Rabu, Agustus 10, 2022

Bukit Tapak Paderi Sepenggal Kenangan

Baca selanjutnya

“Tak tahu dan diam itu wajar. Bila tahu tapi diam itu, itulah  kezaliman”

Oleh: Benny Hakim Benardie

Di era tahun 70 hingga 80-an,  usai shalat subuh, tampak bujang gadis  dan anak-anak di Kota Bengkulu, berduyun-duyun menghirup sejuknya fajar menuju Bukit Tapak Paderi.  Ditengah jalan, tampak garisan kapur tulis berbentu kotak, untuk remaja bermain “calabur”. Suatru permainan rakyat yang kini punah dihantam ego generasi taklid.

Berjalan melingkar dibawah Bukit Tapak Paderi, titik nol Negeri Bengkulu. Bujang gadis dan anak anak bercengkrama sembari  memandang deburan ombak dan lautan lepas yang tak ternilai indahnya.

Anak-anak tampak bermain prosotan dari atas bukit hingga berguling-guling diatas rumput hijau hingga mentari terbit sepenggalan. Seolah-olah indahnya Bengkulu  dengan generasi yang kala itu seperti statis didalam, dan dinamis saat diperantauan.

Tampaknya kala itu generasi mudanya tak banyak tahu dengan jelimet  peninggalan sejarah yang ada disekelilingnya. Biarpun demikian, mereka tak merusak apa yang ada.

Diatas puncak Bukit Tapak Paderi terdapat suatu monumen yang berdiri kokoh. Acap kali berebutan duduk disana, karena temat yang paling santai melihat laut lepas. Sedikit saja ada yang mau coret moret munumen, banyak teguran untuk  pelaku yang iseng ataupun jahil.

 Tragis

Kini sejak Tahun 2000-an, Bukit Tapak Paderi tak seerti aslinya. Bukit itu telah dibelah dan diratakan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu. Tak ada lagi jalan melingkar dan  raun remaja di fajar menyinsing. Tugu monumen peninggalan Belanda itupun kena imbasnya.

Sebuah tugu atau monumen itu bernama  The Orange Bank.   Bangunan mirip mahkota ini dibangun 1905, untuk memperingati HUT ke-25  Yang Mulia Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda kala itu.

Kini kondisinya ada beberapa sisi yang dirubah dan  di rusak keasliannya. Dirusak bukannya tak sengaja, tapi dilakukan sengaja dengan pembiaran. Dijadikan lokasi taman permainan yang tak edukatif dari sisi budaya dan tradisi negeri beradat.

Ini peninggalan sejarah masa lampau. Pertanyaanya, dimanakah para pemimpin negeri ini, melihat beberapa situs sejarah dirusak? Bukankah itu semua dapat dijadikan obyek wisata sejarah? Tinggal lagi yang punya jabatan dan kekuasaan berfikir. Bakkata pepatah tua, “Dimana Langit Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”.

*Pemerhati Sejarah Dan Budaya Tinggal di Bengkulu.

Rekam Panggilan Video, Konten Kreator Ditangkap Usai Peras TKI

Kupas News, Bengkulu - Tim Opsnal Macan Gading Polres Bengkulu menangkap salah seorang konten kreator berinsial STI (22) warga Kabupaten seluma, Senin, (08/08) malam,...

Ketua Komisi I Dukung Program Strategis yang Tertuang di RPJMD

Kupas News, Bengkulu - Ketua Komisi I DPRD Bengkulu Dempo Xler mendukung penuh program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu yang tertuang di Rencana...

Jusuf Kalla Hadiri Peresmian Gedung PMI di Bengkulu

Kupas News, Bengkulu - Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla meresmikan Gedung Markas PMI Bengkulu yang berada di Jalan Rejamat No. 20...

Gubernur Rohidin Ingin Bengkulu Punya Sirkuit Balap yang Representatif

Kupas News, Bengkulu Selatan - Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah membuka gelaran Sumatera Cup Prix Nasional Championship 2022 (SCP 2022) ronde 3 di Sirkuit Padang...

Tempo Dua Jam, Satreskrim Polres Bengkulu Ciduk 3 Tersangka Pencurian

Kupas News, Bengkulu - Kepolisian Resor Bengkulu berhasil menangkap pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan pada Minggu (07/08) di Jalan Flamboyan 07 Kelurahan Kebun...

Terbaru