oleh

Aroma Irama Kampung Nelayan Malabero

unnamed (1)

kupasbengkulu.com- ” Sekilo paling murah Rp. 50 ribu , dijamin bagus kualitasnya” Wanita paruh baya itu menjelaskan harga ikan kering yang ia jajahkan di kios kecil.

“Kami di sini semuanya nelayan, sudah turun temurun menekuni profesi ini, kerja lain susah lagipula kami tidak ada keterampilan untuk kerja lain” Pria 38 tahun bernama novi itu mengungkapkan alasannya bertahan menjadi nelayan sambil menggulung benang pukat.

Novi merupakan satu dari ratusan nelayan kampung malabero, Kota Bengkulu yang menggantungkan kehidupan dari melaut. Hasil tangkapan yang tak menentu tetap membuat mereka bertahan, meski keinginan untuk menambah penghasilan selalu ada.

Kampung nelayan Malabero, begitu dekat dengan pusat kota Bengkulu. Hanya dengan hitungan beberapa menit kita bisa menyambanginya, tidak jauh dari jejak sejarah Bengkulu Benteng Marlborough.

Aroma ikan kering yang khas dan sedikit amis akan menyapa indera penciuman ketika mulai memasuki kampung ini. Sehabis zuhur hingga sore di pinggir kampung yang menghadap langsung ke pantai, kita akan menjumpai banyak nelayan sedang memperbaiki jaring dan pukat mereka. Di sudut lain terlihat proses jual beli ikan segar hasil tangkapan rombongan nelayan yang berangkat tadi malam.

unnamed (4)

Gelak tawa renyah menghiasi perputaran waktu mereka, sambil memberi batu es pada ikan atau memandang uang hasil penjualan. Tak jarang pula mereka harus mengelus dada memandang laut lepas pasrah menikmati angin yang asin jika sedang badai atau ikan tak kunjung ditemukan.

“Kalau sedang dapat sedihnya, kami hanya merugi. Uang sudah keluar untuk beli solar tapi ikan tidak ada jadi terpaksa pulang dengan tangan hampa. Mau bagaimana lagi, ini sudah resiko, belum lagi kalau badai kan jadi cuma beginilah membetulkan pukat atau jaring,” tutur Novi.

Sadar bahwa tak setiap hari ada ikan yang berhasil dibawa pulang , masyarakat di sini mulai menjual aneka ikan kering. Biasanya pembeli adalah wisatawan dan masyarakat yang ingin memberi oleh oleh untuk kerabat di daerah lain. Adalah Herman L Hasan, Ketua Kelompok Nelayan Cinto Sesamo yang pertama kali mengawalinya, lalu jejaknya diikuti oleh nelayan lain.

Menurut Herman, para nelayan Kampung Malabero tergolong masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Penghasilan mereka rata rata hanya Rp. 1 juta perbulan.

“Nelayan di sini sekitar 700 orang dari RT 6 sampai 10, perhitungan ini diambil karena melihat dari jumlah KK yang mencapai 220 lebih. Sementara dalam satu KK bisa ada dua atau tiga nelayan,” katanya.

Bantuan dari pihak pemerintah selama ini dinilainya kurang tepat sasaran sehingga tidak memberikan efek membantu terhadap kehidupan nelayan di sini.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian, bukan sekedar bantuan. Maksudnya begini, selama ini jika ada pelatihan maka itu hanya berbentuk ceremonial saja. Maunya kita kan pelatihan itu sungguh sungguh, biar kita dapat betul ilmunya karena kalau punya ilmu dan bisa menata perekonomian nelayan tidak butuh bantuan kesehatan gratis atau pendidikan gratis, mereka bisa pilih yang berkualitas,” ujarnya.

Herman juga menambahkan, karena sulitnya mendapatkan bimbingan dari pihak pemerintah, ia lalu memutuskan mengadopsi ilmu para pengguna perahu bermesin dari Sumatera selatan untuk perahu nelayan di kampung ini yang pada tahun 90an masih menggunakan dayung.

“Waktu itu saya dicemooh waktu pertama kali mencoba menggunakan mesin pada perahu sekitar tahun 2000, tapi Alhamdulillah sekarang semuanya nelayan di sini menggunakan mesin. Nah setelah kita mulai menggunakan mesin, barulah pemerintah memberikan bantuan mesin. Kalau sebelumnya tidak, ini kan artinya pemerintah tidak inovatif. selanjutnya kita harap sebelum memberi bantuan lihatlah kebutuhan nelayan agar bantuan bisa dimanfaatkan dengan optimal,” bebernya.

Ungkapan dari Herman, mungkin hanya sekelumit irama keluhan dari kampung nelayan. Meski terkadang jengah dengan kehidupan sederhana terpayung dalam rumah beratap seng tua, tapi kampung ini adalah salah satu urat Provinsi Bengkulu.

Dari kampung ini, puluhan bahkan ratusan kilo ikan tersebar ke tangan pembeli dari berbagai penjuru lalu menjelma menjadi hidangan lezat, mencukupi gizi untuk kehidupan, kecerdasan dan pertumbuhan.

Kehadiran para nelayan turut menyeimbangkan perekonomian. Tanpa nelayan tidak akan ada rumah makan,pedagang ikan di pasar dan pabrik pengelolah ikan Bukankah para nelayan pantas untuk hidup lebih baik jika melihat besar baktinya pada negeri ini.

Karena nelayan yang berani menghadapi semua resiko keganasan lautan bukan hanya bekerja untuk dirinya dan keluarga tapi juga untuk sesama, begitu pula nelayan di kampung nelayan Malabero.(cr10)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed