oleh

Agustin Bidan Desa Terpencil, Bekerja Tulus dengan Mata Hati

Agustin Pebriyanti
Agustin Pebriyanti

Kaur, kupasbengkulu.com – Agustin Pebriyanti (23) yang disapa akrab dengan sebutan sehari-harinya Yanti adalah seorang bidan desa di daerah yang sangat terpencil atau bisa disebut daerah ujung desa, karena posisinya terletak di bagian ujung Desa Tanjung Agung atau yang dikenal dengan Desa Trans Tanjung Agung, Kecamatan Tetap Kabupaten Kaur.

Trans Tanjung Agung sudah berdiri sejak tahun 2011 lalu dengan jumlah 200 Kepala Keluarga (KK). Dari jalan raya lintas barat dibutuhkan waktu 1 jam lebih menuju Trans Tanjung Agung dengan jarak kurang lebih 15 kilometer (KM) lebih. Dari Desa Tanjung Agung sendiri dibutuhkan 40 menit dengan jarak tempuh 8 Km untuk sampai ke Trans Tanjung Agung, dengan melewati medan jalan yang sangat ekstrim yakni kondisi jalan masih tanah liat dan hanya beberapa saja yang di rabat beton karena jalanan menanjak dan curam, selain berlubang jalanan tersebut hanya bisa dilewati jika jalanan kering atau cuaca panas. Jika hujan, jalanan tidak bisa dilewati, karena berlumpur, tidak jarang motor dan mobil terpater disana karena terjebak lumpur.

Yanti Bidan Desa yang sudah dua tahun mengabdi di daerah tersebut merupakan salah satu bidan yang mempunyai niat yang tulus dan ikhlas serta punya jiwa sosial yang tinggi, perjuangannya di desa ini salah satu bentuk pengabdian yang ia anggap luar biasa untuk memenuhi panggilan hati dan tanggung jawab profesi sebagai seorang Bidan yang diharapkan masyarakat.

Dua tahun yang lalu Yanti mengisahkan, tepatnya pada tahun 2013 ia diminta oleh Kepala UPT Trans Tanjung Agung untuk datang kelokasi Trans dalam rangka survey di daerah dimana ia akan ditugaskan.

Jalan desa lokasi bidan Agustin Pebriyanti bertugas
Jalan desa lokasi bidan Agustin Pebriyanti bertugas

“Waktu itu pertama kali saya datang ke sini pada 2013 lalu, dengan kondisi jalan masih sempit dan sangat buruk. Saya naik ojek kayu dan sempat terjatuh di jalan, karena jalanan tidak bagus. Waktu itu saya belum mendapatkan SK untuk bertugas di sini, dan baru survei saja. Saat tiba di lokasi saya disambut oleh puluhan warga untuk berobat, rupanya mereka sudah tahu akan kedatangan kami. Dan ditempat praktek memang sudah ada peralatan seadanya. Dengan kebijakan dari Kepala UPT Trans saya diperbolehkan untuk mengobati mereka meskipun baru pengobatan dasar,” tutur Yanti.

Melihat antusias masyarakat setempat Yanti tergerak hatinya untuk mengabdikan diri di daerah tersebut. Karena dengan jarak tempuh yang sangat jauh dari pelayanan kesehatan ia berfikir bahwa hal ini merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang bidan. Dengan sarana dan prasarana yang sangat minim dan medan yang berbahaya akhirnya Yanti menetap di Tran Tanjung Agung pada 2013.

Yanti tidak pernah mengeluh dengan profesinya meskipun dengan keterbatasan pelayanan. Ia mengatakan di daerah tersebut mereka adalah tim kesehatan dibawah naungan Dinas Sosial yang saat ini sangat membantu dalam penyuplaian obat dan memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan gratis. Dan tidak jarang Yanti merujuk pasien yang ingin melahirkan ke Puskesmas, karena keterbatasan sarana dan prasarana, dan tetap menemani pasien meskipun jalanan sangat buruk dan bergelombang.

“Kami pernah merujuk pasien yang memang tidak memungkinkan untuk kita tangani disini, dan saya tetap menemani pasien ke bawah (Puskesmas) dengan jarak 16 kiloan dengan melewati jalanan yang berlobang dan berlumpur serta bergelombang, dengan menggunakan mobil jip pengangkut sawit pinjaman. Meskipun kita tidak tega melihat pasien merintih kesakitan, namun tetap kita lakukan karena tidak ada jalan lain. Dan selama dua tahun disini, meskipun dengan keterbatasan obat, ibu-ibu hamil yang kita bantu melahirkan alhamdulillah selamat semua,” ungkap Yanti.

Hingga pada pertengahan 2014 lalu ia mendapat satu teman yakni Intan Mardiyanti (23) yang ditugaskan di daerah tersebut untuk menemani Yanti dalam melayani kebutuhan pengobatan masyarakat.

Saat ini yang menjadi kendala di daereah tersebut yakni belum adanya pelayanan pelayanan posyandu, karna terkendala vaksin yang belum bisa dinaikan, serta listrik yang belum normal, karena masih menggunakan tenaga surya dan setiap malam hanya beberapa jam saja bisa menikmati lampu tenaga surya tersebut.

Meskipun dengan keterbatasan obat serta sarana dan prasarana minim keduanya mengakui sangat senang mengabdi di Trans Tanjung Agung karena sangat dibutuhkan dan diterima oleh masyarakat setempat.

“Selama dua tahun di sini saya sangat menikmati, karena kehadiran kami sangat dibutuhkan dan diterima baik oleh masyarakat, namun ada yang sangat menjadi kendala dan perlu diketahu bahwa masyarakat disini sangat membutuhkan peningkatan jalan, karena kondisi jalan saat ini sangatlah rusak parah, dan jika hujan masyarakat tidak bisa turun ke bawah untuk mencari nafkah dengan membawa hasil kebun ke pasar untuk dijual,” pungkas Yanti.

Penulis: Menti Saputri, Kaur

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

19 − six =

News Feed