oleh

Mengingat Kisah Uwais Al-Qarni ( I )

Di Negeri Yaman  ada seorang pemuda bermata biru. Rambutnya merah, bidang dadanya lapang panjang. Kulitnya kemerah-merahan. Pemuda ini terkenal shaleh. Dialah dalam sejarah Islam yang dikenal dengan nama  Uwais Al-Qarni.

Tubuhnya berpenyakit sopak. Belang-belang putih. Walaupun cacat, Uwais al-Qarni merupakan pemuda yang shaleh dan sangat berbakti kepadanya Emaknya yang sudah  tua yang lumpuh dan tidakpunya sanak family. Tapi Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Emaknya.

Pakaiannya hanya dua helai dan  lusuh untuk dikenakan. Orangpun tak menghiraukannya. Beliau tidak dikenal oleh penduduk bumi,  akan tetapi sangat terkenal di langit. Bila ia bersumpah demi Allah, pasti terkabul. Dia adalah Uwais al-Qarni.

Ketika hari wafatnya, Uwais menggemparkan penduduk Yaman sebelumnya tidak menghiraukannya. Banyak hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah dikenal masyarakat setempat. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakaman Uwais al-Qarni.

Berhaji dan Mendoakan  Emak

Pada suatu ketika, Emaknya meminta, “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu. Ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji”,  pinta Emaknya. Uwais sempat termanguh, menginggat perjalanan dari Yaman ke Mekkah sangatlah jauh. Melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan menuju Mekkah. Namun Uwais tida memiliki itu semua hingga dia menemukan jalan keluarnya.

Dasarnya adalah,  “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada Emak dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (Menghamburkan kekayaan)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Uwais dengan simpanan upahnya, dibelilah seeokar anak lembu. Lembu itu dibuatkan kandang di puncak bukit.  Maka setiap pagi beliau bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Tentunya ulah anehnya ini menjadi ceme’ehan masyarakat dengan ungkapan negatif terhadapnya.

Makin  hari lembu kian besar dan tenagapun makin terus terkuras. Namun rutinitas itu dilakukan Uwais hingga dirinya terbiasa melakukan itu

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais.

Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang Sudah besar,  berumur delapan bulan  itu tak terasa lagi. Hingga akhirnya tibalah musim Haji. Lembu kini  telah mencapai berat 100 Kg. Begitu juga dengan otot Uwais yang makin kekar akibat acapkali kuat mengangkat lembu. Akhirnya Tahu orang-orang maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia melatih tubuh untuk persiapan menggendong Emaknya dalam perjalanan jauh ke Mekkah.

Benar adanya, Uwais Al Qarni menggendong Emaknya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji. Ini merupakan kecintaan dan baktinya kepada Emak.

Uwais berjalan tegap menggendong Emaknya tawaf mengelilingi Ka’bah. Emak terharu dan berlinangan air mata didepan Baitullah. Di hadapan Ka’bah, Emak dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa Emak”, doa Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya Emaknya heran.

“Dengan terampunnya dosa Emak, maka Emak akan masuk surga. Cukuplah ridha dari Emak yang akan membawa aku ke surga”, jawab Uwais.

Penyakit belang-belang putih, sopaknya juga dihilangkan Allah SWT. Namun Uwais sempat berdoa, agar penyakitnya ditinggalkan sedikit saja di telapak tangannya sekira sebesar uang logam. Allah pun  mengabulkan. Tenyata inilah bukti apa yang dikabulkan, ditolak Allah sebuah doa, karena Allah  SWT lebih tahu apa yang terjadi di kemudian hari.

Saat melaksanakan Haji,  rupanya dua sahabat Nabi, Umar bin Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra, mencari pemuda dari Yaman ini seperti apa yang sudah di sampaikan Rasulllah.

Sahabat nabi mencari Uwais di sekitar Ka’bah. Karena Rasullah SAW berpesan,  “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman. Dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu. Carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia, minta tolong dia berdoa untuk kamu berdua”.

Siapakah Uwais Al Qorni itu?

Para sahabat Nabi Muhammad SAW saja disuruh meminta doa kepadanya. Padahal dalam kesehariannya, Uwais Al-Qarni menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari, mencaru upahan. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang dia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dirinya dan Emaknya.

Uwais Al-Qarni selain anak yang semenggah, taat kepada Emak dan taat beribadah, Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah.

Kesedihan hatinya hanya tatkala tahu dan melihat setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Keinginan itulah yang menganggunya.  Pada saat Perang Uhud, tersiar kabar Nabi Muhammad SAW mendapat cedera. Giginya Nabi patah, karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Mendengar itu, Uwais Al-Qarni segera menghantam giginya dengan batu hingga patah. Ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad SAW, sekalipun dirinya  belum pernah bertemu dengan kekasih Allah itu. Kerinduan kepada Nabi itu semakin hari kian mendalam. Harapan Uwais bertemu Nabi dan memandang wajah beliau dari dekat. Dia rindu mendengar suara Nabi. Kerinduannya karena iman. Tapi itu tak mungkin dilakukannya, mengingat kondisi Emaknya.

Kian memuncak, akhirnya kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati Emaknya, mengeluarkan isi hatinya, dia mohon ijin kepada Emaknya,  agar dirinya diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu. Mendengar  permohonan anaknya, Emak memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “Pergilah wahai Uwais, anakku. Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang”, pesan Emaknya

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan Emaknya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Persiapan  keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya disediakan. Jiran tetangga dipesankannya, agar dapat menemani ibunya selama dirinya pergi. Cium pada Emak menghantar keberangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Rekomendasi