oleh

Melihat Perkawinan Tradisi 12 Suku di Pondok Kelapa Lewat Lebaran Ketupat

Tradisi Lebaran Ketupat
Tradisi Lebaran Ketupat

kupasbengkulu.com- Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda namun tetap satu jua, agaknya semboyan inilah menjadi dasar bagi masyarakat Dusun Pulau Beringin, Desa Harapan, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah untuk melaksanakan lebaran ketupat.

Tak sekedar perayaan ceremonial, tradisi yang disebut oleh warga setempat sebagai warisan Sunan Kalijaga ini, penuh dengan nuansa religi dan kental akan budaya.

Meskipun tradisi ini terlahir dari masyarakat keturunan Jawa yang ada di Dusun Pulau Beringin, namun sekarang telah dikombinasikan bersama dengan nilai kultur dari beberapa suku yang terdapat di sini.

“Jumlah suku di Dusun ini mencapai 12 suku, seperti dari Jawa saja ada beberapa macam kemudian Bugis, Medan, Padang , Serawai, Lembak, Rejang dan lainnya,” ungkap Heri Kusmawan, anggota Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Al Hidayah Pulau Beringin.

Acara lebaran ketupat merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan selama ramadhan dan idul fitri. Pada awal ramadhan, warga telah melaksanakan do’a bersama, kemudian kembali dilaksanakan pada 27 ramadhan, lalu tradisi takbir keliling pada malam 1 syawal, terakhir adalah perayaan lebaran ketupat.

Dengan demikian warga merasa kegiatan ramadhan dan idul fitri mereka lengkap dan komplit. Perangkat dan warga dusun memang telah mempersiapkan panitia khusus untuk seluruh rangkaian kegiatan ini, di bawah bimbingan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Pulau Beringin.

“Jumlah panitia kurang lebih 20 orang, terdiri dari laki laki dan perempuan, kemudian dibantu oleh karang taruna” Kata M. Sahli, ketua panitia lebaran ketupat 1435 H.

Tanpa dibatasi usia dan suku, warga Dusun Pulau Beringin tumpah ruah memenuhi masjid Al Hidayah yang mereka bangun secara swadaya ini untuk memperingati lebaran ketupat.

unnamed (1)

Kemeriahan acara

Ada yang berbeda di masjid Al Hidayah pada minggu (03/08/2014) , di depan masjid berdinding terbuka Dusun Pulau Beringin ini terlihat para ibu anggota kesenian rebana sibuk berlatih menyanyikan lagu kasidah, beberapa orang juga terlihat sibuk mengatur karpet dalam masjid, di sudut lain beberapa anak muda terlihat merapikan letak piring piring yang berisikan makanan hasil bumi desa ini. Ada salak, tapai ubi, kacang, keripik ubi pedas, semua tertata rapi.

“Ini semua hasil bumi masyarakat kami, sengaja dibuat spesial untuk memperingati lebaran ketupat tahun ini” ungkap Syamsu Alam, Ketua Adat Pulau Beringin.

Di tengah masjid terlihat piramida ketupat induk dan pohon telur yang menjadi perhatian warga terutama anak anak. Rupanya mereka tergelitik pada bentuk pohon yang dibalut kertas warna warni tersebut yang menjadi tempat bergantung telur telur rebus.

Beberapa anak muda terlihat sibuk mengangkat piring dan mengatur letak minuman, ada pula yang asyik mendokumentasikan kegiatan ini.

Sungguh kerjasama dan kekompakan yang terjalin mengisyaratkan bahwa warga disini begitu menjaga nilai kebersamaan tanpa mengenal perbedaan. Semuanya dengan sukarela saling membantu demi kesuksesan acara.

“Setiap kali ada kegiatan, semuanya memang terlibat, kita memang terbiasa bergotong royong. Sampai membangun masjid inipun kami bergotong royong. Apalagi kalau sekedar peringatan lebaran ketupat yang memang sudah menjadi bagian dari berbagai kegiatan agama dan adat” ucap M. Sahli.

Lebaran ketupat tahun ini terasa lebih spesial bagi warga di sini sebab Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah turut berkenan hadir.

Setelah acara dimulai rombongan ketupat dari setiap RT dipanggil untuk memasuki masjid. Total ada lima rombongan yang mewakili setiap RT, yang mengelilingi piramida ketupat induk. Beberapa sambutan dan zikir bersama dilakukan agar acara lebih khidmat lalu rombongan ketupat dipersilhkan keluar, kemudian warga mendengar tausiah lalu do’a bersama. Terakhir setiap yang hadir akan disuguhkan ketupat bersama sayurnya dan telur, dan dimakan serentak.

unnamed (3)

Makna dan Simbol

Tradisi yang unik ini tak lepas dari makna islami yang terlambangkan dari jumlah dan bentuk ketupat beserta telur.

“Bentuk ketupat yang persegi melambangkan empat mata angin, ini berarti tradisi ini tak mengenal batasan, semua warga boleh datang” ungkap Sumandio, anggota BKM Pulau Beringin.

Dilanjutkannya jumlah telur yang terdapat padapohon telurtersebut adalah 99, yang melambangkan asmaul husna. Ketupat berbentuk kubah masjid yang dibawah oleh rombongan dari setiap RT juga 99 yang berarti juga Asmaul Husna, dikelilingi oleh 25 telur yang melambangkan jumlah nabi. Sedangkan rombongan pemandu tandu berisi kubah ketupat yang berjumlah 5 orang melambangkan rukun islam. Enam orang pengiring tandu melambangkan jumlah rukun iman.

“Kalau piramida ketupat induk itu jumlahnya 495 buah, di dapat dari 99 dikalikan 5 sesuai jumlah RT kami, ini bermakna tentang persatuan warga disini,” tambah Sumandio.

Asal Muasal

Lebaran ketupat yang berarti lebaran setelah puasa syawal di Dusun Pulau Beringin telah berlangsung sejak tahun 1986, tepat setahun setelah Dusun ini berdiri. Awalnya tradisi ini hanya dilaksanakan oleh warga keturunan Jawa saja yang menjalankannya berdasarkan ajaran Sunan Kalijaga dan dilaksanakan di musola dan masjid yang ada.

Namun selama 4 tahun terakhir ini, semenjak Masjid Al- Hidayah selesai dibangun lebaran ketupat dilaksanakan hanya di masjid ini, seluruh masyarakat disatukan dan terjadilah pengawinan tradisi dalam memperingati lebaran ketupat.

“Pohon telur itu lahir dari tradisi keturunan bugis disini, yang maknanya berharap melahirkan kebaikan terutama pada generasi muda setelah lebaran sesuai dengan tema lebaran kali ini yaitu mari kita bangun mentalitas anak bangsa kembali pada nilai persatuan dan kesatuan untuk menuju masyarakat madani,” Beber M. Sahli.

Warga disini telah bersepakat untuk terus menjaga, meningkatkan serta melestarikan kegiatan ini dengan tetap berjalan pada koridor yang benar tanpa tergelincir dari nilai aqidah.

unnamed (4)

Tujuan dan Harapan

Substansi dari pelaksanaan lebaran ketupat di Dusun Pulau Beringin adalah terwujudnya Ukhuwah Islamiyah masyarakat beriman kepada Allah SWT, ketupat ini hanya medianya bukan tujuan.

Ketupat adalah makanan sederhana yang bungkus daun kelapa muda, berarti adalah simbol generasi muda yang diharapkan dapat bersatu dan kuat, seperti beras yang terbungkus rapi dalam ketupat.

Tradisi ini juga diharapkan oleh warga disini untuk menjadi tradisi tingkat kabupaten, serta tetap diteruskan oleh anak muda, agar masjid sejahtera dan kegiatan di dalamnya selalu hidup.

“Kita berharap dukungan dari semua pihak, karena kami sebagai warga yang selalu ingin mandiri juga tetap membutuhkan dukungan agar kegiatan ini dapat selalu dilestarikan” Tutup M. Sahli yang diamini narasumber lainnya.(**)

Penulis : Evi Valendri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed