oleh

Kopi Luwak Kepahiang Terkendala Bahan Baku dan Pemasaran

usaha luwak

Kepahiang, kupasbengkulu.com – Sepintas mendengar harga kopi luwak yang mencapai Rp 600 perkilogram, memang sangat menggiurkan. Tapi, potensi meraup keuntungan yang banyak itu, akan sirna seketika setelah mendengarkan pengakuan dari seorang petani luwak, Ari K warga desa Tapak Gedung, Kecamatan Tebat karai, dimana usaha yang digelutinya selama satu tahun itu, tidak dapat berkembang lantaran kekurangan bahan baku (kopi arabika) dan pemasaran.

Menurutnya, 8 ekor luwak yang dimiliki hanya mampu memproduksikan sekitar 1,5 Kilogram kopi luwak basah. Hasil produksi itupun tidak bisa diperolehnya secara rutin, alias berkurang. Selain terkendala oleh bahan baku, Ari juga mengaku, dihadapkan pada persoalan pemasaran, dimana pelanggan asal kota Bengkulu sudah tidak lagi menerima kopi luwak. Sejumlah persoalan bagi Ari tersebut, membuatnya kebinggungan dan berpikir kembali untuk bisa mengembang usahanya.

Dengan terus merosotnya hasil produksi serta terkendala pemasaran, Ari tidak lagi berpikir untuk mendapatkan keuntungan maupun lebih mengembangkan usaha luwaknya. Dalam hal itu, Ari akan mencoba berkoordinasi ke pihak-pihak terkait baik itu sesama peternak luwak maupun ke Dinas Peternakan Kepahiang.

“Sekarang ini, saya tidak bisa mengharapkan untung. Terkadang juga, sempat terpikir untuk mengembalikan pinjaman luwak dari petani luwak yang terdapat di Kecamatan Kabawetan,” ungkap Ari.

Ari menjelaskan, awal menggeluti usaha kopi luwak, di penghujung tahun 2014. Modal awal, dari pinjaman 12 ekor luwak. Lantaran sebagiannya mati dan lepas dari kandang, Ari terpaksa membeli sendiri luwak sebanyak 2 ekor. Itu semua, atas keyakinannya akan potensi hasil usaha kopi luwak.

“Kalau saja kendala pemasaran kopi luwak ini berkepanjangan. Bukan tidak mungkin, usaha kopi luwak ini akan saya tutup,” singkat Ari.(slo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

five × one =

News Feed