oleh

Meninggalkan Kampung Halaman (1953-1960) (Bagian II)

Biografi Ichwan Yunus

Drs. Ichwan Yunus, CPA, MM.
Drs. Ichwan Yunus, CPA, MM.

Perjalanan Menuju Bengkulu

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Ichwan merasa alam pedesaan yang hidup dari hasil pertanian itu kurang bersahabat dengannya. Hal ini disadari Ichwan setelah hampir semua pekerjaan yang pernah dicobanya selalu saja tidak mcmperoleh hasil yang memuaskan. Kekecewaan demi kekecewaan itulah yang membuat Ichwan berniat untuk pergi ke Bengkulu melanjutkan sekolahnya jika kelak sudah tamat sekolah SD di kampung halamannya.

Kini saat yang dinanti-nantikan itu semakin dekat, karena tidak lama lagi ia harus berangkat ke Bengkulu untuk menempuh ujian akhir sekolah dasarnya. Setelah segala persiapan selesai, mulai dari bekal selama perjalanan, sedikit biaya hidup untuk beberapa lama di Bengkulu, sampai dengan persaratan  administratif untuk menempuh ujian akhir. Pada suatu hari,  Ichwan lupa tepat hari, tanggal dan bulan keberangkatan nya tahun 1953, untuk pertama kali nya ia meninggalkan kampung halaman menuju Bengkulu.  Walaupun kepergian Ichwan tidak disertai oleh orang tua atau saudaranya, tapi ia merasa senang. Ia  berangkat bersama-sama dengan 60 orang kawan sebaya dan seperjuangan. Salah satu dari mereka yang tertua ditunjuk sebagai kepala rombongan.

Jarak desa Mukomuko dan Bengkulu lebih kurang 300 km.  Jarak ini  ditempuh selama lebih kurang 7 hari, yang dibagi dalam dua tahapan perjalanan. Tahap pertama, dari Mukomuko ke Ketahun, ditempuh dengan berjalan kaki selama lebih kurang lima hari. Tahapan kedua adalah dari Ketahun sampai ke Bengkulu ditempuh, dengan menumpang mobil jenis truk selama kurang lebih dua hari. Perjalanan dari Mukomuko ke Ketahun sendiri biasanya dibagi dalam beberapa etape. Mukomuko-Bantal, Bantal–Ipuh, Ipuh-Air Rami,  Air Rami-Sebelat, dan Sebelat-Ketahun.

Etape ini dibuat bukan hanya karena perhitungan rasio antara jarak tempuh dengan daya tahan tubuh manusia berjalan kaki.  Untuk menempuh etape pertama dari Mukomuko ke Bantal, yang ada dibenak pejalan kaki selama menempuh etape ini hanyalah Bantal bukan Ipuh, Lais apalagi Bengkulu tidak beberapa lama kemudian hati mereka merasa lega karena sudah sampai ke Bantal. Selanjutnya untuk menumpu etape kedua, Bantal – Ipuh, mereka memulainya dengan semangat yang baru lagi menuju Ipuh, dan sampai ke Ipuh, begitulah seterusnya. Jika tidak dibagi lagi kedalam etape seperti tersebut, maka perjalanan selama 7 hari niscaya akan terasa capek, jenuh dan membosankan.

Perjalanan dari Mukomuko ke Ketahun hanya dilakukan pada pagi dan sore hari karena sepanjang perjalanan mereka melewati hutan belantara, menyeberangi banyak sungai besar dan kecil, hanya sesekali saja melewati perkampungan. Belum ada penerangan listrik sama sekali. Setiap malam tiba, rombongan mencari tempat yang aman untuk beristirahat dan mengingat, biasanya di kampung atau tempat yang tidak terlalu jauh dari perkampungan.

Pagi hari di saat fajar mulai menyingsing mereka melanjutkan perjalanan lagi siang hari pada saat perut sudah terasa lapar mereka berhenti untuk beristirahat sejenak dan makan siang.  Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi sampai malam hari tiba mereka beristirahat kembali begitulah seterusnya.  Sampai akhirnya hati mereka lega setelah memasuki desa Ketahun, karena perjalanan panjang mereka dangan berjalan kaki segera berakhir, dan selanjutnya mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bengkulu dengan  mengunakan mobil truk.

Selama perjalanan sebenarnya tidak ada peristiwa yang sanyat istimewa yang dialami Ichwan dan kawan-kawannya, tetapi yang jelas perjalanan selama 7 hari itu tentu saja sangat melelahkan. Akan tetapi karena dijalani dengan penuh suka cita, penuh canda ria dan tawa, serta semangat yang tinggi, Ichwan dan kawan-kawanya tidak begitu merasakan kelelahan yang berlebihan.

Peristiwa yang cukup unik, menyedihkan dan sekaligus menggelikan dalam perjalanan tersebut yang tidak bisa dilupakan Ichwan adalah ketika menyeberangi Sungai Air Bulu. Seperti biasanya sebelum menyeberangi sungai, di bawah komando ketua rombongan, mereka terlebih dahulu memperhatikan situasi dan kondisi sungai, di samping kedalaman sungai dan kederasan arus, mereka juga memperhatikan ketinggian ombak, karena mereka menyeberangi melewati bibir pantai.

Setelah semuanya  dipastikan aman untuk diseberangi, maka mulailah mereka menyeberang dengan berjalan kaki secara perlahan tapi pasti. Waktu itu kedalaman sungai sebatas lutut orang dewasa. Saat mereka sedang berada di tengah- tengah sungai, tiba-tiba datang arus besar dari hulu sungai menerpa mereka. Semuanya menjerit histeris, sambil berusaha bertahan dengan menghunjamkan jari-jari kaki atau tumit ke dalam pasir tempat mereka berpijak. Syukur mereka semua selamat sampai ke seberang, walaupun ada diantara mereka ada yang sempat terseret ombak. Yang jelas mereka semua basah kuyup, tubuh gemetar karena rasa dingin dan cemas. Tetapi semangat mereka tetap tinggi, dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan selama tujuh hari dari desa Mukomuko ke Bengkulu tergolong lambat jika diukur dengan perjalanan normal yang dilakukan oleh orang laki-laki dewasa. Lain halnya dengan perjalanan yang dilakukan oleh Ichwan dan kawan-kawannya, lambatnya pejalanan karena dua alasan. Pertama, karena banyak menyeberangi sungai-sungai besar dan kecil dengan media penyeberangan yang beragam. Ada yang menggunakan jembatan yang sangat sederhana, jembatan gantung yang bergoyang jika dititi. Jika tidak memiliki jembatan dan sungainya dalam, maka biasanya mengunakan rakit atau perahu. Jika sungainya dangkal, biasanya tidak mengunakan media, tapi cukup dengan menyingsingkan atau membuka celana panjang yang dikenakan sambil menjunjung tas atau barang bawaan di atas kepala. Ada juga tempat penyeberangan yang mengharuskan mereka antri atau bergiliran menyeberang karena keterbatasan media penyeberangan yang tersedia.

Kedua, kerena dalam rombongan Ichwan terdapat beberapa orang perempuan.  Walaupun sebenarnya Ichwan sendiri tidak setuju kalau para pejuang wanita yang menyertai mereka itu dikatakan penghambat perjalanan, justru kehadiran kaum hawa itu membawa spirit dan sekaligus penghibur dalam perjalanan.

Sebuah kenangan khusus Ichwan dalam perjalanan ini karena selalu di”tempel”i pelajar-pelajar wanita, (bukan dalam arti jalinan asmara).  Namun  mereka merasa aman kalau berdekatan dengan Ichwan. Mereka yang merasa aman karena Ichwan memiliki postur tubuh yang kecil, paling kecil dibandingkan dengan kawan-kawannya yang lain dalam rombongan perjalanan tersebut. Dengan postur tubuh yang kecil itu, teman-teman wanitanya menganggap dan cenderung melakukan Ichwan seperti anak kecil.

Anggapan mereka, tidak mungkin anak kecil seperti Ichwan akan berbuat hal-hal yang tidak wajar. Alasan lain menurut hemat Ichwan adalah kerena sifat familier dan penuh perhatian yang melekat dalam kepribadian Ichwan sendiri. Wajar mereka seolah mendapatkan perlindungan di sisi Ichwan, aman dari kemungkinan Ichwan berlaku tidak senonoh dan aman dari gangguan orang atau sesuatu yang membuat mereka takut. Demikian selama dalam perjalanan itu Ichwan selalu diapit oleh kawan lain jenisnya, terutama saat melintas di jalan hutan rimba yang sunyi sepi dan saat istirahat malam hari.

Setibanya di Bengkulu, Ichwan dan kawan-kawanya hanya beristirahat beberapa hari saja setelah menempuh perjalanan yang jauh yang melelahkan, karena saat ujian telah tiba. Setelah merampungkan ujian Ichwan bersama kawan-kawannya langsung pulang ke kampung halamannya karena bekal selama di Bengkulu sangat terbatas.

Sementara menunggu hasil ujian, Ichwan kembali melakukan aktivitasnya membantu pekerjaan orang tua sambil sesekali bermain bersama kawan sebayanya. Kurang lebih dua bulan setelah itu terdengarlah berita bahwa Ichwan masuk dalam nama-nama yang berhasil lulus ujian SR (SD). Mulailah Ichwan menyusun rencana dan persiapan kembali ke bengkulu untuk melanjutkan studinya.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis     : Khairuddin Wahid
Judul        : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit   : LPM Exsis
Cetakan    : 1, Januari 2010

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed