oleh

Melirik Wisata Malam Kota Bengkulu

bok kps
SAJIAN : Begnilah suasana wisata kuliner malam hari di Kota Bengkulu.

Saat malam menjelang, Kota Bengkulu tampil dalam sosok lain untuk menawarkan serangkaian kehidupan malam yang bergairah. Terdapat rumah toko (ruko) berjejer dengan sinar lampunya yang terang benderang. Kuliner juga menambah semarak kehidupan malam. Terdapat banyak tempat makan yang tetap buka hingga larut malam, yang menawarkan berbagai makanan yang lezat. Apakah Anda mencari makanan kecil saat larut malam atau pun menambahkan kembali energi. Ada banyak yang tersedia untuk membangkitkan selera!. Dengan berbagai tawaran yang begitu banyak, tidur akan menjadi hal terakhir dalam benak. Seperti apa, wisata malam Kota Bengkulu. Berikut laporannya.

kupasbengkulu.com, Kota Bengkulu.

Waktu baru menunjukkan sekitar pukul 20.01 WIB saat itu cuaca cerah, kerlap-kerlip lampu dari kendaraan tampak berpencar dari kaca mobil berbaur menjadi warna-warni di jalanan Jendral Soeprapto, Kota Bengkulu. Dahulu jalan ini dinamakan Pramu’an. Baru disadari saat ini Bengkulu, telah melesat mengejar peradaban dunia menuju Kota Metropolis. Padat kendaraan membuat macet jalan pusat Kota Bengkulu.

Perut tak bisa diajak kompromi, maklum jatah makan malam ini rada sedikit terlambat. Ya, di Masjid Jamik, saat ini terbentang puluhan penjaja makanan. Mulai dari sate, mie, seafood, ayam goreng semua lengkap, Hmmm…

Aroma menyengat, bawang goreng dengan khasnya membawa kami pada Warung itu. Tak ada menu special dalam waru itu, nasi ayam goreng plus sambal cabe merah dan jus buah mangga, lumayan!. Cukup gesit, pramusaji berrambut sebahu dengan paras hitam manis, menyajikan pesanan. Menikmati kuliner, ditepi jalan seolah-olah dicampuri ‘bumbu’ resep makanan debu dan asap kendaraan. Menambah lahap makanan yang dipesan tadi.

”Silahkan dinikmati makanannya, bang,” kata dia dengan nada lembut.

Tak terasa, waktu sudah memasuki pukul 20.31 WIB, pengunjung kawasan kuliner tersebut, semakin ‘menjamur’. Mulai dari kaum bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, remaja dan Abg sekalipun. Datang silih berganti, sebuah pemandangan gratis yang tentunya menyegarkan mata. Untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja menghadap layar putih, yang tak pernah lelah di tulis dengan tinta hitam.

Sosok perempuan berwajah putih berparas cantik, dengan rambut lurus terurai tampak turun dari sebuah mobil, cukup mengalihkan perhatian. Dalam benak berpikir, ‘alangkah sempurnanya ciptaan Tuhan,’ Aduh…

Perempuan itu, berpakaian merah muda cocok dengan paras wajah cantiknya. Dipadu dengan celana setengah tiang warna putih. Baru kusadari, sosok perempuan Bengkulu memang luar biasa. Pantas, jika mantan Presiden Soekarno menjatuhkan pilihan sosok Fatmawati, wanita anggun dengan daya tarik tersendiri. Ditambah lagi, wajah keibuan, cerdas. Sebuah kebanggaan bagi wanita Bengkulu.

Sudahlah, kita tinggalkan dahulu, cerita sosok perempuan yang tak begitu menarikperhatian kami. Usai melakukan kewajiban di pemilik kedai makan, kami meluncur menuju kawasan Kampung Cina, tepatnya Pasar Baru Koto.

Pasar Barukoto, sebuah pasar tua di Kota Bengkulu, tampak kumuh memang tak terawat. Dengan corak warna cat sudah pudah dan terlihat rusuh. Disini berjejer penjual kuliner, beruntung kami telah makan. Jika tidak, tentu kawasan ini juga sangat layak dipilih sebagai tempat wisata kuliner.

Dari arah depan berdiri kokoh, sebuah bangunan peninggalan Inggris. Jika dilihat dari udara seperti Kura-kura seakan ingin berjalan ke laut lepas Tapak Paderi. Nama bangunan itu, Benteng Marlbrough, menajubkan!. Benteng ini merupakan benteng pertahanan Inggris semasa itu.

Terbesit sebuah pertanyaan? Ada kepentingan apa Inggris ke Bengkulu zaman itu, dengan berani berani membangun Benteng Pertahanan sebesar itu di Bengkulu? kekayaan apa sesungguhnya dimiliki Bengkulu, entahlah. Seharusnya masyarakat Bengkulu sendiri mengetahui ini. Sebelum melintasi pintu masuk benteng, disebelah kiri kami terdapat pohon rindang, satu pasangan muda-mudi bercengkrama romantis sekali.

Sang perempuan menyandarkan kepala di bahu pria yang ku duga itulah pilihan terbaik perempuan itu. Semoga kebahagian yang mereka dapat bukan kepalsuan dan penderitaan, amin.

Masuk di dalam benteng sebenarnya hanya dapat dikunjungi siang hari. Namun, berkat akses khusus dan sedikit paham akan situasi lokal kami dapat masuk ke kawasan itu. Tak ada kesan angker atau beraroma mistik, menempatkan posisi di sudut bangunan benteng mata lepas memandang Samudra Hindia, diatas langit bertambur bintang, seakan ingin jauh.

Air Laut membiru saat pagi hingga petang hari membentang luas dari ketinggai bangunan benteng. Namun, saat malam hari hanya pijar lampu nelayan yang berkelap-kelip terpancar menyinari air laut. Membuat suasana alam menjadi terpancar sahdu. Ditambah, hembusan angin sepoi-sepoi beraroma khas pantai mengacakkan rambut dan wajah, kala itu.

”Suasana alam di sini menajubkan sekali, seakan-akan kita dibawa ke suatu tempat terindah di dunia,” imbuh pengunjung lain yang sempat terdengar ke telingan kami.

Tak terasa, waktu terus berjalan. arloji menunjukkan angka digital 23.32 WIB. Ada rasa ingin pulang dan berisirahat. Namun, kata hati masih tergoda untuk menyingkap lebih jauh, ada apa lagi di Bengkulu jika malam hari.

”Well, kita menuju pantai panjang,” ajak salah sorang rekan kami.

Melintasi obyek wisata Tapak Paderi, kami menembus malam dengan hempasan angin menuju obyek wisata Pantai Panjang.  Suasana sepi, ditambah gemerisik gesekan pohon cemara berbaris di sisi kanan pertanda memasuki wilayah obyek wisata andalan Bengkulu itu.

Perjalanan terhenti. Singgah disalah satu tempat hiburan malam di wilayah itu. Aku baru tersadar, Bengkulu memang layaknya kota lain. Malam seolah tak beristirahat dengan berbagai aktivitasnya.

Tempat hiburan tersebut cukup modern, dari lapangan parkir terdengar dentuman dan hentakan suara musik ‘House’. Mendadak darah dan adrenalin ikut terpancing, sesekali mencoba kehidupan malam tak masalah.

Memasuki ruangan tersebut, ternyata lumayan padat oleh manusia dari beragam jenjang sosial dan usia. Satu sofa berukuran sedang kami tempati, tiga wanita dengan dandanan aduhai mengahampiri. Beberapa minuman dingin, rokok dan makanan kecil kami pesan diiringi alunan musik dengan suara yang bakal memecahkan gendang telinga.

Terlihat, beberapa pasangan tampak asyik ber’goyang’, larut dalam suasana alunan musik ‘DJ’. Sementara disisi lain beberapa wanita bergerombol, dengan pria-pria tak tahu apa yang mereka bicarakan. Hilir mudik seperti gerakan ‘setrika’ wanita di tempat hiburan tersebut menggoda kami. Dalam benak, sepintas sosok wanita itu berharap menyapa dan mengajak mereka bergabung untuk menghabiskan waktu malam itu.

Waktu terus berjalan, suasana pun semakin panas. Suara musik pun tersu bergeming di ruang gelap yang hanya disnari dengan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Rekan kami pun akhirnya terbawa suasana, dengan menggerakkan, menggelangkan kepala mengiringi musik tak jauh dari sound system. Jujur, malam itu kami menemukan nuansa berbeda.

Tampak disudut ruang beberapa pria paruh baya terlihat sudah ‘oleng’ mungkin terlalu banyak mengkomsumsi minuman yang ia tenggak. Aku tidak tahu sudah makan kah anak istrinya di rumah? Kala ia mencumbui beberapa wanita malam itu. Ah, dunia memang sudah tua.

Tak lama, hiburan malam pun berakhir. Tak terasa fajar sebentar lagi tiba. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 03.01 WIB. Usai membayar semua keindahan dan kenikmatan yang kami rasa, kami pun beranjak pulang.

Dalam perjalanan pulang tersentak, jika hirukpikuk Kota Bengkulu saat ini tak lagi seperti dahulu. Sebuah kota kecil yang ‘sedikit’ tertinggal. Saat ini sudah menjadi sebuah kota kecil yang mulai berjalan, dengan bangunan pertokoan, kepadatan lalu lintas, tingkat kriminalitas dan hedonis ikut menyertai. Apakah masyarakat Bengkulu mampu melawan zaman atau kah ikut dalam arus tersebut, biarkan waktu menjawabnya.(kps/gie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed