Home » RAMADHAN » Mengenal Lebih Dekat Jemaah Suluk Rejang Lebong

Mengenal Lebih Dekat Jemaah Suluk Rejang Lebong

by Yasrizal

Jemaah Sulu Rejang Lebong

REJANG LEBONG kembali digegerkan dengan kabar meninggalnya salah satu jemaah Tarekat Naqsabandiyah, asuhan Buya Syekh M Rasyidsyah Fandi, yang melakukan kegiatan dzikir mereka di Desa Suka Datang, Kecamatan Curup Utara, Rejang Lebong, Jumat (26/6/2015). Lagi-lagi, penyebabnya adalah dehidrasi (kekurangan cairan) dan juga keletihan.

Pantauan penulis di lokasi kegiatan tarekat ini, di Desa Suka Datang, terdapat kotak-kotak yang tertutupi kelambu. Di dalam kelambu tersebut, jemaah tarekat ini melakukan dzikir, biasanya tidak putus dari malam hingga subuh. Dalam satu kelambu, ada seorang jemaah.

Tarekat ini memulai kegiatan mereka pada setiap bulan Ramadhan dan biasanya akan berakhir menjelang lebaran. Masyarakat Rejang Lebong mengetahui dengan pasti adanya tarekat ini. Bagi masyarakat umum Rejang Lebong, mereka menyebut jemaah tarekat ini sebagai Suluk atau yang lebih ekstrim “Haji Suluk”.

Entah darimana asalmula sebutan itu, yang pasti sudah sangat akrab di telinga masyarakat Rejang Lebong. Satu hal yang penulis ketahui dengan pasti, setidaknya dari tahun 2011, selalu ada jemaah yang sakit atau meninggal di lokasi tersebut. Oleh karena itu, selalu disiapkan petugas medis yang bersiap menjaga kesehatan para jemaah.

Tahun ini, seorang jemaah dari Tarekat ini, Roni Azis (43) seorang jemaah asal Desa Pangkalan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan meninggal dunia. Padahal, seperti yang dijelaskan
oleh ketua Pelaksana Kegiatan tarekat ini, M Edy Rusman, sebelum mengikuti kegiatan tarekat ini, setiap jemaah diwajibkan membawa KIR Dokter, yang membuktikan bahwa yang bersangkutan sedang sehat.

“Dari KIR dokter tersebut, kita tahu bahwa almarhum (Roni Azis) tidak mengidap penyakit apa-apa,” jelas Edy.

Tidak hanya almarhum, sebelumnya total sudah 4 orang yang pulang karena sakit. Edy menegaskan, bahwa bila jemaah sedang sakit, maka ia diperbolehkan untuk tidak puasa. Keempat orang yang pulang itupun, lanjut Edy, tidak melulu karena sedang menderita sakit.

“Karena beberapa diantaranya, dikarenakan anaknya yang sakit, sehingga mereka khawatir lalu izin pulang,” kata Edy.

Pengikut Syeh Naqsaband

Penulis sudah pernah mencari tahu apa itu tarekat naqsabandiyah. Ada berbagai macam bentuk tarekat -di dunia ini, salahsatunya Tarekat Naqsabandiyah ini. Diketahui, pendirinya adalah Syeh
Naqsaband yang bernama asli Muhammad bin Muhammad Baha’udin pada abad ke 14 di Turkistan. Pengikutnya di Indonesia sudah cukup banyak, begitu juga di Provinsi Bengkulu.

Selain di Rejang Lebong -yang merupakan tempat awal dari tarekat ini, gerakan tarekat ini juga terdengar di Kaur dan Mukomuko, meski tidak sebesar di Rejang Lebong.

Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, ia menjabarkan bahwa Naqsabandiyah memiliki keyakinan bahwa pendiri pertama dari tarekat adalah Abu Bakar as-Shidiq. Menurut mereka, Abu Bakar mengamalkan wirid dan dzikir Naqsabandiyah, dengan mengurung diri (dalam kelambu) lalu berdzikir dari malam hingga subuh. Selain itu, mereka juga mengagungkan pendiri mereka, Syeh Naqsaband.

“Bagi Naqsabandiyah, mendekatkan diri melalui ar-Rabitha (sarana mendekatkan diri pada Allah lewat dzikir tanpa putus) dianggap lebih kuat daripada shalat 5 waktu,”tulis Ustadz Ammi Nur
Baits di situs online konsultasisyaria.

Beberapa keyakinan, aqidah dan kepercayaan Tarekat Naqsabandiyah banyak termaktub dalam buku-buku karya mereka. Keterangan yang lebih lengkap, menurut Ustadz Ammi Nur Baits, dipaparkan dalam buku berjudul Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah li al-Islam.

Kembali ke Rejang Lebong, dimana selalu menelan korban jiwa setiap tahunnya. Namun, peserta yang ikut selalu ada bahkan cenderung banyak. Tercatat, peserta tarekat ini di Rejang Lebong datang dari luar daerah, dari ujung barat (Aceh) hingga ke timur (Nusa Tenggara Timur) bahkan dari luar negeri (Malaysia dll).

Ketika ditanya alasannya, Edy menjelaskan bahwa mereka melakukan dzikir tersebut hanya dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah. Mulanya, dzikir dimulai dengan menyebut asma Allah ribuan kali. Semakin hari, jumlah tersebut terus digandakan hingga mencapai puluhan ribu perhari.

Namun, Edy memastikan bahwa pihaknya sudah mengikuti prosedur, baik kesehatan dan sebagainya untuk menjaga keselamatan juga ketenangan jemaahnya dalam beribadah.

“Tapi terus saja ada yang meninggal atau sakit parah,” ungkapnya.

Tetapi yang perlu dicatat adalah, Tarekat Naqsabandiyah Rejang Lebong diadakan selama dua gelombang. Gelombang pertama dimulai dari awal ramadhan dan berakhir pada sekitar tanggal 13 ramadhan. Sedangkan gelombang kedua dimulai pada tanggal 17 Ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.(**)

Penulis : Adhy Pratama Irianto, Rejang Lebong.

You may also like

Leave a Comment