oleh

Bengkulu Masuk Provinsi Tertinggal, Ridwan Mukti: Kita Bisa Lebih Baik

Ridwan Mukti
Ridwan Mukti

kupasbengkulu.com – Ratusan relawan Ridwan Mukti, yang berasal dari Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah, dan Seluma berkumpul di salah satu hotel ternama di Kota Bengkulu guna mendeklarasikan dukungannya kepada Ridwan Mukti yang akan melaju pada Pemilihan Gubernur Bengkulu tahun 2015 mendatang. Mereka yang datang merupakan koordinator setiap desa yang siap mendukung langkah Ridwan Mukti menuju “Bengkulu 1”.

Pria kelahiran Lubuk Linggau, 21 Mei 1963 ini mengungkapkan berdasarkan survei terakhir, Provinsi Bengkulu berada pada posisi ke-31 dari 34 Provinsi di Indonesia, yang berarti Bengkulu merupakan salah satu “Provinsi Tertinggal”. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya daerah yang belum tersentuh listrik, perbaikan jalan yang belum maksimal, fasilitas sekolah dan kesehatan yang masih perlu banyak pembenahan, serta industri yang masih kalah jauh dibanding daerah lain.

“Melihat kondisi ini kita harus membangun Bengkulu dengan kerja keras yang lebih ekstra lagi, dengan kerja cerdas serta kerja ikhlas,” ujar Ridwan, Sabtu (30/08/2014).

Menurutnya, untuk bisa terlepas dari ketertinggalan, perlu diwujudkan dengan sejumlah pembangunan berskala besar di Provinsi Bengkulu. Pembangunan proyek besar yang diperlukan adalah proyek yang berdasarkan aturan kelas nasional, yaitu yang dikeluarkan oleh Presiden.

Berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, pria yang pernah menduduki kursi DPR/ MPR RI sejak 1999-2009, dan dua periode menjadi Bupati Musi Rawas ini optimis hanya dalam waktu tiga tahun saja jikalau dirinya menjadi Gubernur Provinsi Bengkulu, setidak-tidaknya rencana pembangunan proyek besar tersebut sudah bisa dijalankan.

“Dengan pengalaman yang saya miliki, insyaallah ini tidak terlalu sulit. Bagaimana kita membuat sebuah perencanaan strategis di Bengkulu ini, sehingga perencanaan itu bisa dihormati oleh provinsi lain di Indonesia. Perencanaan ini bisa menjadi ranking atas dan masuk skala prioritas. Sehingga yang diperlukan adalah sebuah kajian yang visible dan bankable, kajian untuk kemajuan masyarakat. Mewujudkannya tidak terlalu sulit, dalam tiga tahun saja setidak-tidaknya aturan tersebut sudah selesai,” lanjut Ridwan.

Ditambahkannya, yang paling penting dalam pembangunan proyek besar adalah mempercepat proses pembangunan itu sendiri. “Sekali dibangun entah itu mau dibangun sepuluh atau lima belas tahun kalau, pondasinya sudah dimulai, tidak akan bisa berhenti. Prinsipnya seperti itu,” tegas Ridwan.

Relawan Ridwan Mukti
Relawan Ridwan Mukti

Tidak hanya itu, jelang dimulainya Asean Economy Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean pada tahun 2015 mendatang, Ridwan Mukti mengungkapkan banyak hal yang perlu dipersiapkan Bengkulu agar siap menjawab tantangan tersebut dan tidak hanya menjadi “penonton”. Menurutnya hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat basis lokal yang ada di Bengkulu untuk resisten terhadap produk luar negeri.

“Karena Masyarakat Ekonomi Asean pada prinsipnya adalah berjualan, jangan sampai kita (masyarakat Bengkulu) hanya jadi pembeli atau konsumen saja, tapi kalau bisa kita mempersiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan masyarakat Asean,” kata Ridwan.

Untuk menyikapi AEC 2015 ini Provinsi Bengkulu juga harus mulai mengekspor produk lokal sehingga produk-produk asli Provinsi Bengkulu bisa masuk ke pasar Asean. Menurut Ridwan, kita juga harus punya proteksi terhadap barang-barang Asean yang masuk ke Bengkulu. Intinya kita bisa menempatkan kepentingan-kepentingan Bengkulu dalam konteks Asean. Dengan memperkuat makanan lokal, musik dan kesenian, serta tradisi.

“Contoh, Thailand punya masakan terkenal Tom Yam, jangan kita ikut-ikutan berjualan Tom Yam, kita tetap mantapkan pada ciri khas Bengkulu seperti Pindang Tunjang Bengkulu, jangan jadi kita yang ganti menu,” katanya.

“Selanjutnya, musik dan kesenian lokal kita aktifkan. jangan kita terpengaruh K-Pop milik Korea akhirnya membawa tradisi kita import pada negara lain. Di bidang fashion, kita harus angkat pakaian Melayu, bukan malah mengikuti pakaian masyarakat Asean lain. Kalau bisa negara lain menggunakan produk Bengkulu,” demikian Ridwan. (val/adv)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

nineteen − 7 =

News Feed