oleh

Kompol Mulyadi, Pemain Figuran Jadi Komandan Polisi

Kompol H. Mulyadi
Kompol H. Mulyadi

Sesosok Pria yang bertubuh sedang dengan tinggi 170 sentimeter ini  merupakan anggota polisi yang bertugas Sebagai Kasubdit Bid Penmas Bid Humas Polda Bengkulu dari tahun 2010. Yakni Kompol H Mulyadi M anak ke tiga dari tujuh bersaudara pasangan Mahyudin dan Khazanah Dilahirkan pada  4 Juli 1963 Dusun Lais Kabupaten Bengkulu Utara.

Menjadi seorang polisi merupakan impiannya selama ini. Namun lika-liku perjalan kehidupan untuk menjadi polisi banyak dilaluinya.

Pada tahun 1982 setelah selesai sekolah SMA ia datang ke DKI Jakarta dengan restu orang tuannya yang ayahnya bekerja sebagai seorang guru Sekolah Dasar di Lais Kabupaten Bengkulu Utara untuk mendaftar masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesi (AKABRI). Namun sayangnnya saat tes beliau dinyatakan tidak lulus.

“Saya tidak depresi saat itu tapi hal itu memancing saya untuk menjadi lebih baik. Kalau kegagalan saya sebut sebuah motifasi,” ungkap Mulyadi.

Hal ini memacu dirinya untuk mencari mengisi waktu di Jakarta. Dengan diajak salah satu temannya yang sekarang sudah meninggal dunia mereka membentuk sebuah teater seni peran diberi nama Rafi Film.

Disanalah awal mula kehidupannya jauh dari keluarga. Pada saat mengikuti teater tersebut ia banyak mengikuti berbagai film layar lebar walau hanya sebagai seorang pemain figuran.

“Saya sempat disangkut di pohon karet saat beradegan film dengan Barry prima. Ceritanya saya dipukul lalu saya nyangkut di pohon,” ungkapannya.

Pekerjaan tersebut sangat dinikmatinya walau hanya dengan gaji hanya Rp 15 ribu sekalian main dalam film dan sinetron yang diperaninya.

Pelajaran dari pemain figuran tersebut sangat berarti bagi dirinya. Hal ini bisa membangun karakter dirinya.

“Yang menarik dari menjadi pemain figuran adalah pergaulannya. Walaupun gaji kecil semua pekerjaan harus kita cintai,” lanjtunya.

Setelah berhenti dari pemain figuran, Mulyadi melayangkan diri menjadi seorang jurnalis disalah satu media di Jakarta. Namun menjadi seorang jurnalis hanya pelariannya saja karena niatnnya menjadi polisi tetap menekan hatinya.

“Saya jadi wartawan hanya pelarian saja kalau tidak salah pada tahun 1982 setelah saya berhenti dari pemain figuran,” pungkanya.

Saat menjadi seorang wartawan dengan gaji hanya Rp 7500 perbulannya, ia mencari penghasil diluar sebagai seorang wartawan. Mulai dari penjual air keliling hingga menjadi kondektur bis.

“Bebagai macam kerja saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan saya selama di Jakarta mulai dari jual air dengan upah Rp 25 hingga menjadi Kondektur bis,” terangnya.

Kemudian ia mengadukan nasib menjadi seorang pegawai Astra motor di Kota Bengkulu  dan akhirnya lulus dengan gaji yang lumayan menjanjikan berkisar Rp 135 ribu. Tapi pekerjaan ini berakhir setelah ia mendaftar menjadi seorang polisi pada tahun 1984.

“Gaji saya besar waktu itu saat bekerja di Astra, tapi berakhir pas saya daftar polisi,” ucapnya.

Kali kedua tes masuk polisi di Sumatera Selatan ia akhirnya lulus menjadi anggota polisi dengan gaji pertamannya Rp 21 ribu. Setahun setelah lulus, pada tahun 1985 ia langsung ditugaskan ke Mapolda Sumatera Selatan sebagai seorang penyidik reserse Polda Palembang tersebut dengan pangkat Brigadir polisi.

“Kalau dulu gaji seperti itu termasuk lumayan, asalkan bagaimana kita memenej keuangan kita,” dingatinya.

Luamayan lama ia ditugakan di Mapolda Palembang tersebut. Namun pengabdian dirinya tersebut paling lama Polres lahat Sumsel selama 11 tahun.

“Kasus yang saya pecahkan disana mungkin sudah puluhan. Namun satu kasus yang masih terniang dibenak saya yakni kasus pembunuhan yang kepalanya terbelah oleh temannya sendiri, untungnya pelakunya ditangkap” ucapnya.

Waktu ditugaskan di Pendopo Sumsel ia bertemu dengan pujaan hatinya bernama Lisdiarti yang saat itu masih duduk dibangku SMP. Sangat lama penantiannya untuk meminangkan pujaan hatinya. Setelah 4 tahun masa pacaran mereka, akhirnya penantian untuk mengikat tali cinta mereka berujung dipelaminan juga pada tahun 1989.

Setehun menikah mereka dikarunia anak laki-laki  bernama Berlin Indra Belin yang saat ini anaknya sudah menjadi anggota Polri pada tahun 2011 dan sudah menikah tahun 2014 ini.

Kemudian dia dipindahkan ke Mapolda Bengkulu pada tahun 2008 dengan jabatan  sat shabara. Tapi ini kembali ia digusur ke Polres Bengkulu Utara sebagai Kabagmin.

“Saat dipindahkan ke Mapolda Bengkulu saya mendapat karuniah lagi dari tuhan dengan menitip anak perempuan bernama Bela wirahman yang sekarang duduk dibangku SMP 1 Arga Makmur,” lanjutnya.

Tak lama menjabat menjadi Kabagmin ia kembali ditugas ke Mapolda Bengkulu diangkat menjadi seorang Kasubdit Penmas Polda Bengkulu. Setelah ia menjabat menjadi Kasubdit, beliau langsung diangkat menjadi Komandan Polisi.

“Saya diangkat menjadi Kompol pada tahun 2013 lalu,” diutarakannya.

Kini kehidupannya tak seperti dulu lagi, dulunya kehidupannya masih dibawah kini telah berputar. Ia telah menikmati hasil jerih payahnya selama ini.

Diingatinya, walaupun sulit dijalani kehidupan didunia pasti tuhan memberikan jalan. Hal ini karena tuhan selalu dekat dengan makhluknya.

Walaupun kini kebahigian dari hasil kerja kerasnya, ia masih terpisah dengan istrinya yang tercinta yang kini tinggal di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara.

“Di Arga Makmur istri saya buka usaha butik,” tuturnya.

Hingga kini ia dan istrinya masih terpisah oleh jarak karena tuntutan tuga yang harus dipikulnya. Hanya seminggu sekali ia bertemu dengan istrinya tersebut.

“Saya tinggal di Bengkulu rumah sendiri dan istri saya di Arga Makmur. Kadang gantian kadang kalau saya tidak pulang istri saya ke Bengkulu,” curhatnya.

Untuk mengisi kekosongannya dan kesendiriannya selama di Bengkulu, ia kini berjualan apapun yang menurutnya halal. Selain membuka usaha, ia juga ikut Kelompok Bimbingan Manasik Haji Arafah pada 2013 setelah ia pulang dari pergi ke Mekah menjalankan panggilan tuhan untuk menjadi Haji.

Ini hanya sepengal cerita dari seorang pemain figuran yang dari kecil bercita-cita menjadi seorang polisi. Ia selama ini meyakini kalau memang kehendak Tuhan, maka kuasanya akan diberikan kepada umatnya.

Penulis: Dodi Irawan

Rekomendasi