oleh

“Ayo, Nikmati kopi yang airnya dimasak dari kotoran sapi,”

Peralatan teknologi pengolahan kotoran sapi menjadi gas
Peralatan teknologi pengolahan kotoran sapi menjadi gas

“Ayo, Nikmati kopi yang airnya dimasak dari kotoran sapi,” kata Yoyok Sumardi (31) warga Kota Bengkulu, Kelurahan Lingkar Barat, RT 08, RW, Selasa (7/10/2014).

Matahari telah beranjak naik, agak panas memang. Namun, Yoyok Sumardi terlihat cekatan membersihkan lantai kandang sapinya menggunakan selang penyemprot air. Air yang bercampur kotoran sapi itu mengalir ke sebuah bak penampungan dari semen berukuran 0,5 meter X 1 meter.

Dari bak penampungan tersebut terlihat pipa paralon berukuran sedang mengarah ke sebuah tabung terbuat dari fiber berukuran besar. Dari tabung inilah, kotoran sapi tersebut berubah menjadi gas yang dapat dimanfaatkan keluarganya.

Sebelumnya, Yoyok telah mendemonstrasikan kepada kupasbengkulu.com bagaimana kotoran sapi itu berubah menjadi gas. Cekatan tangan kekar Yoyok menyalakan kompor gas dan menjerang air, tak ada lagi bau kotoran sapi saat gas keluar dari kompor, dan apinya juga berwarna biru, di dekat kompor terdapat panel sederhana sebagai indikator gas.

Tak lama, air tersebut masak dan dengan lincah ia meracik air mendidih yang dimasak dari kotoran sapi itu menjadi dua gelas kopi nikmat, satu untuk dia dan satu untuk kupasbengkulu.com.

Ia mengisahkan, telah lima tahun kelompok peternak sapi di daerah itu menggunakan bahan bakar gas dari kotoran sapi untuk kebutuhan rumah tangga.

Kelompok ternak sapi Yoyok dinamakan “Muara Dwipa”, ia merupakan salah seorang anggotanya. Muara Dwipa memang kelompok aktif sehingga dilirik pemerintah dan mendapatkan hibah pengolahan kotoran sapi menjadi gas.

“Kelompok peternaknya terdapat 20 anggota semua beralih ke bahan bakar gas kotoran sapi, kata istri saya dapat menghemat pengeluaran hingga 20 persen per bulan,” cerita sambil menyeruput kopi panasnya.

Cerita kotoran sapi menjadi gas dan api lalu tercipta dua gelas kopi kami lanjutkan di teras rumahya.Ia katakan rata-rata anggota kelompok peternaknya memiliki lima hingga enam ekor sapi. Awalnya kotoran sapi hanya ditumpuk begitu saja atau dibuat pupuk, tapi tak begitu maksimal penggunaannya.

“Kotoran sapi yang biasa menumpuk setiap pagi di kandang dibuat bak penampungan yang posisinya lebih rendah dari kandang sapi, jadi pagi hari saya tinggal semprot saja selang air ke lantai kandang sapi dan kotoran berpindah ke bak penampungan,” bebernya.

Untuk satu gerobak sorong kotoran sapi dibutuhkan sekitar 100 liter air, setelah ditampung di bak penampungan kotoran tersebut diaduk menggunakan kayu dan didiamkan sekitar dua jam, setelah itu saat kompor dinyalakan maka secara otomatis adukan kotoran sapi akan berpindah ke tabung fiber dan menjadi gas lalu menyalalah api.

“Inilah hasilnya, kita bisa menikmati kopi panaskan,” ujarnya berseloroh.

Ia membujuk kupasbengkulu.com untuk menikmati kopi yang ia buat, agak ragu awalnya kupasbengkulu.com menyeruputnya, namun saat lidah disiram kopi, wow, nikmat kopi merasuk di mulut dan tak ada bedanya dengan dimasak pada gas atau bahan bakar lainnya.

“Bagaimana, masih nikmatkan,” celetuknya sambil tak berhenti tertawa.

Ia lanjut bercerita, empat kubik kotoran sapi bisa digunakan selama empat jam pemasakan. Memang banyak empat kubik kotoran sapi tapi karena setiap hari diisi terus maka hal tersebut akan mudah dipenuhi.

Gas dari kotoran itu akan semakin baik saat musim panas, matahari mempercepat proses pembuatan gas.

“Kalau panas gasnya akan bagus tapi jika hujan maka gasnya tak begitu maksimal paling hanya bertahan dua jam,” jelasnya.

Yoyok juga menjelaskan pembuatan alat tersebut sedikit mahal, dimana untuk kapasitas empat kubik membutuhkan Rp 35 juta dan tujuh kubik sekitar Rp 50 juta.

“Mahalnya di tabung fiber, namun kalau disiasati dengan tabung yang kualitasnya sama dengan  fiber saya rasa akan lebih murah, begitu juga dengan instalasinya,” jelas Yoyok sambil menyeruput kopi.

Meski terbilang mahal dia katakan penggunaan alat tersebut dirasa akan cukup lama, bahkan ia memprediksi jika dirawat dengan baik alat-alat tersebut maka umurnya bisa lebih dari 50 tahun.

“Bayangkan 50 tahun kita tak perlu repot memikirkan bahan bakar, terserah mau gas elpiji naik berapa saja kita tenang saja,” ujarnya terkekeh.

Sebelum menggunakan olahan kotoran sapi, keluarga Yoyok menggunakan kayu bakar dan hal ini diakuinya merusak hutan.

“Meski menggunakan kayu bakar dari hutan dari ranting-ranting kan lama-lama habis juga pohon, itu kan merusak, kalau kotoran sapi tidak, hemat, selanjutnya sisa pengolahan gas bisa digunakan pupuk kompos, kata dia bersemangat.

Ia juga menyatakan beberapa rekannya yang lain bahkan mulai memanfaatkan sisa kotoran sapi yang telah dimanfaatkan sebagai gas untuk dikelola menjadi pupuk kompos yang tentunya hal itu bisa mendapatkan tambahan bagi rumah tangga peternak.

Banyak Peminat

Setelah lima tahun mereka menggunakan teknologi tersebut sebagai bahan bakar, ia jelaskan mulai banyak juga masyarakat Bengkulu yang mencoba menggunakan cara serupa. Tak jarang ia diminta untuk berbagi pengalaman dengan masyarakat di luar Kota Bengkulu, seperti Lebong dan Rejang Lebong.

“Kalau banyak warga pakai ini, maka tak akan pusing lagi mikirkan elpiji mau naik atau tidak terserah kita tenang saja,” demikian Yoyok sambil menyeruput kopi terakhir di gelasnya. (kps)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed