oleh

AM Hanafi Sang Perlente Kawan Soekarno yang Disambut Fidel Castro

AM Hanafi (kiri) bersama Fidel Castro (kanan), Foto: Dok/margasarimaju.com

AM Hanafi atau Anak Marhaen Hanafi (lahir di Bengkulu, Hindia Belanda, tahun 1918 –meninggal di Paris, Prancis, 2 Maret 2004 pada umur 85/86 tahun) adalah mantan Menteri Urusan Tenaga Rakyat (1957–1960) dan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba (1963–1965).

Berjas perlente dan sama perlente nya dengan Bung Karno, itulah gaya AM Hanafi muda. Hanafi menemani BK sejak saat pembuangan di Bengkulu. Ia anak politik BK karena itu nama depan AM ia dapatkan dari BK yang berarti Anak Marhaen.

Bung Karno dibuang Balanda ke Bengkulu tahun 1938-1942. Ada banyak teman BK selama pengasingan. Hasan Din, ayah Fatmawati adalah teman berdiskusi BK soal agama. Bahkan Hasan Din pernah meminta BK mengajar di sekolah Muhamamdiya di Sukamerindu Bengkulu. Ada Abdul Manaf, ini teman seni BK. Bersama Manaf, BK mendirikan kelompok sandiwara Tonil Monte Carlo. Ada anak muda yang terpaut jauh umur dengan BK: AM Hanafi. Ia selalu “ngintil” setiap BK bicara politik.

Setelah dibawa BK ke Jakarta, Hanafi tumbuh sebagai pejuang radikal. Ia aktifis Menteng 31, sebuah rumah yang digunakan banyak tokoh pemuda seperti, Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik dan Hanafi senidiri untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Jika bukan Sukarni dan Hanafi tak menculik BK dan Hatta ke Rengas Dengklok pada satu malam sebelum proklamasi, mungkin kita juga tak segera merdeka.

Hanafi juga yang mengorganisir pemuda melakukan Rapat raksasa di lapangan Ikada yang dikenal dengan nama Rapat Ikada, 19 September. Ikada yang kini adalah lapangan monas itu diorganisir Hanafi dan pemuda pemuda dari Menteng 31 agar rakyat memberi dukungan kepada BK dan Hatta untuk memimpin negara ini. BK awalnya tak mau menghadiri rapat ini karena sangat berbahaya bagi masyatakat yang datang karena bisa diserang Jepang kapan saja. Adam Malik pun tak suka cara Hanafi mengumpulkan dan mungkin mengorbankan massa tapi BK diberitahu Chairul Saleh bahwa AM Hanafi menjamin keselamatan BK. Mendengar ini BK pun tak gentar dan meneriakkan salam nasional “Merdeka”.

Sepanjang awal kemerdekaan Hanafi menduduki posisi penting di republik ini. Ia pernah menjadi Menteri Pengerahan Tenaga Rakyat, Anggota Dewan Pertimbanhan Agung, Anggota MPRS, Komite Pembebasan Irian Barat dan Pendiri Badan Musyawarah Besar Angkatan 45.

1963, tiga tahun sebelum PKI memberontak AM Hanafi diminta BK menjadi Dubes di Kuba. Negara sekutu penting BK ketika pemerintahannya condong ke kiri di era itu. Ia hanya ingin Hanafi yang jadi dubes, setelah Marsekal Suryadharma ditolak oleh Fidel Castro. Hanafi sempat menolak ditempatkan di Kuba karena alasan keluarga. BK sampai memanggil istri Hanafi dan membujuknya, BK tau Hanafi lemah sama bujukan istrinya. “Setahun saya tak mau ketemu BK, supaya tak ditugaskan ke Kuba” kata Hanafi kepada Majalah Tempo.

Rayuan sang istri meluluhkan hati Hanafi. Hanafi menghadap BK di Istana Bogor. Terlihat betapa sumringahnya wajah BK ketika tau Hanafi mau ditempatkan di Kuba. BK berkata, Fidel Castro akan sangat senang jika Hanafi menjadi Dubes RI di Kuba.

“Kawanku Fidel yang baik. Sebenarnya Duta Besar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia tetapi Saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Indonesia dan Kuba adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadapai musuh, yaitu nekolim. Sekian dahulu, kawanku Fidel. Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba” bunyi surat Soekarno yang diantar langsung AM Hanafi kepada Fidel Castro, dikutip Majalah Tempo.

Fidel Castro memang menyambut hangat Hanafi. Hanafi dibuat macam duta besar yang amat penting di sana. “Saya pernah kaget, ketika garda nasional Kuba masuk ke KBRI di Havana dengan mematikan lampu,” cerita Hanafi. “Saya marah mengapa lampu dimatikan tapi sang pengawal bilang, Mr Ambasador, El Comandante mau berjumpa”. Begitulah, Castro bercerita ia tak ingin perbincangan dengan Hanafi diketahui banyak orang.

Peristiwa G30SPKI meletus, pemerintahan BK berganti ke Jenderal Soeharto. Hanafi diminta pulang tapi ia menolak karena menganggap pemerintahan Soeharto tidak sah. Soeharto membalas dengan mancabut passport Hanafi. Jadilah Hanafi stateless, tak punya kewarganegaraan. Beruntung Fidel Castro tetap baik dan tetap memberlakukan status diplomat kepada Hanafi. 5 tahun Hanafi dan keluarga dibiayai oleh Castro.

Rasa tak enak hati dibiayai oleh Castro membuat Hanafi dengan tabungan tersisa menjadi pelarian politik di Paris. Pemerintahan sosialis Perancis memang banyak menampung exile Indonesia ketika itu. Untuk menghidupi keluarganya Hanafi mendirikan restoran Indonesia “Djakarta-Bali”. Usaha ini tak maju sebab KBRI melarang orang orang Indonesia makan di restorannya. “Mereka bisa dicap komunis kalau makan di restoran saya” kata Hanafi. Ia kemudian menjadi pengajar bahasa Indonesia di sekolah dan kampus.

2 Maret 2004 di Paris, AM Hanafi meninggal dunia di Paris, seperti wasiatnya ia minta dimakamkan di Indonesia. Jenazah Hanafi tiba di Indonesia 10 Maret 2004 dan dikebumilan di TPU Tanah Kusir. Kisah sebagai pendiri republik tapi mati sebagai pelarian politik adalah fragmen kehidupan si Anak Marhaen.

Nama AM Hanafi mungkin tak dikenal dalam hafalan sejarah anak anak sekarang. Ia memang tak bergelar pahlawan nasional. Namun, kisahnya sebagai pendiri Asrama Menteng 31, tempat anak muda berkumpul dan mendesak BK segera memerdekakan Indonesia, terpampang jelas di pintu utama gedung yang kini bernama Gedung Juang 45.

Kini Pemprov Bengkulu mengusulkan namanya untuk diberikan gelar pahlawan nasional. Gubernur Rohidin Mersyah baru saja menemui Mensos Tri Rismaharini untuk mengusulkan AM Hanafi bersama tokoh asal Bengkulu Indra Tjahya diberi gelar pahlawan nasional. Usulan itu berawal dari inisiatif Pusat Kajian Politik, Agama, dan Perdaban (PUSKAPP) Bengkulu yang memandang AM Hanafi layak mendapat gelar pahlwan nasional.

“Saya bukan ahli sejarah tapi karena kegelisahan melihat tonggak sejarah Provinsi Bengkulu yang pernah menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, dimana Bung Karno pernah dibuang ke Bengkulu. Saya pikir dari prespektif sejarah itu ada entitas yang bisa diangkat, itu awalnya kita melihat sosok AM Hanafi” kata Direktur PUSAKPP, Qolbi Khairi.

Rekomendasi