Beranda DAERAH BENGKULU TENGAH Balai Buntar, Pusat Kerajaan yang Terlupakan

Balai Buntar, Pusat Kerajaan yang Terlupakan

0

Balai Buntar

kupasbengkulu.com – Bila anda lewat jalan lintas Bengkulu – Tais, maka anda akan melewati sebuah kompleks pemakaman di desa Pondok Kelapa, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Kompleks pemakaman ini disebut Balai Buntar, ternyata menyimpan kisah yang sangat luar biasa, dibanding hanya sekedar kompleks pemakaman.

Balai Buntar merupakan pusat dari Kerajaan Sungai Limau yang menguasai tanah Bengkulu sekitar 9 abad yang lalu. Sedangkan untuk daerah yang sekarang menjadi kompleks pemakaman itu adalah pusat kerajaan yang dipimpin oleh Maharaja Maha Sakti.

Juru kunci Balai Buntar, Ibnu Sahir menceritakan kisah-kisah magis yang luar biasa, menyangkut Balai Buntar tersebut. Dikatakannya, ada 7 raja yang dikuburkan disana, yakni Raja Maha Sakti, Putri Gading Cempaka, Raja Mangkuto, Raja Alamsyah, Raja Matiko, Raja Arya dan terakhir Syeh Muhammad Alim.

“Namun, dua yang paling terkenal adalah Raja Maha Sakti dan Putri Gading Cempaka,” terang Ibnu Sahir.

Dikisahkan, bangunan balai buntar dahulu hanya dibangun dengan sebatang manau (Rotan) sebagai pengait, sebatang Cendana sebagai tiang, sehelai rambut sebagai atap, dan tulang. Tentu saja, bangunan tersebut menjadi begitu besar, karena diluar jangkauan fikiran manusia saat ini.

Bangunan tersebut, lanjut Ibnu Sahir, dibangun oleh 7 orang tukang. Tragisnya, ketujuh tukang tersebut dibunuh setelah menyelesaikan pembangunan balai buntar. Mereka dibunuh dengan cara dikuburkan hidup-hidup disalah satu tempat, juga di desa tersebut.

“Alasannya, sang raja tidak ingin ada dua bangunan Balai Buntar di tempat lain, sehingga para tukang itu di tambak (dikubur hidup-hidup) setelah sebelumnya tidak berhasil dibunuh dengan cara apapun,”lanjutnya.

Sayangnya, dibalik cerita sejarah yang begitu panjang dan mengagumkan, situs wisata sejarah ini justru terbengkalai. Setelah dipugar beberapa tahun yang lalu, kemudian dibuatkan gerbang dan dipasang lampu penerang, justru belum lagi ada kucuran dana mengalir untuk pengembangan situs sejarah ini.

“Jangankan untuk honor menjaga Balai Buntar, atau membangun kembali bangunan yang belum selesai di dalam kompleks, untuk membayar listrik dari lampu yang dipasang disana saja, saya selaku kuncen (juru kunci) memakai uang pribadi,” pungkasnya.(vai)