oleh

Melirik Kehidupan Bocah-Bocah di Desa Paku Haji

bocah
Bocah – bocah memipil jagung di salah desa Kabupaten Bengkulu Tengah

kupasbengkulu.com – Matahari menyengat membuat cucuran keringat merembes melalui pori, saat kupasbengkulu.com tiba di Desa Paku Haji Kabupaten Bengkulu Tengah. Ada apa di desa ini?

Ketika memasuki desa ini, anda pastinya akan melihat bangunan rumah panggung. Ya, usianya pun diperkirakan sudah puluhan tahun. Kondisi ini terlihat dari bentuk kayu yang sudah mulai memudar dan atap rumah yang mulai berkarat.

Sepintas desa ini seperti tak berpenghuni?. Saat menyambangi desa ini, jurnalis kupasbengkulu.com melihat seperti tidak adanya tanda-tanda kehidupan. Loh kok? Sebab, mayoritas penduduk sudah pergi mencari nafkah.

Hanya beberapa warga yang terlihat sesekali melintasi jalan dalam desa. Baik itu, jalan kaki maupun mengendarai sepeda motor. Namun, kupasbengkulu.com mendengar suara anak anak cukup ramai dari sebuah rumah.

Penasaran?, akhirnya kupasbengkulu.com menghampiri sebuah rumah yang dihalamannya terhampar menjemur jagung, baik yang masih utuh maupun yang sudah di pipil. Suara ramai anak kecil rupanya bersumber dari bawah rumah panggung yang ada di sampingnya. Dengan penuh keceriaan mereka memipil jagung tua, jumlah mereka kira kira 8 orang.

”Mereka sedang upahan memipil jagung, satu cupak 200 rupiah,” ungkap Jarni, Pemilik Jagung tersebut.

Jarni mengaku, memiliki satu Hektare (Ha) lahan yang tidak jauh dari belakang rumahnya. Sengaja ditanami jagung karena tidak ingin lahan yang selama ini ia tanami padi menganggur saja.

“Ingin menambah penghasilan, saya manfaatkan tanah darat di belakang rumah untuk jagung, harusnya hasilnya banyak tapi karena sering diserang hama babi jadinya hanya dapat sedikit” aku Jarni.

Jarni bercerita, tentang sulitnya menambah penghasilan. Terlebih saat ini harga jual hasil bumi, seperti karet dan kopi mengalami penurunan. Belum lagi permasalahan infrastruktur jalan yang mempersulit mereka untuk menjual hasil bumi.

“Jagung pipil kering ini hanya laku dibeli oleh tengkulak di sini dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 2.500 perkilo. Padahal, harga jual normal kalau diluar bisa sampai Rp 3.500 lebih. Tapi, mau bagaimana lagi ongkos angkut ke luar butuh biaya mahal, sudah jauh jalannya rusak pula” cerita Jarni kepada kupasbengkulu.com

Meski demikian, Jarni sangat bersyukur. Sebab ia bisa tetap berbagi rejeki dengan anak anak di sekitar rumahnya.

“Alhamdulillah, bisa kasih rezeki untuk mereka. Awalnya saya menawarkan upahan memipil jagung pada ibu-ibu tapi anak kecil di sekitar rumah lebih berminat,” ungkapnya sambil mengambil beberapa tongkol jagung lalu menyerahkannya pada salah satu anak.

Tidak terlihat lelah di wajah polos para anak ini, mereka terlihat begitu bersemangat memipil jagung sambil berceloteh dan bersenda gurau. Ya, karena memang memipil jagung bukanlah pekerjaan yang sulit, sehingga mereka cekatan melakukan pekerjaan ini.

“Senaaaaaang buuukk,” teriak anak anak ini ketika kupasbengkulu.com menanyakan bagaimana rasanya diupah memipil jagung kering.

Jarni, seorang wanita paruh baya dari sebuah desa hari ini telah mengajarkan pada kita, bahwa untuk berbagi kita tak harus punya lebih. Namun kita harus punya rasa peduli.

Penulis : Evi Valendri, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

11 − nine =

News Feed