Selasa, Desember 6, 2022

Mengenal Ka-Ga-Nga, Aksara Asli Masyarakat Bengkulu

Baca selanjutnya

Muhardi,  Kasi Koleksi, Konservasi, dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu, menunjukkan lontar bertuliskan huruf Ka Ga Nga
Muhardi, Kasi Koleksi, Konservasi, dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu, menunjukkan lontar bertuliskan huruf Ka Ga Nga

kupasbengkulu.com – Tulisan merupakan sarana ekspresi dan komunikasi dalam suatu kelompok masyarakat. Lahirnya aksara berkaitan erat dengan latar belakang masyarakat tempat aksara tersebut dilahirkan. Di Bengkulu sendiri dikenal dengan aksara Ka-Ga-Nga.

Aksara Ka-Ga-Nga merupakan turunan dari aksara Palawa. Ka-Ga-Nga berbentuk garis siku-siku dan sangat kaku. Dikemukakan Muhardi,  Kasi Koleksi, Konservasi, dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu, dalam kajian filoligi (ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik), semakin kaku bentuk huruf, maka semakin tua umur aksara tersebut.

“Bisa jadi karena Ka-Ga-Nga ini berkembangnya mulai abad ke-10, ke’kaku’annya disebabkan karena media tulisnya di bambu. Jenisnya masuk dalam kelompok aksara silabik (berbentuk grafem/ suku kata) dan dibaca dari kiri ke kanan seperti aksara Latin,” jelas Muhardi.

Ka-Ga-Nga semua aksaranya berakhiran ‘A’, seperti Ta-Da-Ma, Pa-Ba-Ma, dan sebagainya, hingga 23 grafem untuk suku Rejang dan Lembak, serta 28 grafem untuk Serawai dan Pasma. Suku Rejang menyebut Ka-Ga-Nga sebagai aksara Rencong, sedangkan Serawai senang menyebutnya dengan sastra Ulu.

“Ada yang menafsirkan ‘Ulu’ artinya yang terdahulu, yang mana digunakan sebelum adanya aksara Arab dan Latin,” lanjut Muhardi.

Pada zaman dahulu, aksara Ka-Ga-Nga ini ditulis pada media bambu, bilah bambu, batu, kulit kayu, rotan, bilah rotan, serta tanduk. Masyarakat menggunakannya untuk menuliskan doa-doa, mantera, teknik bercocok tanam, pengumuman, cerita rakyat, sejarah, informasi, yang dikirimkan secara pribadi atau masyarakat luas.

“Pada tahun 1987, ada rencana akan dibuat mesin ketik oleh Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (dahulu Sekretariat Negara Republik Indonesia, disingkat Setneg RI-red). Nama Ka-Ga-Nga diambil dari tiga huruf awal, disamakan dari versi Rejang dan Serawai agar ada kesatuan bahasa. Ini merupakan upaya pelestarian aksara asli Bengkulu yang pertama,” cerita Muhardi.

Di Museum Negeri Bengkulu sendiri banyak ditemukan potongan naskah penggunaan aksara Ka-Ga-Nga pada masyarakat zaman dahulu, yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu.

Saat ini pelestarian dengan menjadikan Ka-Ga-Nga pada mata pelajaran muatan lokal. (val)

Diskominfotik Provinsi Bengkulu Adakan UKW untuk Wartawan

Kupas News, Kota Bengkulu – Meningkatkan kompetensi wartawan di Bengkulu hingga saat ini terus dilakukan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Bengkulu, dengan...

Polsek Pino Dapati Ratusan Botol Miras saat Menggelar Razia

Ratusan botol miras yang disita Polsek Pino Polres Bengkulu Selatan, Senin, 5 Desember 2022, Foto: Dok Kupas News, Bengkulu Selatan - Seorang pengemudi minibus berinisial...

Gubernur Rohidin Bagikan Tabung Gas Gratis untuk Warga Bengkulu Tengah

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat membagikan tabung gas 3 Kg gratis kepada masyarakat Bengkulu Tengah, Senin, 5 Desember 2022, Foto: Dok Kupas News, Bengkulu Tengah...

Syarif Bastaman Terpilih Aklamasi Ketua Umum PB GABSI

Syarif Bastaman Ketua Umum PB GABSI terpilih (baju hitam) bersama Ketua GABSI Bengkulu, Rahiman Dani dan pengurus GABSI Bengkulu, Foto: Dok  Kupas News, Surakarta - Kongres...

Gubernur Rohidin Pastikan Bengkulu Genjot Infrastruktur Jalan di 2023

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Bhakti PU ke 77 Tahun 2022, di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Bengkulu, Sabtu, 3...
Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Terbaru