang menempel pada baju pekerja,” cerita Sastro.

Menurut cerita, bukit yang terbentuk kacamata itu dulunya hingga ke pasar Muara Aman. Bukit yang tersisa saat ini hanya 40 persen. Sementara sisanya sudah dibelah oleh penjajah untuk meraih emas. Nasib kota-kota tambang, tidak ubahnya kisah-kisah percintaan yang berakhir dengan tidak bahagia, pada banyak buku.(gie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed