oleh

Kisah Danau Kuranding Dijaga Seekor Elang dan Naga

Datuk Budin (69) pemegang kisah Danau Kuranding
Datuk Budin (69) pemegang kisah Danau Kuranding

Danau Kuranding, sejak dahulu hingga sekarang merupakan sumber kehidupan masyarakat di dua Kecamatan di Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, yakni Kecamatan Air Nipis dan Kecamatan Seginim.

Sebelum terbentuk dan menjadi Kecamatan Air Nipis, dulu namanya Marga Dusun Tinggi, sementara Kecamatan Seginim adalah Marga Seginim.

Danau Kuranding ini lokasinya di hutan berbatasan dengan hutan lindung Bukit Riki dan beberapa kebun warga, tepatnya berada di Desa Tanjung Beringin.

Luas wilayah danau Kuranding sekitar 18 hektar, luas ini sudah termasuk daratannya, kalau untuk luas perairannya berkisar 10 hektar. Danau ini mengairi kurang lebih tiga ribu hektara sawah di dua kecamatan, yakni kecamatan Air Nipis dan kecamatan Seginim.

Kata Kuranding, berasal dari nama seorang laki-laki yang hidup pada tahun 1.013, Kuranding di lahirkan di sebuah dusun yang silam (hilang), sekarang ini masyarakat Bengkulu Selatan menyebut tempat asal Kuranding dilahirkan itu dengan nama Sebakas dan dusun ini sekarang di anggap keramat.

“Konon ceritanya, kala itu Kuranding hendak melamar gadis pujaannya yang bernama Kuraduk, berasal dari dusun Sebakas, alhasil lamarannya diterima, namun ada syarat  agar dia dapat meminang anak gadis tersebut untuk menjadi istrinya,” kata Datuk Budin (69) salah seorang tetua desa yang memahami ceritera danau tersebut.

Sebagai pengganti mas kawin, Kuranding di minta untuk mencarikan  mata ikan sebanyak satu kulak (2 liter) atau kalau hitungan kilogram, yaitu 3 kg mata ikan.

Demi pujaan hati, hal ini disanggupi Kuranding, sehingga kuranding pergi mencari ikan ke sungai. Di perjalanan dia menemukan sungai kecil yang lebar sungainya sekitar empat meter.

Sa’at dia menceburkan dirinya kesungai itu, Kuranding merasakan gatal-gatal pada kedua kaki dan badannya yang terendam ke dalam air sungai tersebut, Kuranding pun naik lagi keatas permukaan sungai, sekarang ini sungai itu terkenal dengan nama Sungai Air Gatal.

Nelayan mencari ikan di Danau Kuranding
Nelayan mencari ikan di Danau Kuranding

Merasa aneh dengan air sungai yang membuat gatal-gatal pada kaki dan badannya, Kuranding pun angkat kaki dari sungai itu dan berjalan terus ke hulu dengan menelusuri bibir sungai air gatal itu tadi, sehingga dia menemukan ulu tulung air sungai (asal muasal air sungai itu). Ternyata air sungai itu berasal dari  sepetak air yang ukurannya 10×10 meter, orang Bengkulu Selatan menyebutnya (telubung).

Di telubung inilah Kuranding menemukan ribuan ikan yang bermacam jenis, seperti ikan palau, sepat, betok, lele, sepedak, gabus, serta ikan plus dan ikan kepar.

Merasa mas kawin mata ikan sebanyak dua kulak tersebut tadi sudah tercukupi dan terpenuhi, dan itu dianggapnya suatu hutang bagi Kuranding, dia pun langsung membawa ikan-ikan tersebut pulang ke Dusun Sebakas, sehingga melangsungkan pernikahannya dengan sang pujaan hati yang bernama Kuraduk.

Usai menikah, Kuranding dan Kuraduk tidak lagi tinggal di dusun Sebakas, mereka berdua tinggal disekitar Hulu Sungai Air Gatal dimana Kuranding menemukan   berbagai jenis ikan yang di bawanya sebagaai mas kawin pernikahaannya , mereka berdua akhirnya menetap di cukuh dusun (dusun tinggi), yang sekarang ini yaitu desa Tajung Beringin.

Seiring waktu, telubung yang penuh berisi ikan tadi, awalnya hanya berukuran 10×10 m, akhirnya tersus melebar dan meluas hingga menjadi sebuah danau yang luasnya puluhan hektar, seperti yang ada sekarang ini. Belakangan danau tersebut diberi nama Danau Kuranding.

Danau ini di jaga oleh sepasang manusia, yaitu Kuranding dan Kuraduk yang merupakan suami istri, yang berasal dari dusun silam Sebakas. Sampai akhir masa dan akhir hayatnya, sehingga Kuranding dan Kuraduk  lama kelamaan juga menghilang.

Sehingga untuk tidak menghilangkan asal muasal danau tersebut oleh penduduk sekitar dinamakan Danau Kuranding.

Mitos yang berkembang saat ini, kalau danau  tersebut selalu di jaga oleh Kuranding dan Kuraduk yang menyerupai  Elang dan seekor Naga.

Elang merupakan Kuraduk dan Naga adalah Kuranding, keduanya masih sering muncul, kalau naga biasanya muncul hanya menampakan badannya yang penuh sisik saja, kepala dan ekor tidak pernah terlihat, sementara elang seluruh anggota badan terlihat jelas.

Hingga kini Danau Kuranding tetap terjaga sebagai penyuplai air bagi kehidupan warga setempat.

Penulis: Fajrul Tamtomi

Komentar

Komentar ditutup.

Rekomendasi