oleh

Berkah Sekeras Batu

batugiling

Desa Tanjung Heran , Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, atau yang biasa disebut desa “bioa sengak” oleh warga sekitar, memang dikenal sebagai desa penghasil batu giling.

Sekitar lima belas orang pengrajin batu giling menggantungkan kehidupan mereka dari usaha ini. Salah satunya Heriadi (52), yang sudah menghabiskan hampir dari setengah usianya untuk bersahabat dengan kerasnya batu.

Kesulitan mencari pekerjaan dua puluh tahun lalu,membuat Heriadi belajar keras dalam waktu tiga hari saja dari para pengrajin yang telah lebih dulu mengandalkan kehidupan dari membuat batu giling.

Sebenarnya bapak empat orang anak ini juga mempunyai pekerjaan sebagai petani, bersama sang isteri Tuti Maryani, mereka menggarap sawah.
Namun, pekerjaan sebagai petani tidak banyak membantu perekonomian mereka.

Dua orang anaknya telah menikah, satu anak masih menempuh pendidikan di sekolah menengah, sedangkan si bungsu masih balita. Bekerja sebagai pengerajin batu giling menurut Heriadi bukanlah hal yang muda.

Untuk mengambil batu sebagai bahan mentah batu giling, ia bersama beberapa orang teman  harus berjalan mendaki bukit, lalu kemudian memikulnya sampai ke pinggir jalan raya. Satu hari penuh biasanya hanya  habis untuk mengambil batu saja, itupun jika tidak hujan.

Seharian bekerja Heriadi mampu membuat lima buah batu giling. Jumlah itu cukup banyak, karena menurutnya kendala seperti mati lampu dan pecahnya batu ketika dibentuk kerap membuatnya harus menerima batu giling hanya selesai dua.

Karena tidak jarang ia harus gigit jari jika seharian mati lampu, artinya gerinda yang biasa dipakai untuk membentuk batu giling tidak bisa berfungsi. Sering pula ia harus merelakan batu giling yang hampir selesai dibuat tiba tiba pecah.

Segala kepahitan itu terbayar, ketika ia sudah berhasil menjual batu giling buatannya dan memberi uang pada sang isteri , berapapun jumlahnya selalu ia syukuri.

Batu giling buatannya dijual kepada para pengecer dengan harga Rp 30 ribu ukuran besar,Rp  25 ribu ukuran sedang dan Rp 15 ribu ukuran kecil. setiap batu giling yang terbuat pasti langsung terjual, karena lama menjalani profesi ini ia sudah mempunyai langganan tetap.

Baginya dan keluarga pekerjaan ini adalah berkah yang indah. “Alhamdulillah, dari pekerjaan ini saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga meski tidak banyak tapi cukuplah untuk makan. Rumah ini juga hasil dari mengumpulkan uang sedikit sedikit dari pekerjaan saya” ungkapnya.

Rumah type 45 tempat ia mengajak duduk kupasbengkulu.com ini baru dibangun lima puluh persen. Di belakang rumah ini terdapat rumah kecil sangat sederhana yang merupakan tempat ia dan keluarga berteduh sebelumnya.

Heriadi berharap ia dapat selalu diberi kesehatan agar selalu mampu mengambil berkah dari kerasnya batu. “Mintalah do’a saya ke Tuhan supaya sehat teruskan, supaya selalu bisa bekerja untuk isteri dan anak anak” katanya penuh harap.

Penulis: Evi Valendri

Rekomendasi