oleh

Di ‘Telaga Cugung Kuang’, Ada Gua Simpan Emas dan Ikan Mujahir Aneh

telaga
Telaga Cugung Kuang

kupasbengkulu.com – Sunyi dan tak terjamah, hanya ada nyanyian serangga hutan bersahutan dan sepoi yang mengelus kulit ari. Aroma amis khas air rawa tercium jelas dari pinggir telaga yang tak pernah jernih ini.

Ya, telaga ini terdapat di hutan Desa Tanjung Raman Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah, telaga yang dikenal dengan nama ‘Telaga Cugung Kuang’, dengan luas hampir setengah Hektare (Ha) ini, dikenal sarat akan kesan mistis.

Disebut demikian karena di hulu telaga terdapat gundukan, seperti bukit kecil yang berarti ‘Cugung’ dalam bahasa Rejang, yang merupakan bahasa Desa Tanjung Raman. Sedangkan Kuang adalah nama sejenis pohon yang dulunya tumbuh sangat besar di dekat telaga. Hingga saat ini tak ada warga yang berani memancing ataupun melakukan aktivitas lain di sekitar telaga.

Pada hal saat ini sudah jarang ada penampakan di telaga ini, namun warga tidak mau mengambil resiko.

“Dulu ada warga pendatang yang memancing di sana dan mendapatkan mujahir berwarna aneh, lalu dimasak. Malamnya dia langsung bermimpi didatangi oleh penghuni telaga yang bilang ikan itu anaknya dan penghuni telaga minta tumbal. Tapi, karena si pendatang sakti dia melawan dan tidak menuruti. Itu kejadian 30 tahun lalu,” cerita Bani, seorang kakek Desa Tanjung Raman, yang dulunya memiliki ladang tak jauh dari telaga.

Bani menceritakan, bahwa dulu di telaga kerap terdengar bunyi ramai layaknya perkampungan, begitu di dekati tak ada apapun di telaga. Ia mengatakan, bahwa hingga kini masih kerap warga melihat banyak bebek dan angsa putih berenang di telaga jika dilihat sekilas. Begitu dilihat dengan waspada yang ada hanya air telaga yang tenang.

“Sekarang kondisi telaga tak lagi menakutkan seperti dulu, apalagi sekarang sudah dibuka jalan. Tapi tetap anak cucu di sini tidak ada yang mau menjamah telaga. Kami warga Desa menyadari bahwa kami tak boleh saling ganggu,” Bani bercerita sambil terus menghisap rokok nipahnya.

Telaga ini seolah terpisah dari perputaran waktu yang melangkah menuju modern. Puluhan tahun berlalu ia tetap sama, terdiam dalam kebisuan dan sejuta misteri yang membuat masyarakat enggan untuk sekedar berdiri di tepiannya.

Konon dulu banyak warga yang berniat mencari emas di gua yang di duga berada di hulu telaga. Namun tak satupun yang berhasil menemukannya. Malah mereka tersesat sampai tiga hari dan berputar putar di hutan.

Air telaga ini tak pernah kering dalam kemarau panjang sekalipun. Tetapi warga sekitar tidak pernah mau mengambil air di telaga meski hanya sedikit.

“Telaga ini begitu keramat, kami tahu disana hidup banyak ‘yang senyap’ disana. Mereka menyerupai hewan hewan buas. Mereka tak mengganggu jika tak merasa terusik. Karenanya hingga sekarang warga sepakat tak lagi menyentuh telaga. Kalau mau coba ketemu isi telaga bakarlah menyan hitam disana saat tengah malam,” tutup Bani tersenyum.

Penulis : Evi Valendri, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed