Beranda RELIGI Lima Bukti Keberadaan Allah

Lima Bukti Keberadaan Allah

0
Lima Bukti Keberadaan Allah
Lima Bukti Keberadaan Allah

kupasbengkulu.com – Ust. Ki Agus Balukiah menyampaikan ada 5 bukti keberadaan Allah :

Pertama, bukti fitrah.
Fitrah adalah sifat dasar dan asli yang belum terpengaruh oleh faktor-faktor dari luar. Sifat ini ada pada bayi yang baru dilahirkan.
Seperti kata Nabi Muhammad SAW yang disinyalir dari salah satu hadis yang berbunyi,”setiap bayi yang dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah (suci)”.
Namun, seiring berjalannya waktu fitrah yang dimiliki manusia ternodai sehingga terkikislah keyakinannya akan keberadaan Allah SWT.

seorang atheis pernah mengatakan,”saya tidak pecaya adanya Tuhan. Teknologi sekarang sudah maju, jadi tidak perlu lagi percaya adanya Tuhan, karena Tuhan memang tidak ada”.
Namun yakinlah bahwa yang diucapkan itu bukan berasal dari fitrahnya. Kita analogikan saja, misal ia sedang berada di atas kapal di tengah laut, tiba-tiba kapal akan tenggelam, kemungkinan besar fitrah yang dimilikinya akan muncul, karena ia sadar dan membutuhkan seseorang penolong.
Seorang Fir’aun yang semasa hidupnya sangat kafir, bahkan sempat mengaku dirinya Tuhan, di akhir hayatnya saat menjelang mati di laut merah muncullah fitrahnya. Saat itu Fir’aun percaya kepada Allah SWT, namun terlambat.

Kedua, bukti indrawi.
Artinya, keberadaan Allah bisa kita amati dengan panca indera kita, melalui ciptaan-ciptraannya.
Banyak bukti keberadaan Allah yang dapat kita amati, di antaranya adalah penciptaan manusia yang sangat beraneka ragam.
Namun, seoang atheis tidak mempercayai keberadaan Tuhan karena tidak melihatnya. Dalam sebuah cerita, sikap ini pernah ditanggapi oleh seorang alim ulama. Seorang alim ulama tersebut tiba-tiba menamparnya.
Seorang atheis tadi marah dan berkomentar,”kenapa anda memukul saya? ini rasanya samgat sakit”.
Alim ulama menanggapi,”apa? sakit? saya tidak melihat sakit itu”.

Ketiga, bukti rasional.
Di dunia ilmiah atau dunia empiris banyak sekali pemikir-pemikir yang mempunyai teori-teori. Salah satu teorinya adalah teori sebab akibat, yang berbunyi,”segala sesuatu itu ada karena ada penyebabnya”.
Sebenarnya ini sangat mendukung bahwa dunia ini ada pasti ada yang menciptakannya, bukan terjadi dengan sendirinya.
Kita contohkan dengan benda sepert handphone, televisi, pesawat terbang dan sebagainya itu ada karena ada yang membuatnya. Apa lagi alam semesta dunia dan seisinya, sudah pasti ada yang menciptakannya, yaitu Allah SWT.

Keempat, bukti tekstual (Alquran dan Hadis)
Di dalam Alquran dan hadis sangat banyak nash-nash atau dalil yang menceritakan keberadaan Allah SWT.
Diantaranya, dalam Surat Al-Hasyr, yang berbunyi,”Dia lah Allah  yang tiada Tuhan selain Dia. yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. dan Dia lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Jika kita mau membaca Alquran, memahami, dan mentadaburrinya, insya Allah bertambahlah keyakinan kita terhadap Allah SWT.

kelima, bukti sejarah.
Ada banyak peristiwa sejarah, sejak zaman Nabi Adam as hingga sekarang yang menunjukkan keberadaan Allah SWT. Salah satunya adalah sejarah Nabi Nuh as yang pada waktu itu pernah terjadi tsunami yang sangat besar yang menenggelamkan permukaan bumi.
Bukti sejarah lain yaitu terungkapnya sejarah raja Ramses di Mesir yang diketahui oleh para peneliti dan pakar arkaelogi bahwa Ramses itulah yang dimaksud sebagai Raja Firaun yang pernah mengaku dirinya Tuhan, dan mati di laut merah.
Bukti ini semakin menguatkan kebenaran isi Alquran, dan tentunya menguatkan keberadaan Allah SWT.

Itu lah 5 bukti keberadaan Allah SWT yang pada kesenpatan ini dapat saya sampaikan, dan masih banyak lagi bukti-bukti yang lainnya. Semoga dengan 5 bukti keberadaan Allah yang sudah kita kaji ini membuat kita semakin bergerak melangkah mencintai Allah dan dilanjutkan dengan langkah mengabdi kepada-Nya, sesuai dengan keinginan Allah kepada kita yang tertuang dalam firman yang berbunyi,”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”.

Nasehat ini disampaikan oleh Ust. Ki Agus Balukiah dalam khutbah Jum’at (23/5/2014) di masjid Alfarabi Universitas Muhamadiyah Bengkulu. (cr2)