oleh

Antara Peci dan Bising Mobil

Heri (47) penjual peci
Heri (47) penjual peci

Pagi ini, Heri (47) masih bolak-balik di terminal Nakau. Pagi kemarin hingga beberapa pagi yang lalu, ia melakukan hal yang sama, bolak-balik menjajakan peci bermerek.

Peluhnya jelas mengalir, di wajah tua sawo matangnya. Rambut yang sebagian tampak memutih, menyembul sedikit dibawah peci hitam polosnya, juga terlihat basah oleh peluh. Ketika ditanya berapa peci yang terjual hari ini, jawabannya keluh.

“Hari ini apes, barang satupun tak ada yang laku,” jawabnya letih.
Benar saja, tak ada sebuah peci pun yang laku hari ini. Mulai dari ketika ia berhimpitan dalam angkot (angkutan kota) yang sesak dari Pasar Panorama, sudah dicoba menjajakan peci.

“Bisa jadi kan, didalam mobil ada yang cocok dengan peci daganganku,”katanya.

Senyumnya berkembang, ketika seorang lelaki berumur kira-kira setengah abad dan bercambang mulai melirik peci-pecinya. Dari peci lusuh yang dipakai calon pembeli itu, jelas bahwa ia ingin peci baru. Tapi senyum itu berubah murung, ketika tawar menawar harga tidak sesuai yang diharapkan. Untuk peci bermotif, ia tawarkan seharga Rp 75 ribu, sedangkan peci hitam polos dijual Rp 50 ribu.

“Dia tadi menawar Rp 25 ribu, aku tidak kasih,”jawabnya murung.

Heri hanyalah salah satu dari puluhan penjaja peci keliling yang mulai menjamur menjelang Ramadhan. Heri, yang biasanya bekerja serabutan, mencoba menggantungkan hidupnya pada peci-peci dagangannya. Maklum, ia sadar betapa banyaknya uang dibutuhkan menjelang ramadhan dan hari raya.

“Anak saya dua, satu kelas 4 SD, satu kelas 2 SMP, baju lebaran biasanya mereka tidak minta, tapi kalau keuntungan peci ini besar, aku bisa belikan baju untuk mereka,”lirihnya.

Ia juga bercerita bahwa peci lebih dipilihnya, daripada berjualan petasan. Meskipun keuntungan berjualan petasan lebih menjanjikan, tapi betapa terganggunya orang lain dengan petasan itu menjadi pemikiran lainnya.

“Kalau peci bisa untuk ibadah, kalau petasan bisa ganggu ibadah, itu saja kok,” jawabnya sambil bergegas masuk ke angkot kearah Karang Tinggi dengan terburu-buru.

Sambil melambaikan tangan, pertanda pamit, ia kemudian kembali melaju bersama peci-pecinya dan bising kendaraan demi satu tujuan. Mencari sesuap nasi dengan cara yang halal.

Penulis : Adhyra Irianto

Rekomendasi