oleh

Lima Jam “Meraih” Puncak Bukit Kaba

Lima Jam “Meraih” Puncak Bukit Kaba
Inilah Puncak Bukit Kaba di Kabupaten Rejang Lebong. Tampak, pelancong asal Kota Bengkulu mengabadikan saat di puncak Bukit kaba.

kupasbengkulu.com- Gunung Kaba atau lebih dikenal dengan Bukit Kaba. Gunung ini terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupuh Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Bukit Kaba mempunyai ketinggian sekitar 1.938 Mdpl.

Perjalanan dimulai dari Kota Bengkulu konvoi sepeda motor bersama teman-teman yang berdomisili di Kota Bengkulu. Kami berkumpul di kediaman seorang teman, Nia, sekitar Pukul 07.31 WIB. Namun, ngaret. Hhmm.. Karena ada teman yang belum datang sehingga baru berangkat sekitar pukul 08.31 WIB.

Perjalanan menuju Bukit Kaba dapat ditempuh dari arah barat atau Kota Bengkulu sekitar 95 Km perjalanan dengan memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Dan bisa juga dari arah timur, yakni Provinsi Sumatera Selatan, Palembang melewati Kabupaten Lahat dan Kota Lubuk Linggu dengan jarak tempuh sekitar 45 Km menuju simpang Bukit Kaba.

Setiba di Taba Penanjung, kami memarkirkan si ‘kuda besi’ di teras kediaman Rizal, guide kami. Untuk menempuh perjalanan ke Bukit Kaba, kami pun memilih menggunakan kendaraan roda empat. Tak ingin menghabiskan waktu, kami pun bergegas melancong ke Kabupaten Rejang Lebong.

”Kita makan dulu ya!. Dari pagi tadi saya belum sarapan,” kata salah seorang teman, Lisa diamini Nia.

Setelah mengisi perut, perjalanan pun dimulai. Sekitar pukul 11.41 WIB, kami tiba di Simpang Bukit Kaba. Kabut sangat tebal menyelimuti saat kedatangan kami dan beberapa kali hujan turun rintik-rintik. Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah jangan pernah sekalipun meremehkan cuaca di gunung.

”Belikan dulu jas hujan plastik. Sebab, cuaca sepertinya kurang bersahabat,” ujar salah seorang teman yang mengaku baru pertama kali mendaki Bukit kaba, Fizar.

Meskipun seharusnya matahari bersinar terik, tetapi tak bisa diprediksi di kabupaten yang memiliki motto Pat Sepakat Lemo Seperno (Empat Sepakat Lima Sempurna) dan bersemboyan Maro Ite Samo Bepegong Tangen (Mari Kita Bersama Berpegang Tangan) ini.

Untuk mencapai puncak Bukit Kaba, pendaki bisa menggunakan kendaraan roda empat untuk menuju pos Penjagaan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), yang berjarak sekitar 6 Km. Tak kurang dari 25 menit, mobil sudah sampai di area parkir Pokdarwis.

Saat kami tiba, sudah ada satu mobil pribadi dan beberapa sepeda motor parkir di situ. Setelah parkir, kami tidak langsung naik. Melainkan, kami mesti melapor dengan petugas jika ingin hiking. Bismillah, kami mulai melangkahkan kaki memasuki kawasan Taman Wisata Bukit Kaba.

Untuk para pelancong bisa melalui dua jalur yang berbeda, jalur pertama yaitu jalur kendaraan roda dua. Namun, sayang sekarang tidak memungkinkan dilewati kendaraan karena tak layak tempuh. Untuk jalur kedua, tentunya banyak menjadi pilihan pendaki. Yakni, melewati jalur hutan yang biasa disebut pintu rimba, meski jalan setapak dan terjal. Pendaki akan disambut aliran sungai yang tak begitu deras serta disambut kicauan burung-burung dan sejuknya hutan.

Kami memulai perjalanan. Harap-harap cemas tanpa tahu medan-nya seperti apa, lantaran cuaca usai dilanda hujan yang disertai kabut tebal. Kami PeDe membawa tas daypack full dengan barang bawaan dan logistik masing-masing. Harapan kami bisa segera tiba di puncak Bukit Kaba. Untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan kawah hidup yang membuat banyak orang terobsesi ke sana. Harapan kami kandas saat melewati dan merasakan dahsyatnya trek.

Sekitar pukul 12.16 WIB, langit mulai gelap lantaran diselimiti kabut tebal, matahari yang sinar mentari siang terhalang pekatnya kabut, sudah tidak bisa diharapkan untuk memberikan kami penerangan.

Jalur berbatu yang kami lalui di awal-awal tidak terlalu menanjak, tapi relatif konstan, hanya sesekali terdapat turunan yang agak tajam, yang umum digunakan para pendaki. Tim kami berjumlah 8 orang, kami terbagi dua, 4 orang berjalan lebih cepat, sedangkan kami di belakang bersama 4 orang lainnya.

Namun, kami yang bertolak dari Kota Bengkulu sebanyak 8 orang. Sayangnya, baru 10 menit perjalanan menuju puncak. Salah seorang teman, merasa tak sanggup untuk mengejar puncak Bukit Kaba.

”Kalian tahu kan jalan nya. Sepertinya, saya tidak sanggup lagi untuk mendaki. Saya tunggu di Pokdarwis saja,” imbuh guide kami, Rizal sembari menarik nafas panjang-panjang menghentikan perjalanannya.

Baru 45 menit perjalanan, nafas mulai terasa berat. Kami pun ngos-ngosan!. Bagaimana tidak?, dari Pokdarwis, belum sempat istirahat, eh… langsung naik-naik menuju ke puncak gunung…Eit bukit ding..hhmmm.. Di sepanjang rute terlihat papan penunjuk jalan informatif.

Di tengah perjalanan, sekitar 1 jam perjalanan. Salah seorang teman mendapatkan BlackBerry Mesengger (BBM) dari pimpinan.

”Belum ada sejarahnya saya naik gunung, setengah perjalanan langsung pulang. Saya harus sampai puncak. Tunggu, dong, saya mau naik lanjutkan perjalanan menuju puncak,” tegas Nia.

Sebentar lagi puncak itu akan tampak oleh mata, begitu bayangan dalam benak menyusuri setapak dengan kemiringan extreme ini membuat lelah jiwa raga, hutan, setapak menanjak yang tak kunjung ujung. Tapak sepatu meninggalkan jejak demi jejak pendakian, perjalanan masih jauh.

Perlahan tapi pasti, perjalanan pun kembali diteruskan. Menariknya, salah seorang teman yang baru pertama kali melakukan traveling mendaki gunung. Terus bertanya-tanya kapan akan tiba di puncak.

”Ah.. masih berapa lama lagi?. Apakah masih jauh perjalanan menuju puncak Bukit Kaba ini?. Mana panflet yang katanya da tulisan sebentar lagi menuju puncak itu, Kok tak ada-ada dari tadi?,” tanya Fizar dan Apriansyah, dengan raut wajah yang sudah memerah, seolah-olah tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan.

”Sebentar lagi sampai, jalan aja terus,” jawab Ayu memberikan motivasi kepada Fizar dan Apriansyah.

Dan akhirnya saudara-saudari, sekitar pukul 14.06 WIB sampailah kami di Kuba Bukit Kaba! Alhamdulillah. Kami pun menata nafas yang nampak kacau seperti mesin diesel tua. Tarik nafas…keluarkan…tarik nafas…keluarkan…minum air…dan akhirnya nafas kami pun kembali normal.
Hore! Siang itu, Puncak Bukit Kaba tidak hanya kedatangan kami saja. Tapi, telah ada beberapa pendaki lain, yang sudah sampai duluan dengan mendirikan tenda dome di pintu masuk Puncak Bukit Kaba atau yang di Kenal Kuba.

Di sana kami beristirahat sejenak, untuk menaruh barang bawaan sekedar melemaskan otot pundak. Kami cukup shock saat merasakan trek menanjak dari Pokdarwis hingga mencapai Kuba Bukit Kaba. Halangan terbesar kami bukan pada kaki, melainkan tas daypack dan nafas yang tersengal-sengal. Setelah beberapa menit beristirahat dan menikmati makanan ringan. Kami pun langsung menuju perjalanan ke Puncak Bukit Kaba.

”Istirahat saja dulu di sini. Kalau mau ke Top Bukit Kaba. Kita mesti berjalan lagi sekitar 20 menit. Dengan melintasi jalan berbatu serta menaiki anak tangga yang cukup banyak,” jelas Nia, sembari mengeluarkan makanan ringan dari daypack.

”Ya, saya mau ke puncak Bukit Kaba. Sebab saya belum pernah sampai puncak. Sekalian mendokumentasikan moment ini,” jawab Ayu, didampingi Lisa diamini Fizar dan Dayat.

Kami lanjutkan langkah dengan meniti trek dengan batu-batu besar berserakan. Dalam perjalanan menuju puncak atau Top Bukit Kaba, hujan pun mulai turun. Di tengah perjalanan, kami sempat kedinginan, suhu yang menurun, disertai tetesan air hujan membuat baju yang kami kenakan lembab.
Beruntung kami membawa jas hujan. Terdengar suara ”Woosh.. woosh…”, suara angin kencang yang berasal dari puncak. Kami tetap menaki anak tangga menuju Top Bukit Kaba.

Melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 14.41 WIB, berarti kami sudah melangkah selama sekitar 2,5 jam dari Pokdarwis. Yaaap, berjalan selama itu untuk menuju Top Bukit Kaba. Sampailah kami di ujung penantian. Akhirnya puncak makin dekat dan tinggal beberapa langkah lagi.

Setelah letih Berjalan kaki menaiki anak tangga, tentunya akan terbalas dengan keindahan pesona puncak yang asri akan keindahan alam sejati. Dan pemandangan kawah hidup yang masih mengeluarkan asap tersebut. Tentu saja moment tersebut merupakan moment yang tak dapat dilupakan di Bukit Kaba.

Sampailah kami di puncak Bukit Kaba dengan batuan besar menghiasinya. Menengok ke arah timur terbentang kawah hidup Bukit Kaba yang mengepulkan asap belerang pada kaldera yang menganga.

Tak lama setelah kami sampai di puncak, kabut tebal mulai menyelimuti pemandangan alhasil tak ada yang bisa kami nikmati, selain makanan ringan seperti cokelat, pilus dan air putih. Tapi, Alhamdulillah kami sempat melihat view sekitar puncak saat masih cerah tadi meski tak begitu lama.

Pendaki kaum ‘Ibu Kita Kartini’ yang ikut dalam traveling ke puncak Bukit Kaba mengambilkan beberapa dokumentasi dari Top Bukit Kaba. Begitu juga Kaum ‘Bung Tomo’ tak mau ketinggalan dalam mendokumentasikan Puncak Bukit Kaba. Tetap saja kepuasan sudah kami dapatkan. Yeeahhh..Akhirnya puncak telah kami gapai…!

Senja mulai tampak wujudnya, matahari mengufuk di sebelah barat, kuning gradasi menuju jingga, mengingatkan untuk segera menyudahi nikmatnya keindahan alam dari Puncak Bukit Kaba.

”Lihat jam sudah pukul berapa sekarang?. Waktunya kita untuk turun. Mumpung belum turun hujan dan gelap,” ajak Anton.

Perjalanan berat untuk pulang sudah diprediksi, bahkan estimasi waktu untuk sampai Pokdarwis, kaki Bukit Kaba sudah terbayang, jalan yang menurun dengan setapak yang akan hanya terlihat ‘mata telanjang’ akan terhadapi dalam perjalanan turun.

”Kita turun ke Pokdarwis lewat jalan aspal saja. Sebab, jalan rimba licin,” ajak Anton lagi, didukung Lisa, Ayu dan teman lainnya.

Senja benar-benar datang, matahari berangsur hilang ditutupi kabut dan hari pun mulai petang walaupun tidak terdengar bunyi burung yang bersuara merdu. Namun, kami tetap menikmati perjalanan turun ini, melewati hutan, ilalang kembali menuju Pokdarwis dimana tempat kami memarkirkan mobil tadi.

Perjalanan pulang cukup terasa melelahkan, karena tidak sekedar turun tapi perjalanan saat petang menuntut konsentrasi tinggi dengan soroton mata yang tajam. Sehingga kekagetan kecil kadang muncul, kaki terpleset atau sedikit selip dan tersandung batu. Gelapnya hari, haus dan lapar mendorong tubuh untuk segera sampai menuju Pokdarwis menemui bahan makanan, air jernih pelepas dahaga.

”Buruan bersihkan kotoran yang ada di kaki, di Toilet Pokdarwis. Terus kita langsung pulang ke Kota Bengkulu. Jalan kita ini masih jauh. Tapi, kita cari makan dulu di Kota Curup. Sebab, Lapar!,” ajak Nia sembari mempacking barang ke dalam bagasi mobil.

Beberapa dokumentasi di bawah akan berbicara seribu kata, menggambarkan indahnya alam ciptaan-Nya. Intinya, melakukan suatu perjalanan atau berlibur kemana saja, dan membentuk kenangan tak terlupakan perlu kita lakukan. Layaknya ungkapan ‘Take vacations, go as many places as you can. You can always make money, but you can’t always make memories‘(Berlibur, pergi tempat sebanyak yang Anda bisa. Anda selalu bisa menghasilkan uang, tetapi Anda tidak dapat selalu membuat kenangan).(gie)

[youtube]http://youtu.be/TCun8ijQEiA[/youtube]

Komentar

Komentar ditutup.

Rekomendasi