Beranda RELIGI Dr. Abdul Hafidz : Salat adalah Refleksi Moral dan Perilaku

Dr. Abdul Hafidz : Salat adalah Refleksi Moral dan Perilaku

0

Suasana Salat Jumat

kupasbengkulu.com – Ustadz Dr. Abdul Hafidz menyampaikan bahwa ibadah salat adalah refleksi dari perilaku seseorang yang mengerjakannya.

Sesuai dengan hadits Nabi SAW,”Sesuatu yang pertama kali dihisab (dihitung) oleh Allah pada hari kiamat adalah ibadah salat. Jika baik salatnya, maka baik pula seluruh amalnya. Jika buruk salatnya, maka buruk pula seluruh amalnya”.

Hadits ini menunjukkan bahwa perilaku baik seseorang adalah indikator bahwa ibadah salatnya sudah baik. Namun, jika perilakunya masih buruk, ini pertanda bahwa salatnya masih bermasalah.

Betapa pun seseorang melakukan berbagai macam ibadah, namun ternyata perbuatannya masih juga buruk, ini berarti bahwa salat dilakukan belum menjadi parameter bagi perilakunya.

Di dalam islam seyogyanya memang semua ibadah yang dilakukan selalu bermuara pada kebaikan moralitas dan perilaku bagi yang mengerjakannya. Namun, meskipun ibadah-ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji sudah kita penuhi, tetapi moral dan perilakunya tidak benar, ini pertanda keislaman seseorang juga tidak benar.

Tapi juga jangan keliru, lalu berasumsi bahwa “yang penting perbuatannya”. Ini juga keliru, karena jika seseorang tidak bertauhid (beriman) maka amal kebaikannya tidak akan dinaikkan oleh Allah.

Firman Allah dalam Alquran surat At-Taubah ayat:17
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia perbuatannya, dan mereka kekal di dalam neraka”.

Ayat ini menunjukkan bahwa sumber dari kebaikan adalah tauhid. Amal perbuatan saja tidaklah cukup, karena sumber dari amal kebaikan itu pun sangat penting.

Maka dari itu, perbanyaklah ibadah salat maupun ibadah-ibadah lainnya, namun di saat yang sama perbanyak pula amal-amal perbuatan baik serta perbaiki moralitas dan perilaku terhadap sesama.

“Jangan hanya banyak salat, tapi malas bergaul dengan orang lain, lalu menganggap diri sendiri saja yang suci, karena ini adalah keliru. Yang benar adalah kita rajin beribadah namun tetap bergaul, berbuat baik, dan ramah kepada orang lain, karena inilah yang sebenarnya yang dikehendaki oleh Islam,” tutupnya saat menyampaikan khutbah Jumat (30/5/2014) di masjid Alfarabi Universitas Muhammadiyah Bengkulu. (cr2)