oleh

Di Pasar Ini, Berdiri Bangunan SD Peninggalan Belanda

pekan
Di Pasar Ini, Berdiri Bangunan SD Peninggalan Belanda.

 kupasbengkulu.com – Sang Surya baru menampakkan wujudnya. Ya, pagi itu, embun masih memeluk dedaunan. Para pedagang Pekan Kamis sudah menggelar lapak mereka. Pekan atau pasar harian setiap hari kamis ini, dapat ditemui di Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah.

Berbagai watak, suku dari pedagang ada di pasar ini. Tak heran, jika berbelanja di sini terdengar berbagai bahasa yang dikeluarkan dari kalangan pedagang yang menjajaki jualannya. Mulai dari sayur mayur, kebutuhan bahan pokok serta lainnya.

Junalis kupasbengkulu.com mencoba berwisata singkat di Pasar Pekan itu. Kedatangan jurnalis pun langsung disambut dengan kata-kata tawaran dari pedagang.

”Opo mbak? Mau beli kacang? Tak kasih murah wae,!” tawar Ibu paruh baya berbadan kurus menawarkan dagangannya dengan logat Jawa, saat kupasbengkulu.com lewat di depan lapaknya, Kamis (21/8/2014).

Sambutan lainya juga datang dari pedagang buah duku.

”Nak berape cik? Amik lah (Mau berapa bi? Ambillah,red),” tawar pedagang duku berbicara pada pembelinya dalam bahasa lembak.

Disudut lain ada pula pedagang menawarkan dagangannya, dengan logat Medan, bahasa serawai, hingga Padang. Layaknya, sebuah pasar, aneka kebutuhan tersedia di sini. Uniknya, anda bisa menemui berbagai komoditas tradisional yang jarang ada dibeberapa pasar lain.

Seperti, aneka jamur hutan dan beberapa jenis sayuran. Khusus anda penggemar kopi, jika ingin merasakan kopi tumbuk tradisional, yang ditumbuk dalam lesung dan disangrai sendiri. Di Pasar Pekan ini, ada!.

Penjual bubuk kopi ini biasanya menaruh Kopi, dalam wadah kaleng diatas keranjang anyaman Bambu. Kopi akan dibungkus sesuai permintaan pembeli.

Nah, setelah berkeliling dalam pasar, anda bisa sarapan. Sebab, pasar ini juga menjajaki banyak pilihan makanan. Mulai dari lontong, aneka gorengan, Model, Bakso, mie, martabak, dan masih banyak lagi.

”Saya sudah jualan di sini sejak tahun 92, kabarnya pekan ini sudah ada sebelum tahun 80,” jelas Rosmini, penjual kue di Pekan Kamis, asal Kabupaten Kepahiang kepada kupasbengkulu.com.

Secara terpisah, Ahel, penjual martabak mengisahkan, ia telah menjual martabak di sini sejak 31 tahun lalu. Menurutnya, di lokasi ini dulu masih terdapat banyak pohon dan masih sepi. Dengan sedikit bangunan, hanya bangunan SDN 1 Taba Penanjung yang notabene peninggalan Belanda dan UPTD Diknas yang ada saat itu.

”Awal tahun 2000 an baru dibangun terminal di sini,” terang Ahel.

Itulah Pekan Kamis, sebuah pasar tradisional sederhana yang hanya ada seminggu sekali. Berbelanja atau sekedar berjalan mengitarinya, terasa seperti menyambangi berbagai pelosok nusantara.

Penulis : Evi Valendri, Bengkulu Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

7 − four =

News Feed