oleh

Hari Tua Sang Pensiunan

Ibrahim
Ibrahim

Sebentar lagi azan zuhur, angin semilir merayu daun pohon nangka lalu menghempaskan bagian tuanya ke rumput di atas tanah lembab itu. Disamping pondok tua yang membisu tegar menampung puluhan balok pohon kelapa yang telah dipotong potong.

Tidak jauh dari pondok tua itu, di teras rumah terlihat kakek 60 tahun ini tampak asyik dengan pahatnya, semangat ia mengoyak benda didepannya dengan pahat tersebut.

Kemudian ia letakkan pahat lalu mengambil sebuah parang lalu kembali membuang bagian tak penting dari benda bulat itu.

Namanya Ibrahim, ia adalah seorang pensiunan PNS pemda Provinsi Bengkulu sejak tiga tahun lalu. Semasa muda ia telah banyak mengecap ilmu tentang meubeler dan aktif dalam kesenian tradisional.

Sejak tahun 2003 ia memutuskan untuk serius menekuni usaha pembuatan alat alat tradisional, seperti gendang zikir sarafal anam, gendang melayu, gendang panjang, gendang calti dan serunai. Terlebih saat ia sudah pensiun sekarang, bapak tiga anak ini memang hanya menghabiskan hari harinya untuk bergelut dengan batang kelapa dan kulit kambing.

“Saya dari dulu memang aktif di kesenian zikir srafal anam dan gendang melayu. kan alat alat sering rusak, kalau minta orang untuk membetulkan bayar mahal jadi saya mulai membetulkan sendiri. Dari membetulkan, kemudian saya berfikir kenapa tidak buat saja sekalian. Itu di pondok ujung rumah semua stok batang kelapa yang belum dibentuk”  beber kakek satu cucu ini.

Dari belajar secara otodidak saat ini Pak Ibrahim telah banyak menjual karya kepada berbagai pihak. Harga jual karyanya pun bervariasi, gendang zikir melayu ukuran kecil Rp. 600 ribu dan Rp. 900 ukuran besar. Gendang melayu Rp. 600 sd 750 ribu, untuk gendang panjang Rp. 800 ribu sd Rp. 1 juta. Kemudian untuk gendang calti Rp. 650 sd 750 ribu, dan yang paling mahal, serunai Rp 2,5 juta.

” karena proses pembuatan yang rumit serunai paling mahal, dulu saya belum mau membuat serunai tapi karena banyak permintaan dari sanggar saya akhirnya pinjam serunai guru seni saya dan saya belajar dari situ” akunya.

Untuk bahan membuat alat alat tradisional ini, seperti pohon kelapa dan kulit kambing serta rotan, Pak Ibrahim sudah memiliki langganan. Selama menjalani usahanya, kendala seperti mahalnya harga rotan dan mendapatkan pohon kelapa yang muda kerap ia temui.

” Rotan itukan susah untuk didapat, karena harus pakai izin ini itu kalau ambil sendiri, jadinya saya mabil aman saja dengan membeli pada para pengrajin kursi rotan. Memang jadi lebih mahal, dari yang seharusnya cuma lima ribu perbatang malah jadi lima belas ribu” katanya sambil menunjuk rotan yang tersusun di atap teras.

Proses pembuatan satu alat bisa memakan waktu empat hari, dari pembentukan batang kelapa, pemahatan, penghalusan, plitur, klir, pemasangan kulit hingga penjahitan rotan, Namun karena untuk memenuhi stok, biasanya Pak Ibrahim tidak mengerjakan satu sampai selesai, melainkan membarenginya dalam setiap tahap kegiatan. Meski tidak selalu menerima pesanan, Pak Ibrahim tetap membuat untuk stok, karena biasa saja tiba tiba datang permintaan puluhan buah.

“Dulu pernah tiba tiba ada permintaan seratus buah untuk gendang zikir, saya kaget juga, untung ada persediaan lima puluh. Membuat alat alat ini tidak bisa sehari langsung selesai banyak, karena alat kita masih seadanya. Mangkanya kami para pengrajin mengharapkan adanya perhatian pemerintah dalam hal ini, supaya kita bisa beli alat yang bisa membantu mempercepat kerja kita” Ujarnya sambil memperlihatkan gendang zikir yang sudah jadi.

Mengenai pendapatan, Pak Ibrahim mengaku tak menentu, kadang bisa sepi atau tiba tiba laku banyak. Namun ia tetap menekuni usaha ini karena semua ia jalani bukan semata mencari materi tapi darah seni yang mengalir dalam dirinya selalu menuntun untuk berbuat bagi sesama.

“saya ini sejak dulu mewarisi darah seni dari para pendahulu kami, jadi ya sampai tua begini tetap suka. Meski sekarang saya sudah jarang main gendang melayu, tapi saya masih aktif di sarafal anam timur indah dan juga mengajar sarafal anam di padang dedok. Dengan membuat alat ini, saya harap bisa menyumbangkan kekayaan seni di Bengkulu” tutupnya.

Tidak banyak orang yang berminat pada kesenian tradisional, tapi Pak Ibrahim membuktikan kecintaannya meski usia tak lagi muda. Baginya hidup harus berilmu, ilmu harus benrmanfaat, manfaat harus dibagi. Pensiunan ini telah berhasil mengisi hari tuanya dengan sesuatu yang berguna, bagaimana dengan kita ?

Penulis: Evi Valendri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed