oleh

Belajar Menulis Pelajar Kota Bengkulu: Lautan Sampah jadi Ladang Uang bagi Ariel

Anak-anak pemulung sampah di TPA Air Sebakul
Anak-anak pemulung sampah di TPA Air Sebakul

Oleh: Habib Alpajriwan*

Minggu (7/9/2014) Pukul 06.00 WIB , Ariel sudah siap dengan alat untuk memulung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Sebakul, Kota Bengkulu dengan membawa karung dan “penceker” atau alat mengais sampah, ia pun menuju TPA.

Sesampainya di TPA Ariel sudah disambut dengan bau menyengat, pemandangan yang kotor kumuh sudah biasa baginya.
Tanpa sepatu ia memulai mengais sampah, tak ada kata malu apapun pekerjaanya yang penting halal baginya, ia tak takut akan terinjak pecahan kaca atau semacamnya yang tak terlihat di tumpukan sampah.

Pada saat hari mulai panas Ariel pun istirahat di gubuk yang sudah dibuat oleh para pemulung. Panasnya hari semakin menjadikan sulit untuknya mengais sampah.

Lanjut cerita sekarang Ariel duduk dikelas 2 SD ia sejujurnya masih terlalu kecil untuk perkerjaan ini, tapi apa boleh buat ia terpaksa membantu orang tuanya demi kebutuhan ekonomi.

Bukan Ariel seorang yang bernasib seperti dia banyak bocah lain sama denganya. Bagi Ariel TPA ini adalah ladang uang, sebenarnya orang tuanya tak tega menyuruh Ariel untuk “menyeker”(mengais sampah) tapi karena kebutuhan ekonomi yang mendesak mereka terpaksa membiarkan aktifitas buah hatinya.

Pendapatan Orang tua Aril per harinya hanya sekitar Rp 60.000 itu juga dengan bantuan Ariel, tak jarang ia menemukan rezki di TPA, ia pernah mendapat uang di tumpukan sampah.

Tak seperti anak lainnya yang sibuk bermain pada hari minggu atau jalan-jalan bersama keluarganya, sedangkan Ariel bekerja setiap hari untuk membantu keluarganya.

Ariel bercita-cita menjadi seorang TNI, sungguh cita-cita yang besar bagi dia.Tak banyak yang bisa didapatkan oleh Ariel ia hanya bisa mendapatkan satu hingga dua kilo gram sampah plastik atau besi per harinya, setiap kilo dihargai dengan Rp 2.000 sesuai dengan barang yang ia dapat, terkadang ia menemukan beberapa alat yang masih bisa dipakai seperti sepatu dan lain-lain.

Pada saat Truk sampah datang ia dan pemulung lainya sudah berlarian untuk mengabil barang yang bisa dijual, tak jarang Ariel berebut barang bekas yang masih bisa dijual sampai terkadang mereka bertengkar, tetapi tak lama setelah itu mereka berbaikan lagi.

Para pemulung pernah mencari perkerjaan lain tapi mereka lebih memilih kembali menjadi pemulung karena pengahasilan mereka lebih banyak jika menjadi pemulung.

Berbeda cerita dengan Pak Samsul ia bekerja malam dan tidur di sebuah gubuk yang ia buat dari terpal bekas tak jarang ia menemui ular dan hewan-hewan berbahaya lainya.

Mereka sering terkena sakit batuk ketika sepulang dari memulung sampah. Banyaknya lalat dan kotornya TPA menjadi sarang kuman yang harus dihadapi oleh Ariel.

Sisi Positif dengan adanya para pemulung adalah barang-barang yang masih bisa didaur ulang di TPA menjadi tak terbuang percuma, juga menjadi pekerjaan untuk mereka yang membutuhkan.

Inilah potret dari jutaan masalah yang ada di negeri tercinta ini, mereka sanggup menghadapi Menyengatnya bau sampah demi hidup.

Penulis : Habib Alpajriwan, Siswa SMKN 1 Kota Bengkulu, Peserta Pelatihan “Menjadi jurnalis itu Menyenangkan” yang digelar kupasbengkulu.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 × three =

News Feed