oleh

Bercukur dengan “Jack Gunting” Tak Pakai Standar Harga

Jasmari dan gubuk sederhananya tempat usaha pangkas rambut
Jasmari dan gubuk sederhananya tempat usaha pangkas rambut

Jasmari namanya, yang tahun ini genap berumur setengah abad. Oleh warga sekitar, ia dipanggil Jack Gunting, karena pekerjaannya sebagai penggunting rambut. Tinggal di pedalaman tanah Rejang, sebuah desa bernama Lubuk Belimbing, Kecamatan Sindang Beliti Ilir. kupasbengkulu.com mengunjunginya pada hari Minggu (5/10/2014) lalu.

“Kantor”nya berada di simpang tiga desa tersebut, dimana berdiri sebuah pondok dengan luas tak lebih dari 1 x 2 meter. Sebuah papan sederhana, bertuliskan “Gunting Rambut Laki-laki”. Tulisannya berwarna biru, tampak jelas dibuat dengan kuas kecil dan cat dinding biru.

Seperti tempat cukur rambut pada umumnya, tersedia kursi untuk pelanggan, kursi tunggu, gunting, bedak, sabun, pisau cukur dan kaca cermin. Semuanya sangat sederhana, tapi dari sanalah hidup Jasmari berlanjut. Ia juga punya anak semata wayang yang sudah sekolah sampai SMA, lewat liukan guntingnya.

Tapi, satu hal yang membuat penulis berdecak adalah, ia tidak mematok harga buat pelanggannya.

“Kita ini di desa, jadi bayar saja semampunya, kita tidak mematok harga khusus,”jelasnya.

Satu hal yang hampir terlupakan, ternyata kaki kanan Jasmari menderita kelainan. Ia kemudian mengisahkan betapa kakinya mulai mengecil, bahkan sejak ia masih sangat belia.

Akhirnya, kelumpuhan mendera kakinya dan untuk berjalan ia bertumpu pada kaki kirinya. Dengan langkah terseok-seok, ia berjalan dari rumahnya menuju ke tempat tugasnya, untuk menawarkan jasa mencukur rambut. Tahukah kalian, baik pria dewasa hingga anak-anak, belasan hinggga puluhan jumlahnya rela mengantre untuk mendapat sentuhan tangan dingin Jasmari dikepalanya!

“Kalau lagi ramai, yang ada belasan perharinya, kalau lagi sepi yah seperti ini,”ungkapnya.

Belajar Mencukur dari Televisi dan Pengamatan

Jasmari mulai belajar mencukur rambut sejak remaja. Ia belajar secara otodidak dengan tekhnik pengamatan. Ia mulai melihat seorang pencukur rambut di televisi, kemudian menyaksikannya berulang-ulang.

Selain itu, setiap bercukur rambut, ia selalu memperhatikan dengan seksama yang dilakukan oleh si pencukur rambut.

“Waktu itu, semua masih pakai gunting, belum ada yang pakai mesin seperti sekarang,”katanya.

Ia kemudian melihat kejauhan, seakan begitu berat yang ingin dikisahkannya. Kemudian, setelah menghela nafas, ia kembali melanjutkan kisah hidupnya yang sebatang kara sejak kecil. Ditambah dengan kakinya yang kurang sempurna, tentu hidupnya seperti mendaki gunung yang terjal.

Tapi, satu hal yang dijadikannya pedoman hidup adalah, tanpa kerja keras maka tak akan ada hasil yang didapat. kupasbengkulu.com sempat bergurau, bahwa falsafah hidup Jasmari mirip dengan falsafah hidup para agen intelijen rahasia Amerika, CIA, yakni “no pain no gain” atau kalau tidak sakit, maka tidak akan dapat.

“Iya-iya, no pain no gain, tidak sakit, tidak dapat,”guraunya.

Sementara tawa membuncah, kembali datang pelanggan Jasmari yang hendak merapikan rambutnya. Sedangkan petang sudah kian menantang, kupasbengkulu.com mengakhiri perbincangan dan pertemuan dengan Jasmari. Tapi inspirasi darinya, tidak tertinggal di Belimbing, Sindang Beliti Ilir. Ia tetap bisa menjadi lecutan bagi sesama, terutama yang bernasib lebih beruntung dari dia.

Penulis : Adhyra Irianto, SBI, Rejang Lebong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed